Ibu Dra. Deswinar Darwin, Apt., Sp. FRS.

Suatu hari, di ruang seminar farmasi, lantai 3, ruang kelas sementara mahasiswa profesi apoteker Unand periode I 2011/2012 kelas A:

Gue tegang, grogi. Hari itu gue kudu latihan konseling untuk bekal lomba pasien konseling. Temen gue yang lain, ada di kelas A, sedangkan gue, kelas B. Kebetulan, dosen yang mau kasih pembekalan baru kelar ngajar di kelas A. Jadi gue kudu mendatangi kelas A.
Kirain kosong nggak ada orang alias mahasiswa yang lain udah pada pulang. Ternyata, mereka ditahan pulang sama dosen karena beliau mau nunjukin sekalian. Ya mereka jadi para observer. Grogi gue. Serius.
Eh, gue belum bilang. Dosen yang menyediakan waktu buat gue pembekalan itu namanya Dra. Deswinar Darwin, Apt., Sp.FRS; panggilannya bu des.
Oke. Beliau nyuruh mulai latihan setelah membagi peran. Gue dapet jatah jadi pasien. Temen gue, jadi apoteker yang akan kasih konseling. Padahal gue cuma jadi pasien, tapi grogi gue udah sampe ubun-ubun. Dilihatin sama berpuluh-puluh pasang mata sih. Kan nervouuuuus. Melihat gue yang udah pucet, tangan bu des megang bahu gue, manggil. Seketika grogi gue ilang. Bener-bener ilang. Beliau bilang “jadi peran pasien yang cerewet ya… ^^”. Gue senyum. Dalam hati gue bilang “kalo cerewet mah gampang bu… Kalo disuruh jadi pasien pendiem, baru deh gue mau ambil kelas acting”. Dan, mulailah salah satu adegan paling dodol yang ada dalam hidup gue. Gue kudu jadi model emak-emak pasien cerewet yang sotoy dan jutek abis. Sejutek mungkin gue bertingkah, sampe temen gue yang jadi apoteker konselornya speechless. Nggak tau gimana ngadepin pasien yang sebelas duabelas sama petasan rawit. Kemudian, bu des nyuruh “pause”. Lalu beliau menggantikan temen gue sebagai konselor. Dengerin beliau ngomong dengan cara yang berbeda, begitu lembut dan profesional, giliran gue yang speechless. Gue kayak petasan yang disirem air dingin. Adem. Ayem. Tentrem.
Saat itu, gue belajar tentang bagaimana gue harus bicara dan diterima. Bu des menutup konselingnya sambil memegang bahu gue dan bilang “hebat ini pasiennya. bagus. nanti jadi bintang pelem”. Beliau melanjutkan “ya begitu, confident, jangan grogi. Enjoy.” terus gue tersipu-sipu sambil mikir “apa gue jadi aktris aja ya…? hahaha”.

Suatu sore, Laboratorium biota sumatera, kelas B, temporer, sambil berjalan di koridor menuju parkiran fakultas farmasi.
“Gimana, lombanya? Nggak apa-apa. Menang kalah itu bukan tujuan. Yang penting tampil dulu.”, bu des membuka pembicaraan. Lalu gue ceritakan bagaimana awkward-nya gue yang masih kurang ilmu ini. Sengaja ritme berjalan beliau dilambatkan. Gue tau ritme berjalan beliau cukup cepat, tapi tidak kali ini. Seperti memberi waktu gue untuk mengambil sesuatu lagi dari beliau. Berdua saja. Yang gue inget banget “Belajarlah tapi bukan untuk ditandingkan, melainkan untuk memberi banyak kepada orang lain.”. Hati gue berbunga-bunga seperti muncul percikan semangat dalam diri gue, kalo gue nggak begitu hopeless. Senyum-senyum sendiri deh. Sesampainya gue di parkiran, dekat mobil beliau, gue kira sampai disitulah obrolan gue, tapi ternyata beliau nawarin gue nebeng mobilnya. Hehe. Terus ngobrol lagi. Kali ini tentang effort beliau membekali diri dengan farmasi klinis. ototidak. karena saat beliau kuliah sebelum spesialis FRS, kurikulumnya tidak menunjang ke arah farmklin. Segepok kekaguman gue timbul terhadap beliau. Dan gue berkaca “gue yang udah dicekoki farmakoterapi I-IV, kurang-kurang nambah lagi 2 di apoteker, segambreng pelajaran dan buku farmasi klinis, masih aja males-malesan”. Sayangnya kosan gue cuma beberapa meter dari kampus. Jadi obrolan itu nggak panjang. It’s okay.

Suatu hari, semester V, S-1. Ruang kuliah C.
Gue: “Kalo gue jadi dosen, gue akan jadi seperti bu des.”

Suatu hari, semester I, Apoteker. Kantin.
Temen gue “kamu kalo jadi dosen, mungkin mirip-mirip bu des”.
Gue: “hahaha”.

Hari ini:
Gimana harus bilangnya ini…
Toh beliau udah nggak bisa baca tulisan gue ini.
Hmm… hari ini beliau berpulang. Kepada Allah yang Maha Mengetahui kebaikannya.
Sulit bagi gue untuk meng-ekspresikan cinta gue untuk beliau.
Guru. Role model.
Nggak bisa diekspresikan dengan kata-kata. bahkan kata terima kasih pun nggak cukup kuat untuk mengemas begitu banyak pengaruh positif beliau kepada gue.
I believe Allah knows everything I wanna say to you.

“Hargailah diri sendiri terlebih dahulu, bila ingin dihargai orang lain. Hargailah profesi anda sebagai seorang apoteker bila ingin profesi apoteker dihargai masyarakat. Jalankan profesi anda sebagai apoteker dengan ikhlas agar dapat memberikan yang terbaik kepada pasien.”
-Ibunda Deswinar Darwin-

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s