Ebola

Kemarin sore handphone gue tiba-tiba force closed semua aplikasi, kemudian mati sendiri. Setelah gue start lagi, terjadilah hal yang gue ketahui dari hasil join grup smartphone sejenis di sosmed. Dia terkena ebola. Dan gue nggak tau kudu gimana. Dalam hati gue udah pasrah bahwa gue kehilangan history chat yang bener-bener bersejarah bagi gue selama tiga tahun belakangan. Gue bawa deh ke tempat reparasi handphone. Dia harus dirawat inap. Akan di flash ulang. Ya sudahlah. Gue bener-bener pasrah.
Gue bukan orang yang addict terhadap smartphone, tapi gue butuh untuk urusan kerjaan. Terbukti pagi ini gue ketinggalan info bahwa besok gue ada agenda dan sebenernya undangannya udah dikasih kemaren sore namun tidak gue terima karena dikirimnya lewat telegram yang online-nya cuma di smartphone gue.

Mungkin ini yang namanya takdir. Mau kemana dan gimana aja, bakalan bersama juga.
Kemaren gue membawa pulang smartphone baru. Yang sampe saat ini masih asing di tangan gue. Setelah gue kesulitan karena smartphone gue yang lama kameranya rada-rada bikin naik tensi saking blurnya, gue berniat menggaet yang baru. Namun Allah belum kasih kesempatan. Di kala duitnya ada, ternyata gue punya prioritas yang jaaaaauh lebih penting ketimbang beli kebutuhan tersier smartphone baru. Dan gue jadi nggak pengen lagi. Berbulan-bulan kemudian, terjadilah tragedi ebola. Mengharuskan gue mengambi tindakan emergency untuk resureksi smartphone gue dan menjadi sebab saat ini gue kudu belajar lagi pake hape yang berbeda.

Dan gue merindukan si dia yang sedang dirawat inap. Meskipun secara usia dan spek, si dia jauh ketinggalan zaman, tapi gue respek sama dia yang gue dapatkan dengan penuh perjuangan. Dan harus mati begitu saja karena ebola yang nggak tau darimana juntrungannya.

Virus ebola (in term gadget; bukan ebola yang menyerang manusia) gue ketahui memang marak menyerang sony xperia M. Saat gue baca tentangnya, gue pikir virus begini akan menyerang gadget yang sering main games online, udah di root, sosmed-an, download dari web sana sini, banyak muncul ad. Kebanyakan ya ebola terjadi tanpa tanda-tanda gejala apalagi kode keras. Dan gue sedikit lega karena gue bukan pengguna smartphone yang eksploratif seperti itu. Gue adalah user lugu. Namun ceritanya berbeda. Terjadilah yang gue baca. Katanya sih harus di flash, harus dibawa ke service center, dan sampe yang nggak bisa diapa-apain lagi alias harus diparkir jadi talenan. Sebelum vonis mati, gue berusaha untuk flash firmware dengan membawanya ke tempat reparasi handphone yang bernama “Jomblo Ponsel”. Gue dulu ngerasa tersindir saat lewat sana. Kenapa pedes banget namanya.

Saatnya gue kembali berdamai dengan keadaan. Terutama keadaan yang gue cuma bisa nerima dan nggak terlalu banyak chance untuk ngapa-ngapain. Gue nggak harus nangis gerung-gerung.

Ada banyak hal dalam hidup ini yang gue nggak bisa kendalikan. Se-hati-hati apapun gue. Se-perfect apapun langkah gue. Termasuk gue harus kehilangan database di PC kerja gue hari ini. Data yang gue kerjain kemaren, ternyata lenyap tanpa jejak. Tapi ya sudahlah. Ini gue lagi berusaha sama IT Helpdesk yang bener-bener help gue banget. Kalaupun setelah usaha ternyata tidak berhasil, ya gue akan ulang lagi kerjaan gue kemaren. Gue nggak mau ngedumel. Toh nggak jadi solusi juga. Saatnya gue berdamai dengan keadaan. Biar gue juga nggak cepet tuir.

By the way, it’s been a while since my last posting. Ada banyak cerita sebenernya, tapi gue juga lagi belajar menyaring apa yang harus dan nggak harus gue bagi ke banyak orang.
I’m happy anyway.

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s