Not alone

Gue tipe orang yang ekstrovert.
Biasanya gue bakalan cerita tentang hal-hal yang gue alami, atau sekedar brain storming apa yang gue pikirkan, sama keluarga gue atau sama orang yang gue percaya.
Dengan cerita, gue ngerasa nggak begitu kesepian saat pulang kerja. Masuk ke ruangan 3×4, tempat gue numpang tidur dan bebersih, sendirian. Dengan cerita by phone gitu, gue ngerasa bisa sedikit menghilangkan perasaan homesick gue sama keluarga.
Selain untuk cerita masalah ataupun hal-hal menarik yang gue alami, gue juga sering nelpon beberapa orang yang pengen gue sambung silaturahimnya. Dengan menelepon mereka, gue bisa keep in touch. Menjaga komunikasi gue sama mereka. Selain by phone, gue juga sering chat by texting di SNS dan messenger.

Namun, belakangan, entahlah, gue juga ngerasa heran, gue sering disalahpahami oleh mereka.
Apa mungkin karena by text ya? sehingga mereka nggak bisa tau apa yang sebenernya gue maksud, atau salah intonasi saat membaca text gue?
Udah berapa kali coba gue mewek karena ngerasa bersalah.
Pernah sekali ada yang tersinggung sama text gue. Beliau membalas gue dengan jutek. Lah gue bereaksi lah, seperti ada yang salah. Ternyata bener. Beliau ngerasa tersinggung.
Setelah gue konfirmasi, tetep aja nggak memperbaiki situasi. Dan masalah itu berlalu begitu saja as if nothing happen. Tapi sebenernya, dalam hati gue masih ngerasa bersalah karena beliau nggak blg maafin gue.

Terus ada lagi, ada yang ngerasa didebat oleh gue saat chat. Sebenernya gue tuh cuma bermaksud ngomong aja, ya bisa dibilang brain storming, atau diskusi gitu lah. Tapi beliau malah ngerasa kami sedang berdebat dan dia sedang didebat oleh gue. Helllooooow. Gue ini cuma bocah yang nggak banyak ilmu. Ngapain juga mau mendebat beliau.
Karena nggak tahan sama kesalahpahamannya, gue jadi sedih. Dengan sangat sadar, gue mengucurkan air mata. Gue serasa kehilangan salah satu pendengar yang baik, serasa kehilangan orang yang gue percaya, serasa kehilangan orang yang membuat gue nggak ngerasa sendirian, kehilangan orang yang gue dengan bangga menyebutnya kakak gue meskipun bukan saudara kandung, kehilangan orang yang memahami gue bahkan tanpa gue harus cerita panjang lebar ke beliau. Gue sedih karena segampang itu gue disalahpahami. Bukan beliau yang salah, tapi gue. Gue lah yang disalahpahami karena mungkin ada yang salah dengan sikap dan kata-kata gue. Gue yakin, nggak ada masalah dengan kemampuan beliau dalam memahami.

Ada yang bilang, kalo mau jaga hubungan ya baik-baik jaga komunikasi. Tapi kejadian sebaliknya sama gue, semakin gue sering komunikasi, semakin sering masalah salah paham begini timbul. Gue kudu gimana coba.
tapi ya sudahlah.

Sebenernya nggak lagi pengen nulis apa-apa. Tapi lagi beneran sedih ini. Sedihnya karena lagi-lagi gue nyakitin hati orang.
Bego banget gue kan. Ffffiiuuuh… Pernah terpikir apa gue stop aja keep in touch, hilangkan kontak dari segala sumber. Tapi gue nggak mau. Gue yang nggak sanggup. Hehe. kalo gue kangen sama mereka gimana coba. Gue lebih butuh ditemenin mereka. Mereka mah udah happy dengan hidupnya masing-masing bahkan tanpa gue.
Tapi kalo masih keep in touch, eh salah paham melulu, apa gue kudu diselimuti rasa bersalah terus menerus?

Tiap kali gue jadi pendiem, gue bakalan kena sariawan.
Terus gue mencoba nyimpen beban di hati beberapa waktu yang lalu, nggak pake curhat, hasilnya gue nelangsa sendiri sampe gue harus jatuh dari motor di tengah hujan dan menyebabkan kepala gue kejedok batu dan kaki gue cidera. Atau pas gue nelangsa gara-gara nggak mau cerita ke siapa-siapa tentang yang lagi gue pikirin, eh gue jadi blank saat ngelipet sajadah setelah sholat, dan menghela nafas berat karena kepikiran terus.

Tapi bukan itu yang bikin gue sedih. Bukan karena khawatir gue harus cerita ke siapa kalo mereka terus salah paham ke gue tiap kali gue cerita. Gue sedih karena kenapa gue nggak bisa nggak menyakiti hati mereka. Beneran nggak ada maksud, nggak sengaja, nggak niat. Gue udah nyakitin hati orang yang berbaik hati dengerin gue.

Tapi ya sudahlah, I’ll try to settle this.
Gue pengen minta maaf, karena kata-kata yang diucapkan atau yang gue tuliskan, menyakiti hati banyak orang.
Gue nggak akan berusaha menutupi karakter asli gue yang cablak dengan menjadi anak imut nan pendiam. Nggak bisa.
Insya Allah, gue bakalan lebih banyak cerita ke Allah aja lah. Allah pasti ngerti maksud hati gue, yang gue ceritain, yang gue bilang, yang gue nggak berani sebut, atau yang gue sembunyikan. Allah selalu punya waktu untuk dengerin gue, dan of course, nggak mungkin salah paham.
Bukan juga gue pengen memutus silaturahim. Tapi gue akan sambung silaturahim gue dengan cara yang berbeda. Yang jauh lebih mendekatkan gue dan mereka. Gue kudu masukin mereka dalam do’a gue.
Semoga mereka mau maafin gue yang penuh dosa ini.
Okay, i can’t do it by myself. But Allah will help me. I’ll never walk alone.

If there’s no someone who can hear your thought, then keep it yourself. You’ll learn how to endure your own burden. If it doesnt work, cry it out loud. Again, by yourself. So that you can learn how people leave you alone and make you feel lonely. Not because they’re bad people. They just teach you to hear yourself, and understand yourself. Then, realize, you’ll never walk alone. God’s telling you, just come to Him, and never do otherwise. People who has nothing to do with your future will make their way to leave you, no matter how hard you keep them. And vice versa. People who has to be in your future, will make their way to catch you up and be with you.

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s