Helps of Allah

Gue baru move on dari patah hati.
Beberapa hari yang lalu hati gue serasa patah. Sakit banget. Sedih.
Kisah singkatnya begini.
Di suatu pagi di tempat gue berkarir, gue ketemu pasien yang mau membuat jaminan berobat untuk anaknya yang dirawat inap di rumah sakit. Gue cek kartu “asuransi”-nya, KTP ibu itu dan kartu keluarga. Sepertinya Allah memberi tanda bahwa ada yang aneh dengan kartu-kartu ini. Gue amati, foto di KTP ibu tadi sama sekali tidak mirip dengan ibu yang datang.
Gue pastikan dengan menanyakan namanya. Nama yang beliau sebutkan sama dengan yang di KTP, tapi kenapa mukanya beda. Gue merasa ada yang aneh. Nggak biasanya gue curiga mendalam begitu. Gue tanya kok mukanya beda, sang ibu menjawab “iya, ibu kurusan.”. Hmmm? Nggak mungkin pikir gue, karena beda banget, kecuali ibu itu barusan make over atau operasi plastik. Beneran beda. Terus gue tanya ke anaknya, yang ikut dengan ibunya ini, anak laki-laki. Gue tanya namanya siapa. Si ibu menjawab nama anak laki-lakinya. Persis ada di kartu keluarga. Oke. Lalu gue tanya lagi, si adek kelas berapa. Dijawabnya kelas 1 SMP. Lagi-lagi yang menjawab adalah ibunya. Si anak laki-laki diam saja dengan ekspresi (menurut gue) heran. Yang gue lihat di kartu keluarga, nama anak laki-laki yang disebutkannya tadi kelahiran tahun 2008, artinya di tahun 2015 ini baru 7 tahun, dan kecuali dia udah masuk SD dari sejak lahir, nggak mungkin udah kelas 1 SMP.
Kemudian gue dekati si ibu dan gue mulai pasang tatapan mata tegas gue. Gue minta kejujuran si ibu, apakah benar kartu asuransi itu benar miliknya. Si ibu tetap pada jawaban “iya, itu punya saya. Betul.”. Di saat itu gue langsung pasang ekspresi lebih lugas lagi. Gue tanya lagi, gue berusaha agar omongan gue menyentuh hatinya. Gue sampaikan kalau gue yakin itu kartu bukan milik beliau. Dan gue berusaha meyakinkan kalo beliau mau jujur, ada cara agar gue bisa bantu beliau untuk tetap bisa berobat “gratis”. Alhamdulillah, si ibu kemudian mengaku bahwa beliau menggunakan kartu orang lain. Dengan terpaksa kartu itu gue tahan. Kemudian gue sampaikan caranya agar si ibu bisa mengurus kartu berobat yang saya maksudkan tadi.
Gue jelaskan ke suaminya, sampe gue buat note, step by step agar beliau tidak bingung. Beliau mengerti. Dan langsung pergi mengurus kartu.
Seperti ada perasaan janggal, gue khawatir sama beliau. Kemudian berkali-kali gue telpon, ngingetin beliau agar sesuai step by step nya, urutannya jangan terbalik. Kalau beliau ikutin alur yang gue jelaskan, Insya Allah kartunya bisa langsung aktif dan bisa digunakan untuk berobat. Beliau menjawab “iya..”. Hari sudah semakin sore, gue khawatir kalo kartunya belum kelar, gue telpon lagi, gue tanya progresnya. Katanya udah selesai. Oke. Gue happy banget. Langsung deh beliau gue panggil ke ruangan gue untuk dicek kartunya dan segera dibuatkan jaminan saat itu juga.
Tapi, seperti melihat kucing belang yang ngembat ikan goreng satu-satunya di meja makan saat gue bener-bener kelaperan dan satu-satunya makanan cuma ikan goreng itu, serasa kena cipratan becek oleh angkot yang ngebut dan gue nggak bisa ngapa-ngapain selain bengong, nelangsa gegara premium habis di saat bensin motor gue jarumnya udah di warna merah paling kiri ujung. Gue speechless, bengong, nanar. Kartu yang sudah dibuat itu belum aktif, artinya belum bisa digunakan. Gue heran, kok bisa. Padahal seharusnya kalau beliau ikuti alur yang gue sebutkan, harusnya bisa langsung aktif.
Gue langsung telpon ke kantor, gue tanyakan apakah berkas penting yang bisa mengaktifkan kartu langsung itu ada saat si bapak tadi mendaftar. Ternyata tidak ada. Berkas paling penting yang gue wanti-wanti. Berkas yang seharusnya didapatkan kalau beliau ikuti alur yang gue informasikan.
Lalu, gue tanya lagi ke bapak tersebut “pak apakah bapak tadi datang ke kantor dinas so**** untuk ambil surat rekomendasi?”, beliau bilang “iya. Datang. Suratnya ada.” Beneran ini rasanya gue diceplokin telur busuk. Patah hati gue. Bapak ini bohong sama gue. Kali ini gue udah lemes, nggak tau mau ber-ekspresi gimana. Gue jadi ngomong pake emosi, tapi emosi sedih, gue bilang “pak, bapak harus jujur sama saya. Kalau memang surat itu ada, kartunya pasti langsung aktif pak. Tadi saya sudah telpon ke kantor sebelum bertanya ke bapak. Kata yang di kantor, bapak tidak melampirkan surat itu pak.”. Dan akhirnya beliau mengaku kalau memang beliau ambil shortcut dan tidak mengikuti alur yang gue kasih tau.
Sedih banget. Gue sedih. Artinya gue nggak bisa bantu agar anak bapak dan ibu ini bisa berobat gratis. Udah sebisanya gue bantu. Gue yang tadinya berharap bisa meringankan beban mereka, tapi ternyata, harapan gue hancur di depan mata gue gegara bapak dan ibu yang tidak terus terang ke gue. Maaf, gue saat itu berkesimpulan bahwa mereka tidak mau membantu dirinya sendiri. Kenapa gue yang rempong.
Sebenernya nggak boleh emosional, tapi gue saking udah perih hati gue serasa tertusuk sembilu, gue sampaikan ke bapak itu bahwa “saya sedih pak. Saya nggak bisa bantu bapak. Saya mohon maaf. Saya menyesalkan kenapa bapak tidak ikuti alur yang saya beritahu.” dengan ekspresi alis gue bergelombang turun, kening berkerut, mata iba, bibir gue mengungkapkan kalo gue pengen nangis. Hehe. Lebay sih kalo dipikir sekarang. Tapi beneran hati gue saat itu bener-bener broken.  Patah jadi duaaaaa.
Saat gue merenung tentang apa yang terjadi, gue jadi berpikir tentang konsep pertolongan dari Allah.
Gue merenungkan juga sebenernya apa yang bener-bener membuat gue kecewa selain karena mereka yang gue mau bantu ternyata membohongi gue dan karena ketidakjujurannya membuat mereka tidak bisa gue bantu.
Kenapa Allah membuat gue menyadari di awal saat mereka mencoba menggunakan kartu yang bukan haknya. Gue yakin karena Allah sayang sama mereka. Allah nggak mau mereka mendapatkan “manfaat” yang tidak berkah karena berbuat curang. Gue mikirnya begitu. Tapi kemudian, kenapa Allah tidak menjadikan rencana bantuan gue terlaksana lancar sesuai yang gue inginkan? Apakah ada sesuatu yang mengakibatkan Allah meng-cancel jalan keluar untuk mereka? Gue nggak tau

Sekarang gue udah move on.
Kata emak gue, toh gue udah melakukan yang bisa gue lakukan.
Gue cuma bisa mendo’akan semoga bapak dan ibu itu dapat rezeki untuk bayar biaya rumah sakit, dan anaknya segera sembuh dari sakitnya.
Tidak ada kesulitan yang jalan keluarnya buntu jika Allah menghendaki.
Ada masalah yang tidak terlihat jalan keluarnya jika Allah menghendaki.
Yang bisa gue lakukan, membuat gue layak dibantu oleh Allah. Membuat Allah selalu mau ngebantuin gue.
karena gue nggak akan bisa melakukan apapun, hal sekecil dan segampang apapun (apalagi yang sulit) kalo nggak dibantu oleh Allah.
Gue nggak berani membayangkan, kalau Allah nggak bantuin gue, untuk mengangkat jari telunjuk aja gue nggak akan punya energi. There’s nothing you can not do? Make it right. There’s nothing you can do without helps of Allah The Greatest.

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s