Eksis Romantis

Belakangan ini ada beberapa adek tingkat gue yang nanyain tentang “fenomena” yang mereka namakan eksis romantis. Ringkasnya sih eksis romantis itu adalah couple yang eksis di medsos dengan keromantisannya. Misalnya, foto berdua pake acara minum pertamax secangkir berdua, suap-suapan batu kerikil rica-rica, selca dengan pose muka bebek peking cabe ijo, de le le. Gue sebagai makhluk yang rada-rada nggak pedulian, sebenernya males banget mengomentari hal-hal yang nggak terlalu ada manfaat untuk keberlangsungan metabolisme sel di kulit wajah gue. Namun mereka keukeuh pengen tau pandangan gue tentang “fenomena” ini. Sebenernya biasa aja keleus, nggak usah disebut fenomena juga.

Maka daripada itu, berikut pernyataan sikap gue. Azeeeh.

  1. Eksis romantis adalah tindakan yang sebenernya terserah aja mau dilakukan sama orang. Apa urusannya sama gue dan temen-temen gue.
  2. Eksis romantis yang dilakukan oleh pasangan halal dan tidak halal tidaklah sama kedudukannya di pandangan gue.
  3. Eksis romantis adalah sesuatu yang tidak perlu dinyinyirin oleh yang melihat.
  4. Kita nggak perlu meraba-raba sotoy niat orang yang eksis romantis. Ada yang sekedar pengen share, ada yang emang pengen eksis, ada juga yang mungkin punya niat mulia dibalik itu semua, termasuk (mungkin nih ya) netralisir kampanye LGBT atau kampanye anti pacaran yang nggak bener.
  5. Kita tidak punya kendali atas semua yang dilakukan orang lain, namun kita punya kendali tentang bagaimana kita bereaksi terhadap sesuatu. Kita punya kendali atas apa yang kita lakukan, tapi kita tidak punya kendali bagaimana mereka akan bereaksi terhadap perbuatan kita. Mau Baper gegara lihat orang yang eksis romantis, ya wajar sih. Cuma apakah baper akan menjadi excuse buat elo elo pade garuk-garuk dinding rumah tetangga? no no no… Elo boleh eksis gimana aja, tapi tetep elo harus tau bahwa reaksi mereka nggak semuanya yang cucok sama pemikiran elo.
  6. Kita tidak punya kendali atas prinsip orang lain termasuk bagaimana mereka ber-sosialmedia. Yang lebih penting adalah kita punya prinsip agar dalam hidup ini harus punya prinsip. Hahaha. Ngomong opo toh nduk…
  7. Banyak chance untuk kita menyakiti orang lain, dari perkataan, perbuatan, dan dari penampakan. Hehe. Yang penting gini aja, kita kalo mau ngomen tentang orang harus mikir, apakah omongan kita bakal nyakitin mereka atau tidak. Bakal menghakimi atau tidak. Bakal sotoy atau tidak. Apa yang kita pakai bisa bikin orang jadi hasad atau tidak.
  8. Setiap orang akan dimintai pertanggungjawabannya nanti. Termasuk dari apa yang kita posting, apa yang kita nyinyiri, dan mereka yang kita sakiti.

Nah, berhubung anggota girls generation ada 8, jadi gue cukupkan sampai 8 poin saja. Nggak maksud nyinyir. Beneran. Gue mah tipe yang asik asik aja lihat orang eksis romantis ketimbang harus lihat tau-tau ada orang tusuk-tusukan pake golok di sosmed. Iyuwh. Terlebih kalo yang eksis romantis adalah orang yang gue kenal, bisa jadi sign bahwa mereka bahagia. Dan bagi gue itu adalah good news. Ihir… Kalo ujungnya gue jadi baper, itu mah derita gue. Wkwkwk. Namun yang juga perlu diingat adalah, konsekuensi ketika kehidupan pribadi sedikit dilonggarkan menjadi konsumsi publik, kita juga harus siap bahwa di dunia ini manusia banyak macemnya. Ada pro, ada kontra. Daripada ribet mikirin pro dan kontra, ya jalani aja apa yang menurut elo bener dan tentunya harus dipastiin bahwa yang elo lakukan sekarang di dunia, nggak nambah-nambahin dosa dan bikin Allah murka.

 

 

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s