Stress Reliever

Apakah gue stres? Hahaha. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, life is never flat. Kenyataan ini berpotensi seseorang mengalami stres, baik itu karena faktor internal maupun eksternal. Hadeeeeh. Mulai deh bahasa serius. Oke. Agar tulisan ini tidak menjadi artikel yang menyerupai literatur sosiologi, gue hanya akan bercerita bagaimana gue berusaha berdamai dengan stres.

Secara alamiah, gue berusaha banget menghindari yang namanya stres. Kalau ada sesuatu yang secara analisa gue udah bakalan menimbulkan stres, gue akan hindari. Contohnya aja pas tau ada video curhatan mulan jameela dengan deddy corbuzier, gue yakin aja itu pembahasan hanya akan menambah informasi nggak penting yang ngabisin waktu gue dan bikin gue makin heran dengan manusia yang ujung-ujungnya gue stres sendiri. Makanya males banget gue ngeklik itu video. Misalnya lagi ada kumpulan ibu-ibu rumpi yang ngebahas sinetron tukang bubur naik haji nggak habis-habis dan bernostalgia tentang sinetron tersanjung dari satu sampe enam, gue bakal melipir jauh-jauh daripada ngedengerin obrolan yang tentunya kesimpulannya ya bukan urusan gue. Stress avoiding lah. Hindari hal-hal yang bikin gue stres, termasuk kenapa gue putusin para pacar semasa cinta monyet SMP dulu. Hahahah.

Namun, berhubung life is never flat, sering kali gue nggak bisa menghindari yang namanya pencetus stres. Sebenernya kalo dipikir-pikir bukan keseharian yang bikin stres. Keseharian gue cuma rada menguras energi yang membuat kelelahan. Nah karena kelelahan inilah kadang sesuatu yang sebenernya bukan masalah besar malah jadi bikin gue stres, rungsing, resah, gelisah. Persis kayak bayi yang bisanya cuma merengek atau nangis tapi nggak jelas kenapa dan maunya apa. Tanda-tanda gue mulai stres adalah kalo gue tiba-tiba jadi pendiem tidak biasa, susah memilih kata-kata kalo mau cerita, dan serasa mau mewek tapi nggak bisa-bisa. Pada titik stres itulah gue ngerasa bingung sama kepribadian gue sendiri. Kalau levelnya masih level beginner, intermediate, bisalah hanya dianggap sekedar remah-remah roti khong ghuan; nggak ngaruh dengan aktivitas. Tapi gimana kalo levelnya udah stadium lanjut, seketika gue berubah jadi seperti sadness di film inside out. Tentunya hal ini akan menjadi bom waktu bagi gue kalau ditahan-tahan. Lama-lama gue mikir, gimana caranya gue bisa menghindari efek buruk dari stres. Secepetnya gue harus cari reliever. Gimana caranya? Ini cara gue sih. Masing-masing orang bisa beda caranya, tergantung kepribadian juga. Namun satu hal yang pasti adalah, jangan pernah nahan stres sendiri. Bisa bahaya untuk kesehatan jiwa raga.

Stress reliever gue yang pertama adalah dengan menyanyi. Ini kadang gue lakukan kalau gue lagi stres tapi nggak terlalu parah gimana gitu. Sebenernya belum tepat kalo disebut stres; mungkin semacam gundah. Azeeeh. Dengan menyanyi, gue menemukan cara yang berbeda untuk mengungkapkan isi hati. Dengan menyanyi, apalagi kalau lirik lagunya pas, gue ngerasa bisa meng-audiovisual-kan hati gue persis laptop yang dicolok ke proyektor. Meski suara gue 11-12 dengan kaleng khong ghuan isi rengginang, tapi gue sering berhasil kembali bersemangat setelah melakukan cara ini. Sing my heart out, sing my mind out. Gue seperti bercerita dengan diri gue sendiri saat mendengar suara gue.

Cara kedua adalah dengan menulis. Menulis pendek di tissue atau di block note ataupun yang rada panjang di word atau posting blog begini. Seringkali gue mengalami keterbatasan dalam berkata-kata. Gue kesulitan memilih vocabulary yang tepat. Adakalanya gue baru bisa mendapatkan kata yang tepat dengan bahasa selain bahasa indonesia. Bisa dengan bahasa inggris, korea, jerman, arab, sampe bahasa alay dan bahasa kalbu. Tapi menulis rada jarang gue lakukan karena mood swing. Selain itu juga gue agak mengendalikan diri dari menulis sesuatu di kala gue lagi “burning” atau emosi tak terkendali. Gampang banget mengeluarkan kata-kata misalnya di status sosmed tapi kalau lagi emosi ya gue nggak sempet menimbang after-effect-nya; mungkin ada yang tersinggung, merasa disinggung, hati yang tersakiti, atau apalah; padahal sebenernya bukan begitu maksudnya; dan tentunya gue nggak punya energi untuk masalah baru yang bernama miscomm. Meski demikian, dengan menulis gue berkesempatan menguras isi otak yang nggak harus disimpen sendiri, terutama di saat gue nggak punya teman ngobrol langsung, atau di saat gue mencari sarana untuk menyampaikan sesuatu yang nggak bisa gue sampaikan secara lisan.

Cara ketiga adalah dengan menggambar dan mewarnai. Gue suka menggambar, tapi gambaran gue nggak bagus. Nilai menggambar paling bagus gue dapet 80 saat menggambar peta Benua Afrika untuk pelajaran geografi. Selebihnya ya sedang-sedang saja. Kalau lihat sesuatu atau memikirkan desain, gue punya gambaran detail di pikiran gue. Tapi saat gue pengen visualisasi yang ada di pikiran gue dengan menggambar, rada lelet dan nggak pas jadinya. Haha. Ada juga gue pernah menggambar sesuatu yang hasilnya rada mirip objeknya (menurut gue dan emak gue), tapi itu gue lakukan dengan sangat perlahan, hati-hati. Daripada dengan menggambar gue makin stres, gue jadi lebih tertarik dengan mewarnai. Setelah gue menggeluti hobi ini, gue ngerasa mood swing akibat stres gue ter-ejawantahkan melalui komposisi warna yang gue torehkan di buku mewarnai. Hehe. Saat mewarnai, gue nggak mikirin pressure.

Cara keempat adalah dengan membaca. Jenis literatur yang gue suka adalah komik. Doraemon, detektif conan, chibi maruko chan, ninja hattori, de el el. Bukan yang terlalu berat semacam davinci code, inferno, sherlock holmes, pride and prejudice. Gue suka yang bergenre humor semacam anak kos dodol all series. Tapi ada juga koleksi novel gue yang rada serius. Dengan membaca ge serasa masuk ke dimensi imajinasi gue sendiri. Saat membaca, gue bisa membayangkan karakter tokoh dan latar belakang cerita dan menyingkirkan jauh-jauh kerungsingan akibat stres yang sebenernya nggak perlu disimpen lama-lama dalam hati dan otak. Membaca juga membuat gue dapet wawasan baru. Dapet banyak kosakata baru. Dapet banyak analogi baru. Dapet banyak motivasi baru.
Ada satu kitab yang kalau gue baca, isinya itu selalu ngena sama perasaan dan suasana hati gue. Pas dibaca di kala sutris, gue serasa dinasehati lewat bacaan itu. Kalau misal gue lagi ngerasa kesepian, entar di bacaan itu gue ngerasa diingetin lagi kalau ada yang nggak pernah ninggalin gue, ada yang kalau gue cerita pasti didengerin, ada yang kalau gue sendirian pasti nggak pernah ditinggalin. Serasa ngebaca surat cinta gitu deh.

Cara kelima adalah berbicara. Ngomong. Biasanya kalau lagi rapuh (ihiiiir…), bisa campur mewek juga ini. Heehhehe. I’m a woman after all. Crying out lebih baik dari crying in. Daripada gue terlihat rigid di luar tapi tercabik-cabik di dalam terus lama-lama membusuk sendiri, mendingan gue ngomong (plus bonus mewek kalau perlu). Ungkapkan apa yang ada di hati. Bisa monolog alias ngomong sendiri. Kalau mau monolog mendingan dilakukan di rumah atau saat sendirian. Kalau sampe monolog pas lagi di angkot, bisa dikira rada-rada you know what I mean atau dikira anak indigo yang bisa lihat you know who. Bisa juga dialog, curhat sama orang yang dipercayai; ortu, sahabat. Dan dialog dengan The Creator of Human being. Ada kalanya manusia nggak bisa dipercaya, tapi Allah nggak bakalan ngebully kalau kita curhat.

Berhubung pancasila ada lima, stress reliever ala-ala remaja labil ini gue cukupkan sampai lima cara. Ya tergantung sama kepribadian dan kondisi ekonomi juga lah ya. Ada yang ngilangin stres dengan belanja, ada yang dengan makan, ada juga yang dengan liburan. Tapi intinya, jangan pernah abaikan kebutuhan jiwa. Jangan biarin jauh dari “gravitasi” yang membuat hidup sesak.

Mengutip lirik dari lagu favorit gue nomor 31, Takdir by Opick:
“bila mungkin hidup hampa dirasa, mungkinkah hati merindukan Dia, karena hanya dengan-Nya hati tenang, damai jiwa dan raga”.

Mengutip terjemahan Alqur’an surat Ar Ra’d ayat 27-29,
“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?’. Katakanlah, Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk orang yang bertobat kepada-Nya, yaitu orang-orang yang beriman dan ahti mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik”.

And you are not alone.
Insya Allah.

 

 

 

 

 

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s