Flat shoes and Me

Flat shoes and me. Seperti ikatan persahabatan yang mencapai soulmate belahan jiwa. Mungkin lebih tepatnya, belahan kaki. Hehe. Kan gue pake sepatu di kaki, bukan di jiwa.
Sebenernya yang lebih gue suka sebagai alas kaki adalah sendal jepit, terutama yang merk-nya “swallow”, bahan karet nggak licin, murah meriah, dan tahan lama asalkan nggak digunting atau dibawa sprint gara-gara dikejer anjing apalagi dibawa mendaki gunung atau digigit-gigit nggak sadar akibat kelaperan plus gejala halusinasi tingkat advance.
Tapi tapi tapi. Sendal jepit bikin orang lain yang lihat gue jadi memicingkan mata, mengerutkan dahi, menekuk muka, melipat bibir, terus dimasukin ke dalem pouch kecil dengan ornamen manik-manik (dikate karcis parkir). Ya iyalah. Secara sendal jepit “swallow” itu alasnya putih, talinya merah, kuning, hijau. Kan nggak match gitu sama outfit dari kepala sampe kaos kaki. Bikin timpang. Apalagi kalo kaos kakinya coklat dengan alas hitam terus pake jempol terpisah. Tidak menunjang penampilan elegan menurut mainstream. Apalagi koleksi sendal jepit gue sering kali jadi sebelah-sebelah. Kanan semua, atau kiri semua. Atau kanan kiri tapi warnanya sebelah kuning, sebelah merah. Gue juga heran. Sendal jepit aja dibawa ke masjid, yang tadinya komplit, bisa lenyap sebelah. Gue curiga jangan-jangan di wilayah ini ada si Rembo, ayamnya tuk dalang yang di upin ipin, suka ngambil alas kaki sebelah. Terus kalo yang tadinya baru masih kinclong, eh yang tersisa di tempat, sendal gue berubah jadi lumutan. Yang bener aje. Orang sholat sepanjang apa gitu zikirnya sampe sendal lumutan. Ketuker itu mah.
Kenape pule jadi ngomongin sendal swallow.

So, untuk menunjang penampilan menurut mainstream, gue kudu pake sepatu. Yang paling bener buat kaki gue adalah flat shoes. Alias sepatu ceper. Alasnya datar. Bahan alasnya dari karet. Selain ringan, bahan karet itu juga lebih protektif. Nggak licin. Terus kalo keinjek benda tajam, kan bisa terlindungi oleh karet. Udah gitu, nggak ribut. Kalo sepatu yang alasnya keras, pas jalan kan jadi ribut, bisa mengganggu marmut tetangga yang sedang tidur.Kalo sepatu yang bunyi “tok..tok..tok..” dibawa ke rumah sakit, bisa ditimpuk botol infus sama pasien yang lagi sakit gigi. Apalagi kalo yang bunyi “ngiung…ngiung…”, bisa kabur gue. Dikira razia orang imut. Kalo bunyinya ringtone odong-odong, entar anak-anak pada ngejer, minta gendong keliling komplek. Kalo bunyinya “jukijakijukijakijuk…”, entar dikira ada dangdutan pula.

Oke. Pernah suatu hari, ada ibu-ibu yang suggest ke gue buat pake “sepatu yang sedikit ada hak”. Gue udah coba. Tapi apa… Ribut. Bunyinya itu, kletak kletok. Kalo gue jalan, banyak yang terstimulus kupingnya, noleh ke arah gue. Kan nggak enak. Emang gue nggak berpotensi bikin orang jatuh hati sekalipun itu orang-orang merhatiin gue, secara gue bukanlah cleopatra (azeeeeee….). Yang gue khawatirkan adalah kalo suara sepatu itu mengganggu konsentrasi orang lain. Alhamdulillah, itu sepatu nggak bertahan lama. Haknya licin. Dengan alasan “daripada jatuh”, gue nekad aja ganti flat shoes lagi.

Flat shoes yang kali ini gue pake bener-bener nyaman. Emang foot-mate gue lah. Namun, setelah 2 bulan bersama, gue jatuh masuk selokan. Sepatu itu robek. Ihiks. Ihiks. Lalu, gue ganti sepatu lagi. Flat shoes, tetep…
Namun naas baginya, dia robek gara-gara gue rebutan naik bus. Nah itu sepatu keinjek orang dari belakang, terus lepas dari kaki gue. Pas gue ambil dia sebelum pingsan diinjak-injak kayak korban konser dangdut, gue lihat dia udah terkoyak. Huks. Huks. Namun karena gue belum punya gantinya, gue pake aja terus. Sampai suatu hari, emak gue ngajak beli sepatu, rame-rame sama saudara-saudara gue. Terus gue mikir, gue bakalan beli sepatu yang bisa dipake ke semua momen. Formal, informal. Elegan. Casual. Mata gue tertuju sama flat shoes. Lagi-lagi flat shoes. Terus mata gue belok lagi ke sepatu dengan style modern. Tapi jatuhnya cuma untuk momen informal. Karena gue mikir, nggak mungkin gue job-interview pake sepatu style kets begituuuu. Lagipula, harganya, hampir 300 ribu. Hehe. Gue belum layak untuk pake sepatu semahal itu. Bagi gue, harga segitu mahal untuk alas kaki. Lalu, gue ketemu sepatu yang dari luar seperti wedges, desainnya elegan, tapi ternyata, itu sepatu high heels. Heelsnya di dalam. Tertutup kulit luar yang memberi kesan itu sepatu wedges. Eh. Eh. Lumayan lah. Wedges itu nggak seseram high heels karena alasnya walaupun tinggi, tapi terpasang di sepanjang sepatu. Titik tumpu berdiri tetap di sepanjang telapak kaki. Sedangkan high heels, titik tumpu badan seberat ini adanya di ujung jari-jari kaki, kan seperti menjinjit gitu lah. Dan jatuhlah pilihan gue ke sepatu heels wedges malu-malu itu. Dari luar terlihat seperti wedges. Saat itu gue belum tersadar

Pagi harinya, gue pake itu sepatu. Dan ternyata, kejahatan itu sepatu terkuak juga. Gue tersiksa karenanya. Nggak bisa diajak jalan lama. Ujung jari kaki gue merana karena harus menahan berat badan gue yang diperberat dengan gaya gravitasi. Apalagi aktivitas gue yang nggak stay di satu tempat. Naik turun tangga, naik turun terali, manjat-manjat ngidupin AC. Lalu gue tersadar bahwa ini sepatu cuma bisa gue pake untuk short-term moment, seperti presentasi, atau job interview. Bukan untuk dipake jalan lama. Setelah di rumah, gue cek, eh ternyata kaki lecet di beberapa tempat. Besoknya, gue pake lagi karena gue masih berharap bahwa lecet itu adalah efek sepatu baru. Tapi ternyata, percobaan kedua bukan cuma makin lecet, tapi punggung gue jadi pegel-pegel. Ya gue udah tau kalo yang namanya high heels ataupun wedges nggak baik untuk kesehatan, terutama kesehatan tulang belakang. Bisa mengganggu pertumbuhan juga. Yang paling terasa, gue kayak dilepas dari sepatu berduri saat melepas itu sepatu. Akhirnya, gue nyerah. Diiringi kekagetan emak gue yang teriak “kenapa sepatunya udah beginiiii” saat emak gue melihat itu sepatu udah gue injek di bagian belakangnya dengan tujuan kaki gue bisa bebas dari sempitnya ujung sepatu itu, dan sembari gue membubuhkan obat luka di lecet-lecet ujung jari, gue putuskan untuk menyerah dengan itu sepatu.

Keesokan harinya, saat gue harus ke rumah sakit, gue pake sendal gunung.

Malam ini, gue mau cari sepatu flat shoes lagi. Barusan gue ngomong dari hati ke hati bersama mamah dedeh ibunda gue tercinta. Gue bilang kalo gue nggak bisa lagi pake sepatu tinggi lama-lama. Sakit punggung sampe serasa masuk angin, terus kena flu *)Eh.

Ya flat shoes kembali akan menemani langkah gue.
Beauty is pain? Nggak juga. Sebenernya pain untuk beauty itu adalah pain yang nggak penting terjadi. Unnecessary pain.
Mainstream, orang-orang di sekitar gue, menganggap bahwa wanita tidak terlihat elegan tanpa high heels. Bahkan ada yang menganggap, tidak intelek, tidak berwibawa. Entah kenapa gue nggak mau sepakat sama opini begitu. Gue pengen intelek, bukan terlihat intelek. Gue mau elegan, bukan terlihat elegan. Nggak suka aja penilaian orang muncul dari apa yang mereka lihat secara kasat mata dengan parameter penampilan belaka. Lagipula, untuk terlihat elegan apa bisa dengan hak tinggi saja? Nggak tau deh. Penilaian orang emang beda-beda.
Yang jelas, orang pinter, yang ahli fisiologi, ahli orthopedy, udah pada kasih nasehat, kalo hak tinggi itu nggak baik untuk kesehatan. Emangnya enak kalo jadi elegan, cantik, tapi encok. Haha. Nggak banget dah.

3 thoughts on “Flat shoes and Me

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s