Masakan uwak

Tinggal di lingkungan heterogen membuat gue selektif dalam memilih makanan. Gue lebih sering beli makanan di luar ketimbang masak karena kalau masak untuk sendirian mah tanggung. Kalau gue masak nasi, satu cup beras itu bisa untuk lima kali makan. Kekadang sampe nasinya udah kering kelamaan di magic com. Maklum masih jomblo. Jadi masaknya dikit-dikit.
Tapi bukannya gampang juga hati dan selera gue memilih tempat makan. 
Di sini yang namanya 2 hewan yang diharamkan dijual bebas. Dan selalu membuat gue waspada memilih menu dan tempat makan agar terhindar dari makanan yang nggak halal dan nggak thoyyib.
Sempat di satu masa gue paranoid banget. Untuk cari makan, gue harus berjalan hingga satu kilometer untuk menemukan tempat makan yang tepat.
Tempat yang pas bagi gue adalah yang menjual menu halal dan tidak menjual makanan yang tidak halal. Kemudian, bersih. Dan selanjutnya, enak. Lalu, murah. Dan tidak lupa, porsinya cocok. Hehehe.
Dan gue selalu berkeyakinan Allah melindungi gue dari menelan yang tidak halal.
Beberapa bulan belakangan, ada warung yang sudah pas di hati dan di lidah. Dan kemudian gue mendengar cerita bahwa si owner (bukan yang biasanya jualan) yang notabene pemakan pork, memasak daging di kuali warung itu. Huaaaaa… Dan tidak jelas dagingnya itu daging apaan. Sapi atau pork. Hiks. Karena nggak punya kesempatan untuk klarifikasi, plus khawatir ada yang tersinggung, gue bersiap dengan kemungkinan terburuk bahwa kuali itu sudah ternodai dengan you-know-what. Dan nelangsa lah gue selama beberapa hari karena bingung mau lunch dimana. Beberapa kali gue siasati dengan mencari makan di tempat yang rada jauh dari lokasi nemplok gue, dan harganya nggak semiring warung itu.
Tapi sebenernya gue kehilangan taste. Uwak yang masak menu (halal only) di warung itu, masaknya penuh passion. Orangnya juga baik ke gue. Kalau gue order telur dadar, selalu yang perfect cooked dan udah tau selera gue gimana
Terus terang aja gue juga kangen sama ayam gorengnya.
Daaaan misteri terjawab sudah hari ini. Ada temen gue yang nanyain daging apa sebenarnya yang dimasak owner warung hari itu, dan katanya daging sapi. Gue sempet mikir apa itu jawaban jujur. Dan berhubung urusan jujur nggak jujur adalah urusan manusia dengan Allah, gue putuskan untuk percaya apa yang gue dengar dan hari ini gue akan icip lagi masakan uwak.
Hore…
Juga gue berharap kalau Allah akan selalu mengarahkan gue agar terhindari dari yang tidak halal.

2 thoughts on “Masakan uwak

  1. Cie yang sebentar lagi udah ga jomblo, ingat yang penting kalau masak nasi harus lebih banyak dari biasa, si Dia banyak makan 😀

    Barakallah Dian, semoga semua persiapannya dimudahkan dan dilancarkan

    1. Hahahha.. Ondeh daaa.. Yang part itu ya yg d highlight..
      Aaammmiiin… Makasi daa.. Datanglah daaa.. Jogjes-PLB kan deket..

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s