Romance without romance

Hampir 4 bulan sudah gue punya pacar. Azeeeeeh. Icikiwir. Ngetik ini aja gue langsung berasa mules.
Banyak yang nanyain kenapa gue nggak pernah reveal, terutama di sosmed, siapakah pria yang mereka sinyalir khilaf dan bermata picek sehingga mau nikah sama gue. Kadang punya temen pada somplak emang harus banyak nelen gondok.
Kalo gue lihat orang-orang sih y, bisa banget gitu kemana2 selfie bareng pasangan. Lah gue ama dia, boro2 selfie, mikir mau foto bareng aja kagak. Malah lebih suka jepret pemandangan gitu kalo lagi hang out. Dan jauh banget deh ah dari yang namanya posting lagi bareng di sosmed. Gue tadinya khawatir kalau dia ngerasa gue nggak bangga bersuamikan dia karena nggak pernah gue display. Tapi ternyata kita punya pemikiran yang sama bahwa kita nggak perlu ikut-ikutan show off kehidupan pribadi secara membabi buta. Kasihan babinya buta.
Dari jamannya single, meskipun gue suka tersirep romantisme drama korea, gue nggak terlalu ngarep bakalan rekonstruksi scene drakor di kehidupan nyata.
Panggilan juga, my romance’s totally normal. Pernah dia ditanyain temennya manggil gue apa, dengan bercanda dijawabnya “humairoh”. Doeeeeeng. Jempol kaki gue mendadak meringkel terus dalam hati gue bereaksi “what???”
Pengen ngakak tapi tidak memungkinkan.
Ada juga beberapa orang dekat yang bilang kalo pose kita di album pascawedding terlihat so sweet. Hahai. Mereka nggak tau aja kalo itu karena gue berusaha profesional dan sekaligus karena gue follow IG alyssa soebandono dan dude harlino, makanya gua jadi nyontek gaya mereka kalo lagi foto couple. Aslinya, gue lebih gampang pake gaya foto senyum tiga jari dan itu nggak mungkin gue lakukan saat itu karena gue fotonya bareng Mr. Stranger (back then). Jaim lah gue akhirnya.
Adakalanya juga saat dia manggil gue pake embel-embel yang emang so sweet sih, tapi gue bersikap biasa aja padahal dalem hati “uhuy…..”. Hahahaha. Doh…
Ini juga gue tulis dimari gegara dia juga nggak pernah tertarik tau apa yang gue tulis di blog. Palingan juga kalopun akhirnya dia baca tulisan yang ini, ya mungkin nih ya gegara ada yang laporan ke dia. Hehe.
Setelah gue telaah, baik ortu gue maupun mertua, mereka pasangan yang juga nggak terlihat “romance”-nya. Orang tua gue mana pernah pake panggilan ayang-ayangan. Eaaaaaa. Namun bukan berarti nggak saling care. Dan bagi gue caring each other itu nggak harus terejawantahkan dalam bentuk panggilan yang percuma jika hanya manis di bibir memutar kata malah kau tuduh akulah segala penyebabnyaaaaaa…
More than words to show you feel that your love for me is real.
Ya bagus kalo ada yang so sweet banget gt romantis teroooos.
Tapi gue nggak akan maksa harus gitu juga Dan juga nggak akan jadikan itu sebagai parameter.
Terlebih jika semua itu harus dibagikan. Beberapa waktu yang lalu dia dapet “challenge” di sosmed untuk posting foto bareng pasangan. Kita cuma ketawa aja.
Mungkin emang kita tipenya yang belum sampe level se-comfort itu untuk berbagi suka di dunia maya.
Ya gitu deh…

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s