Re-act

Suatu hari di suasana idul adha, saat itu di kosan tersisa 3 orang; gue dan 2 orang kakak. Selebihnya pada pulang ke kampung masing-masing untuk idul adha bareng keluarganya. Gue dan kak anggi, punya kampung 24 jam perjalanan darat dari kota padang. Sedangkan ni tia, memilih untuk tidak pulang kampung karena harus ngejagain kultur jaringan yang lagi ditelitinya di laboratorium.

Berhubung akan dapet jatah daging qurban 3 kilo, pagi-pagi gue ke pasar sama 1 orang kakak yang gue panggil “ni tia” untuk mengolah daging itu. Gue kan belum bisa bahasa minang tuh, dan impossible banget bisa bernegosiasi ala pasar tradisional, gue bertugas sebagai pembawa barang doang. Urusan milih bahan yang mau dibeli dan tawar menawar, serahkan pada ahlinya, ni tia. hehe.
Saat itu masih pagi setelah sholat id. Pasarnya juga masih becek. Nggak terlalu rame. Gue ngekor aja sama uni karena gue juga nggak tau jalan. Eh baydewei, ini ceritanya gue baru sekitar 3 bulan di padang.

Ni tia mengarah ke penjual cabe rawit. Kalo gue perhatiin, sepanjang jalan pasar itu jaraaaaang banget yang jual cabe rawit. Lagi pada off kali ya. Namanya juga lagi suasana lebaran. Nah cuma ada 1 kios. Itu juga nggak bisa dibilang kios. Cuma terpal yang dibentang untuk tempat duduk penjual, dan beberapa tumpukan kecil cabe rawit yang ternyata dijual per tumpukan itu. Gue nggak ngerti apa-apa saat dengerin dialog antara ni tia dan ibu pedagang. Yang gue tangkep sih, sorry, intonasi ibu pedagang pada akhir percakapan agak meninggi. Sempet gue artiin marah. Tapi gue perhatiin tampang ni tia tenang aja. Ni tia nggak jadi beli cabe dan mengajak gue bergerak lagi. Tiba-tiba ni tia menoleh lagi ke arah ibu pedagang sambil memegang pipinya yang jadi memerah, terus gue kaget juga. Gue tanya “kenapa uni? Pipinya kenapa?”. Bener-bener gue nggak ngerti keadaan saat itu sampe ni tia mengatakan dengan bahasa yang gue bisa pahami “uni dijepret karet sama ibu itu…”. What? diketapel pake karet ternyata. Gue lihat ntu ibu pedagang ngedumel dalam bahasa minang. Beneran gue nggak ngerti apa. Terus ni tia ngejelasin secara ringkas bahwa ibu itu kesel karena tadi kami nggak jadi beli cabenya. Alasan nggak jadi adalah karena cabenya sudah mengering, namun harganya relatif mahal. Jadi alasan ntu ibu pedagang ngejepret pipi uni dengan karet itu adalah karena marah kita nggak jadi beli cabenya.
Aneh. Bagi gue aneh. Gue nggak ngerti. Kenapa harus marah kalo orang nggak jadi beli? bukannya pedagang itu kerjanya menawarkan keunggulan produk, membuat orang tertarik membeli. Ya keputusan jadi membeli atau tidak tetap di tangan pelanggan dong… Kenapa harus marah sampe berbuat kasar begitu.
Untung aja ni tia lagi bisa mengendalikan diri saat ibu pedagang itu mengatakan kata-kata, sorry, “kasar”. Setelah kejadian itu gue jadi dapet pengetahuan tentang bahasa “kasar” versi minang karena ni tia kasih tau gue apa arti omongan ntu ibu. Et dah… Sebuah reaksi dari pedagang yang membuat gue “ilfil”, menyakiti ni tia secara fisik dan batin, dan membuat gue trauma nawar di pasar tradisional.

Kemaren, gue sama ayah mendekati outlet yang jual vacuum cleaner. Cuma dengan niat nanya harga doang. Gue nggak mau beli. Hehe. Eh reaksi berlebihan happy ditunjukkan oleh si pedagang. Pedagangnya adalah mas-mas yang dari tampilannya “gothic”. Dia bongkar semua jenis vacuum cleaner yang ada di tokonya. Dijelasin plus minus, merk, harga. Gue sendiri jadi panik karena gue kan nggak niat beli. Cuma nanya harga doang. Ntu mas-mas sampe ngejelasin bonus-bonus dan promo diskon akhir tahun di masing-masing merk. Wah… Sebelum ntu mas mengambil satu vacuum cleaner lagi dari gudangnya, gue bilang “mas, ini baru nanya doang. belum mau beli. Belum ada duitnya.”. Mengejutkan, ntu mas bilang “nggak apa-apa…” sambil senyum sumringah, “sebentar, 1 lagi ditunjukin, tanggung kan”, ntu mas buru-buru ambil produk terakhirnya. Haha. Jadilah di depan gue dan ayah berderet segala merk dan bentuk vacuum cleaner. Eh yang nggak ada cuma vacuum cleaner keyboard. Hehe. Setelah selesai dengerin service ntu mas-mas, gue pamit sambil bilang makasih dan maaf. Lagi-lagi, mas itu menjawab dengan ramah “nggak apa-apa…”. Ya, bagi gue emang begitulah pedagang. Menawarkan. Kalo nggak dibeli, nggak berhak ngamuk dong. Reaksi pedagang yang membuat gue berpikir “nanti kalo udah ada duitnya, mau beli vacuum cleaner di sini aja”.

Cerita lain. Kali ini bukan gue. Tapi kakak gue. Kakak gue punya temen yang berniat ngenalin temennya ke kakak gue dengan tujuan “siapa tau jodoh…”. Setelah beberapa kali interaksi, hasil akhirnya, kakak gue nggak jadi sama itu abang yang dikenalin sama temennya. Yang bikin gue heran sampe hari ini adalah reaksi temen kakak gue itu. Dia marah ke kakak gue. Ya terkesan seperti “pedagang cabe yang bete karena dagangannya nggak jadi dibeli”. Helllowwwww… Padahal dia sendiri nggak rugi apa-apa toh kalo comblangannya nggak sukses. Itu juga bukan perdagangan. Lalu kenapa harus marah? Gue nggak ngerti lah.
Padahal di awal dia sendiri yang bilang “siapa tau jodoh” yang artinya dia pun “gambling”. Nothing to lose toh. Jadi, hayooo… nggak jadi yo wes… Reaksi dari sahabat agen “perjodohan” yang membuat gue jadi khawatir dicomblangin. Haha. Ya abisnya, kalo dicomblangin terus nggak jadi, eh malah kehilangan temen. Kan aneh.

Gue pun sering salah bereaksi. Saat gue mengajak seseorang ke suatu tempat, tapi ternyata orangnya nggak bisa atau nggak mau, gue marah. Saat gue menawarkan makanan ke orang, eh ternyata dia nggak mau, gue marah. Saat gue menyarankan sesuatu, tapi saran gue nggak diterima, gue marah. Padahal, gue nggak punya hak untuk memaksakan semua respon orang terhadap tawaran dan ajakan gue harus sesuai dengan maunya gue. Objek yang gue hadapi adalah manusia, yang punya pemikiran sendiri, punya kondisi masing-masing yang variatif, punya problem sendiri-sendiri yang juga belum tentu bisa dideteksi, punya prinsip pribadi yang belum tentu sejalan dengan gue. Sudah seharusnya gue lebih membuka pikiran gue tentang dinamika manusia.
Sebuah nasehat yang gue inget dari om gue: tidak ada kesalahan yang mutlak, sebagaimana tidak ada kebenaran yang absolut. Tidak ada kesalahan yang benar-benar salah, tidak ada kebenaran yang betul-betul benar. Semuanya akan berbeda, nilai harus dan tidak harus, nilai salah dan benar, nilai tepat dan tidak tepat, nilai layak disalahkan atau dibenarkan, nilai layak memancing kemarahan dan kecewaan atau dimaafkan dan dimaklumi. Tergantung pada paradigma gue memandangnya. Tergantung dari sejauh mana gue mengetahui kondisi internal manusia yang gue hadapi. Om gue mencontohkan dengan kisah nabi Musa saat bertemua dengan nabi Khidr. Saat itu nabi Khidr mengatakan bahwa nabi Musa tidak boleh bertanya apapun. Kemudian, nabi Musa melihat nabi Khidr membunuh seseorang. Ya, di mata nabi Musa, di pandangan nabi Musa, membunuh itu kesalahan besar, lantas nabi Khidr telah melakukan kesalahan. Padahal, nabi khidr punya alasannya. Yang menjadikan tindakannya itu benar (Fakta lengkapnya di Alqur’an, Surah Al Kahfi). Reaksi nabi Musa yang membuat nabi Khidr tidak mengizinkannya untuk “berguru” lagi.

Ya, karena gue nggak akan bisa memahami apa yang sebenarnya tersembunyi di pikiran orang-orang, belum lagi yang ada di hatinya. Tidak seharusnya gue memaksakan menyamakan paradigma gue dan mereka. Tidak seharusnya gue marah-marah atau kesal dengan perbedaan prinsip. Tidak seharusnya gue menyalahkan orang yang padahal gue sendiri tidak yakin sepenuhnya benar. Seharusnya gue mengevaluasi bagaimana gue bereaksi. Should re-act how to react.
Karena gue cuma makhluk sotoy. That’s why!

One thought on “Re-act

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s