Another toxic life

Tugas negara yg sedang gue emban membuat gue harus akrab dengan dering handphone. Sengaja banget nomor yang intens bunyi-bunyi ini gue sematkan di hape nokiem tipe jaman dulu yg meski bukan smart, bandelnya lumayan banget. Baterai awet, gue charging palingan setelah tiga hari pakai. Kalau nggak sengaja jatuh dari lantai 2, gua nggak terlalu histeris.
Aktifnya hape ini udah keterlaluan. Tiap pagi selaluuuu ada SMS dari operator. Bener-bener mengganggu. Pernah suatu ketika juga ada SMS masuk tengah malam. Asli gue refleks terbangun dari tidur cantik gue. Dan ternyata apa coba isinya “pemakaian pulsa anda Rp 50.300….” bla bla bla.
Ada juga kejadiannya gue bener-bener lagi konsentrasi, ada dua sms masuk bertubi-tubi. Buru-buru gue ambil hape karena mikirnya pesan penting. Ternyata keduanya dari operator dan dua-duanya iklan. Sebangsa gue adalah naga, mungkin gue udah terbang ke tower operator itu terus gue hembus pake hawa naga gue. Ulah operator yang too much ini gue juga nggak bisa bertindak. Ini prabayar yang tarifnya udah segitu ya makanya banyak iklan. Yang pascabayar aja udah lah tarifnya agak gimana gitu aja masih rutin sms promo tiap pukul 09.01 pagi.
Pernah juga gue ditelpon operator di saat gue lagi sibuk kerja. Hari senin, jam 11 pagi, adalah waktu paling hectic di hari kerja gue. Dan operator itu nelpon nawarin program tanpa babibu. Sorry aja langsung gue cut “maaf mas, saya sedang bekerja”. Pernah juga gue ditelpon sama salah satu lembaga zakat nasional, karena gue nggak enak mengakhiri pembicaraan, gue sampe narok hape di selipan pipi dan jilbab. Abis itu kuping gue hangat.
Selebihnya, sms dan telpon di handphone hectic ini adalah dari mereka yang mewarnai hari-hari gue. Ada yang biasa aja, ada juga yang luar biasa. Senang, sedih, suka, duka, tawa, tangis, bahagia, murka. Semua ada di handphone ini.
Gue sih selalu belajar menata agar gue tetap composed karena semua itu bagian dari jihad gue.
Dan agar tidak mengganggu, biasanya ini hape gue nonaktifkan di weekend, dan saat malam hari di jam 9 malam.
Namun, barusan, yang menjadi pencetus kenapa gue jadi bikin postingan ini adalah, kejadian yang membuat gue menggaruk dinding.
Saat gue lagi bersih-bersih, ada telpon masuk. Karena di saat azan isya, gue nggak angkat karena gue beranggapan.kalau penting banget, pasti nelpon lagi. Ternyata beneran ditelpon lagi. Panggilan kedua ini gue angkat. Gue pikir penting banget. Sumpeh.
Setelah gue angkat, yang di seberang sana nanya apakah gue sehat. Oke gue jawab. Lalu gue tanya “ada yg bisa dibantu pak?” Ternyata jawabannya “oh, nggak..cuma mau nanya kabar aja apakah adek sehat.” Sebangsa nggak inget sopan santun, mungkin udah tutup telpon dengan judes. Tapi ya gue tanggapin “saya kira ada pasien atau siapa gitu masuk rumah sakit pak”. Dijawabnya lagi “nggak.. Cuma nanya kabar adek aja. Boleh kan.” Bener-bener deh ah. Gue tutup telpon dengan alasan mau sholat isya.
Ada juga sih ceritanya di telpon di jam.kerja. Ini juga gue pikir telpon dari rakyat indonesia raya yang membutuhkan bantuan ramah tanggap informatif. Dengan gaya operator gue angkat telpon “ada yang bisa dibantu?”. Awalnya si penelepon bertanya gue sedang ada di mana. Kebetulan saat itu gue sedang tugas ke luar kota. Gue jawab aja gue lagi dimana. Terus kembali gue tanya apa ada yang bisa gue bantu. Jawabannya adalah… “nggak..cuma mau kenalan aja.” Saat itu rontok sudah self-compose gue. Gue jawab “maaf pak, saya sedang bekerja”. Mungkin dia kira gue seperti pegawai lain yang bisa banget leyeh-leyeh ngobrol kopi darat gitu di jam kerja.
Sering juga mereka yang udah ngerasa kenal sama gue, jadi dikit-dikit nelpon, dikit-dikit menghubungi gue. Dari yang emang urgen, sampe sekedar nanya adult diaper belinya dimana. Mending kalau waktunya emang pas. Ini nelpon yang nggak terlalu penting di saat azan maghrib, azan isya, jam tidur.
Ada kalanya gue pengen menjauh dari ini semua. Nggak mau rajin angkat telpon. Nggak menjawab sms. Tapi gue pikir lagi, dari semua yang menghubungi gue, juga nggak semuanya yang nggak penting. Ada juga yang urgen meskipun yang gue rasakan adalah banyak yang nggak pentingnya. Gue juga nggak pengen orang yang nggak bersalah malah jadi korban kejengahan gue yang disebabkan oleh orang lain.
So, yo wes lah. Gue maklum aja.
Mohon maaf lahir dan batin.

4 thoughts on “Another toxic life

  1. haha…. sakik paruik wak galak..
    orang dengan tugas yang sama pernah lo di ruangan wak sedang karajo.. tiok sabanta babunyi telponnyo.. tapi yo alun ado wak dangan nanyo kaba lae.. rato2 merarabo sadoe..
    termasuk awak kadang…hahaa

    selamat bertugaslah kalau gitu.. wkwk

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s