Me in silence

Beberapa hari ini gue agak pendiem.
Banyak diem membuat gue punya banyak kesempatan untuk berfikir dan berkontemplasi.
Banyak diem membuat gue nggak banyak ngabisin energi dengan jadi manusia cablak yang nggak penting.

Salah satu kontemplasi gue adalah, kembalinya tanda tanya besar yang udah sempet gue singkirkan beberapa bulan ini, yaitu, kenapa gue yang ditakdirkan di sini. Jawaban simpel dari pertanyaan “why me?” adalah “why not?”. Gue terima aja. Tapi karena gue makhluk dodol, gue masih aja mikir “why me?” walaupun gue nggak bisa melakukan apa-apa sekalipun hati gue nggak terima. Wkwkwk…

Gue inget banget saat interview dengan user, sang bapak interviewer bertanya “dalam hidup anda, kapan saat yang paling berat dan membuat stres?”. Ini pertanyaan gue jawab apa adanya. Pake ekspresi pula. Gue sadar banget pas jawab ini mata gue bener-bener jadi jendela hati gue yang rapuh lemah tak berdaya. Hehe. Setelah interview dan keluar ruangan, gue nanya ke teman-teman lain, dan ternyata mereka ditanya dengan pertanyaan yang sama. Rata-rata mereka menjawab: saat bikin skripsi. Gue tercengang. Itu jawaban yang bagus. Hehe. Gue heran aje kenapa jawaban “nyusun skripsi” nggak terlintas secuil pun di otak gue. Tapi ya pas nyusun skripsi gue nggak begitu stres. Hahaha. Nggak terlalu dipikirin sih…

FYI, jawaban gue atas pertanyaan bapak interviewer adalah “saat yang membuat saya paling tertekan adalah ketika pertama kali merantau, jauh dari rumah, jauh dari orang tua”.
Beliau udah denger kan jawaban gue.
Tapi entahlah gue ngerasa bahwa sekarang gue “dimigrasi” merantau lagi adalah karena jawaban gue itu. Hehe… Mungkin Allah mau menguji apakah gue masih akan stres kalo jauh dari rumah. Dan jawabannya “masih”.

Ya tapi mau bagaimana…
Bukan tentang stresnya yang akan gue inget dalam hati, tapi tentang kuatnya gue untuk bertahan meski berat. ^^

Saat gue terhuyung-huyung rapuh, gue ngerasa energi terakhir gue yang tersisa adalah energi untuk pulang ke rumah.
Di saat bersamaan, orang-orang yang gue sayangi dunia akhirat itu menahan gue dari rasa ingin menyerah.
Ya bener banget. Kalo gue sakit, dan harus makan obat, sepahit apapun itu obat kudu gue telen. Gue nggak bakalan menaklukkan rasa pahit itu kalo gue muntahkan. Kalo gue ngerasa sulit pas kuliah, terus gue mau lulus, ya gue nggak boleh stop out.
Keluarga gue selalu bilang kalo the beginning is always the hardest.
They’re encouraging me forever.

Masih dalam kontemplasi gue selama jadi pendiem, gue ngerasa di-puk-puk-in sama Allah pas gue baca terjemahan alqur’an, tentang “jangan bersedih”. Terus dilanjutkan dengan encouragement lainnya bahwa gue kudu memiliki visi yang sejati, dan cukup kuat untuk membuat gue fokus dan bertahan. Saat itu gue kembali melakukan vission statement gue. My divine vission.

Sampe sekarang pun gue masih dalam tahap kontemplasi. Ya sembari gue menenangkan jiwa untuk persiapan Ramadhan yang datang sebentar lagi. Gue belajar untuk bernafas dengan lebih rileks. Berbicara dengan lebih elegan. Berjalan dengan lebih tenang.
Gue pengen dalam hidup ini gue jadi orang yang bermanfaat baik untuk banyak orang.
Gue pengen apapun yang gue korbankan dan upayakan sekarang ini punya makna lebih berarti dari sekedar materi atau karir.
Gue pengen sebagai anak, bisa membalas cinta orang tua gue dengan cara paling sejati, yaitu jadi anak sholeh buat ortu.
Gue pengen gue meninggal nanti nggak meninggalkan hutang, dimaafkan oleh semua orang, dan nggak bikin susah orang lain.
Divine vission.
Gue jadikan begitu agar gue bisa berpegang kepada sesuatu yang tidak fana, tidak temporer.
Allah punya rencana yang sempurna buat gue.

Siapa bilang gue nggak boleh rapuh? Hehe.
Gue juga nggak sanggup nahan kalo gue harus nangis.
Gue nggak bisa berpura-pura sok rapopo di kala hati gue bener-bener nggak bisa diajak kompromi.
I’m human being after all…
Tapi gue selalu yakin, divine vission gue akan membuat gue move on. Nggak membiarkan gue terpuruk dan membusuk pada kondisi yang sama sekali nggak menguntungkan.
Nggak peduli berapa kali pun gue jatuh atau bahkan harus terseok, tapi gue nggak akan menyerah kalah dan berhenti.

O iya, satu hal yang gue dapet selama gue pendiem adalah, tentang makna merantau.
Perantauan berarti tempat yang akan menjadi tempat tinggal sementara. Nggak selamanya.
Semua yang gue lakukan di sini semata-mata untuk tujuan pulang.
Terus gue mikir. Sementara, berarti nggak selamanya. Suatu hari gue bakalan pulang.
Apa bedanya dengan kehidupan gue di dunia ini?
Sementara toh? Dan seharusnya, saat di perantauan, yang gue cari adalah bekal untuk pulang.
Tapi apa yang gue lakukan? Nggak tau lah…
Beda dengan pulang ke kampung halaman yang bisa dijadwalkan pesawatnya, ini kalo gue pulang ke pangkuan Rabb gue, gue kagak tau kapan. Tiba-tiba aja kapan pun bisa take off tanpa perlu repot-repot pesen tiket.
Kalo buat pulang ke kampung halaman gue udah nyiapin ini itu. Tapi kalo mau pulang ke pangkuan Rabb gue, gue kagak tau apa bekal pulang gue udah cukup.

Me in silence.
Momen langka yang membuat gue ingat lagi tentang makna kehidupan yang sejati.
Memang gue butuhkan, agar gue nggak cuma larut dalam hingar bingar dunia yang menjengahkan.
Agar gue nggak cuma berpikir ambisius tentang capaian-capaian yang temporer.
Agar gue bisa belajar berpikir sebelum berkata dan bertindak.
Mengingatkan gue untuk nggak terlena saat sehat, yang sering kali membuat gue nggak waspada tentang sakit.
Menenangkan masa muda gue yang impulsif, yang sering kali membuat gue lupa tentang masa tua.
Menasehati diri gue tentang zuhud dan qona’ah.
Mengajarkan gue untuk bersiap siaga dalam kelapangan dan kesempitan.
Dan membuat gue menyadari lagi bahwa setelah hidup akan ada mati.

I need me in silence. ^^

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s