Efek Trailer AADC 2

Tadi gue kepoin trailer film ada apa dengan cinta 2. Salah satu sequel yang ditunggu oleh penggemar film indonesia, terutama yang dulu udah nonton AADC tahun 2002 dan yang sekarang mungkin aja penggemarnya udah nambah mulai dari penggemar baru maupun penggemar lama yang terdiri dari mereka yang baru kena cinta monyet, mereka yang mengalami cinta tak sampai, mereka yang ngerasa senasib sepenanggungan dengan tokoh cinta di AADC, yang terlalu bawa perasaan, yang baru ngeh kalau pernah ada film AADC di Indonesia karena tahun 2002 dia baru lahir, murni fans dian sastro atau nicholas saputra, serta yang kangen sama masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah. Ihir…
Yang jadi beban dari sequel film ini adalah karena tingginya ekspektasi penonton. Film ini kudu mengemas kelanjutan cinta yang digantung 14 tahun dengan jalan cerita yang nggak bikin penonton bete. Sayangnya, setiap orang bisa jadi sudah punya kepengenan ini endingnya harus gimana. Ada yang bilang cinta sama rangga harus balikan lagi dan hidup bersama bahagia selamanya, ada yang bilang rangga dan cinta udah move on semua, sampe ada yang becanda memasukkan tokoh “indraguna sutowo” yang udah married sama cinta dan bikin rangga merana dan memutuskan untuk membuat komplek perumahan seperti candi prambanan dalam satu malam. Halah… Apaan sih.
Ekspektasi, mulai dari yang objektif, rasional, dan terukur hingga yang subjektif, absurd, abstrak, ngaco, lebay dan alay tentunya membuat tim produksi mencari formula yang paling pas untuk menjawab pertanyaan kemana aja si rangga setelah 168 purnama.
Saat gue kepoin trailernya, ada narasi puisi yang dibacain oleh aa’ nicholas. Suaranya sih bagus, kata-kata puisinya puitis. Tapi gue ngak ngerti. Beneran. Gue bukan tipe orang yang bisa dengan gampang nyambung-nyambungin kata-kata di puisi dan mencerna maksudnya apa. Kayak puisi yang dulu aja, “ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih”. Beneran gue nggak ngerti maksudnya apa. Abis itu dia bilang “kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera”. Toeeeng.
Bisa aja disebut dengan ala-ala puitis romantis gitu. Tapi kekadang ada kata-kata puisi yang malah ujungnya bikin gue butuh penjelasan untuk paham.
Sebenernya kalau ada stok semacam nicholas saputra ngebacain puisi di depan gue, gue bisa bilang “owh..so sweet..” meskipun gue nggak ngerti apa yang dibilangnya. Hahaha.
Dulu gue punya temen sekelas yang entah kenapa tampilannya 11-20 sama bang nicholas saputra. Tinggi, rambutnya kriwil, sipit, dan kemana-mana menenteng buku yang judulnya “AKU”. Saat itu 2004. Kalau istirahat, dia entar melipir ke dinding, berdiri bersandar, terus angkat kakinya satu, telapak kakinya ke dinding (ini bikin kotor dinding sekolah nih). Gue langsung ngeh kalau ini cosplay-nya rangga nih. Ciyeeeeeh. Sampe-sampe dia juga nyari pacar yang 11-20 sama cinta. Rambut panjang. Dan bukan gue lho ya. Peruntungan percintamonyetan gue saat SMA redup bo’.
Begitu ber-efeknya AADC di kehidupan remaja indonesia masa lalu dan masa kini.
Kalau menurut gue sih ya, karena cerita di AADC itu emang terjadi di dunia remaja. Bukan soal punya gebetan yang ke newyork terus bilang akan kembali dalam satu purnama ya… Tapi yang bagian sering kali kita nggak jujur sama perasaan sendiri. Emang nggak semua cinta baik untuk diungkapkan, terutama dengan cara yang salah dan saat waktu belum tepat. Tapi at least, harusnya orang-orang bisa jujur sama perasaan. Suka ya suka. Nggak ya nggak. Jangan sampe di depan bilang nggak suka, tapi di belakang bilang suka; atau yang lebih muka duabelas, di depan bilang baik, eeeeh dibelakang digunjingin. Itu namanya manis di bibir memutar kata malah kau tuduh akulah segala penyebabnya.
Udah gitu, seharusnya jadi orang itu tegas. Kalau suka sama orang, capcus bilang ke ortunya. Bukan digantung.
Gue inget banget temen gue bilang “cinta itu tidak seperti harta karun, siapa yang menemukannya dia akan memilikimya. Tapi cinta itu seperti jemuran, gantung aja lama-lama, maka dia akan diambil orang.”. Kurang lebih gitu deh redaksinya. Ya bener banget. Jemuran kalau digantung lama-lama, terutama di kosan, udah deh, bisa ilang atau mungkin terlantar jadi jemuran tak bertuan. Makanya jangan suka ngegantung anak orang. Yang digantung nggak enak cin. Lah ini juga yang digantung, mungkin ada baiknya ambil gunting sendiri terus putusin tali yang menggantung. Masih banyak yang lebih jelas di luar sanahhh ketimbang nungguin rangga yang udah hilang 168 purnama. Haahahaha.
Ya mungkin aja si cinta bisa luluh gegeara rangga bilang dengan puitisnya kalau dia kembali “untuk memilikimu sekali lagi”. Gue ngebayangin aja cinta bisa bilang “maksud lho? Elo tuh cuma mau nyakitin perasaan gue aja tau nggak”.
Gokil. Gue bisa bikin postingan gegara trailer seuprit doang.
Ya intinya wahai para pemuda yang hobinya ngegantung, cepatlah angkat tuh jemuran…

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s