Cast a vote?

Tadi malem ada junior gue yang texting, oji namanya. Tiba-tiba aja dia nanya
Oji (O): kk ntar coblos apa nih ka?
Hehe.. Ngomongin politik ini bocah.
Gue (G): P**, ji…
O: wih…
G: kenape ji?
O: Ga ada… oji bingung aja ka mau pilih apa
Hahaha… Iya, emang bingung kalo sudden choice. Mau milih itu kudu banyak pertimbangan. Harus dipelajari dulu semuanya. Ada perbandingan. Banyak lah stepnya. Jangankan milih partai, milih kosan aja gue bingung setengah mati. Milih handphone juga gue setengah galau. Jadi dalam hal pilih memilih emang nggak bisa by accident. Kudu dipikirkan matang-matang.
G: Hehe… klo kk sih mikirnya P** aja ji.
O: Segitu nya ka
Gue menangkap ini anak mikir kalo gue blind choice.
G: Hahaha.. udah dipikir2 ji.. KK kan ngikutin track record 12 partai lainnya. Pemilih cerdas wannabe ini ceritanya :-D. Bukan sekedar ikut2an..kk jg g suka sama yang milih krn alasan subjektif.
O: Jadi gmana track recordnya ka. Oji kurang tau ka.

Nah… Mulailah celoteh panjang melalui jempol gue yang masih belum mahir pake tuts non-fisik. Gue jelasin ringkasnya tentang catatan kelam beberapa partai. Ada yang malu-malu jadi partai sehingga di awal berkedok ormas, terus pas jadi partai, tokoh pentingnya keluar gara-gara nggak jadi ketua umum, terus masuk ke partai lain, yang pake acara korupsi buat kongres, atau sampe bunuh-bunuhan gara-gara konflik internal partai yang lagi-lagi rebutan jadi pengurus, sampe konsep blow up media yang bikin rakyat jadi silau sama tokoh tertentu, beberapa partai yang Cuma jadi “choir” partai tertentu,yang kental sama korupsi, kolusi, nepotisme, warning tentang partai baru yang nggak ada track record alias belum teruji, plus penjelasan bahwa tata negara ini bukan Cuma tingkat pusat, tapi juga di daerah. Biar gampang, gue kasih aja contoh bu risma dan jokowi. Selama penjelasan gue, dia nanggepin “Oooo…” “baru tau oji ka,,,” “Oooo…”.

G: bu risma itu korban oportunisme P***. Jadi kk alert aja sama p***. Dr dulu jg kk g sreg sm j*****. Skrg dia m jd capres, benerin jakarta dulu napa…Jd g ngelarin kerjaan kan..
Oji ini anak ibukota. Dulu pas jamannya pilkada DKI, dia dukung banget itu kotak-kotak. Hehe.
O: Tau tuh J*****. Mending gub lama aja yang naik lagi. Fauzi bowo.

Kayak sok oke gitu gue sampe jadi ngomongin politik. Bukan politik sebenernya, Cuma pandangan orang awwam gimana caranya menentukan pilihan dari semua kemisteriusan partai yang ada. Ada banyak hal yang nggak bisa kita ungkap kebenarannya, salah satunya motivasi dan ketulusan bertindak. Itu urusan mereka sama Allah yang nggak bisa kita sangka. Untuk membuatnya lebih terjangkau analisa, gue meringkas cara gue memilih menjadi tiga poin.

1. Pilihlah yang isinya orang terbina. Maksudnya, bukan asal rekrut. Bukan berisi orang-orang yang ikut di tengah jalan. Hari gini masuk kursus bahasa inggris aja pake tes penempatan. Kalo belum bisa di intermediate, mana mungkin masuk advance. Hehe. Partai yang isinya orang-orang yang terbentuk karena bentukan, akan lebih menyatu sama partainya. Untuk mewujudkan cita-cita negara dengan sarana visi misi partai, haruslah dari mereka yang menyatu dengan visi misi partainya, bukan menumpang partai untuk melancarkan misi pribadinya. Kalo sistem begini berjalan di semua partai, kayaknya nggak bakalan ada yang namanya monarki dalam parpol, nggak akan ada yang sampe sebegetenye saingan buat jadi ketua umum apalagi sampe ngambek karena nggak terpilih terus keluar bikin partai sendiri. ^__^ Selain itu, banyak yang pucuk pimpinannya masih para veteran toh. Dengan begitu aja sebenernya bisa mengundang pertanyaan, emang yang laen nggak ada? Kompliketid juga kalo gue mau beropini tentang partai yang kaderisasinya rada-rada buntu.

2. Pilihlah partai yang eksis karena eksistensi dalam kerja, bukan eksistensi karena blow up media.
Gue: Udah kapok sama j***** kan?
Oji: Udah ka…

3. Pilihlah yang bisa mengelola Indonesia Generasi Ketiga. Indonesia segini besar dan potensial, akan jadi nggak ada gunanya kalo dikelola oleh orang-orang yang nggak paham fitur dan potensi besar dari Indonesia Generasi Ketiga. Indonesia Generasi Ketiga itu apa? Hehe. Tanya aja sama caleg yang mau dipilih. Bisakah mereka mendefinisikan apa yang akan mereka kelola dan hadapi saat memegang kunci negara ini. Kalo nggak bisa, artinya mereka terjebak dengan apa yang sudah dilakukan orang-orang sebelum mereka dan akan melanjutkan lagi hal yang sama, padahal Indonesia ini dinamis, berkembang. Tidak bisa dikelola sama dengan jaman orde lama, orde baru, atau “fake” reformasi. Kalau ada orang tua yang biasanya pake featurephone, Cuma sms dan telpon, dikasih smartphone dengan fitur komplit plus kamera-kameranya, aplikasi lengkap, RAM besar, dan kecanggihan lainnya, yang paling bisa dipakenya adalah sms, telpon, dan tambah satu lagi, SELFIE. Hehe. Karena dia nggak paham potensi apa yang dia pegang. Kalo di tangan orang yang ngerti dan bisa mengelolanya, itu smartphone bisa jadi duit. Hohohoho… Nah, indonesia generasi ketiga adalah smartphone. Jadi pilihlah orang yang bisa mengelola smartphone itu dengan maksimal. Jangan pilih yang mengaku bisa pake smartphone tapi ternyata nggak ngerti apa aja fiturnya.

Oji: mantap ka… ntar deh ka.. oji nyaleg 2019. Hahah… Pilih oji ya ka…
Gue: Hahaha…

4 thoughts on “Cast a vote?

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s