Who Really I Am #2

Gue baru ngeh ternyata gue pernah bikin posting dengan judul yang sama. hehe. udah lama sekaleee. 2010. saat jiwa gue masih belum se-labil hari ini. tepatnya belakangan ini.

Normalnya umur segini bukan saatnya lagi gue mencari jati diri. Itu juga kata orang-orang di sekitar gue yang jengah dengan keanehan gue. Hmm… Keanehan ini ditetapkan berdasar pada pola pandang mereka juga. Bukan gue. Menurut gue, gue normal-normal aja. Hhohoh.

“keanehan” ini awalnya bikin gue jadi kepikiran apa iya ada yang aneh di jiwa gue? kelainan jiwa? Okay. Jangan pake vocabulary yang itu.
Gue berbeda. Iya. So What? Masalah buat siapa?
Setelah gue tinjau dan pikir-pikir, gue nggak menyakiti hati siapapun atau merugikan orang lain dengan “kelainan” yang gue miliki.
So? Harus gimana? sesuatu yang nggak jahat, nggak buruk. nggak membawa masalah buat orang? kenapa orang yang rempong?
Gue bukannya orang yang anti-kritik. Cuma gue butuh alasan atau dasar kenapa gue harus “menyamakan” diri dengan mereka dan menghilangkan “kelainan” gue. Itu aja. Please.

Sesaat gue nelangsa. Iya. Makanya posting super galau yang gue bikin beberapa waktu lalu temanya nelangsa.
Nelangsa apa gue harus jadi orang lain agar bisa sama. Dan kalo begitu gue harus acting. harus berpura-pura. biar mereka happy? Yakin deh, kalo gue nggak happy dengan kepura-puraan itu, akan jadi aneh kalo mereka yang happy. berarti mereka happy di atas penderitaan gue yang terluka dalam sampe babak belur.

Sekarang? gue putuskan untuk tetap menjadi gue yang sebenernya. Gue nggak punya energi ekstra untuk jadi aktris seharian penuh atau seumur hidup gue. Biarkan natural. Nggak ada yang gue sembunyikan. Nggak ada yang harus gue tutup-tutupi.

Who really I Am.
Born to be a lady, but wanna stay girl.
Gue pengen jadi orang yang keberadaannya menyejukkan, bukan jadi orang yang kehadirannya cuma menjadi beban untuk orang lain, tidak diinginkan.
Gue pengen jadi orang yang bisa dikenali langsung secara mudah apa adanya, bukan jadi orang yang perfek di luar tapi mengecewakan kemudian. Biarin aja. Karena gue nggak suka orang temenan sama gue cuma gara-gara apa yang dilihatnya saat gue lagi “normal” doang, tapi juga saat gue lagi “aneh”. Biar dia bisa jadi temen gue yang bener-bener temen. Bukan parasit.
Gue pengen orang-orang di sekitar gue tau kalo gue berbeda, dan pengen mereka menghormati perbedaan itu sejauh gue nggak menyakiti siapapun dan nggak ada kejahatan apapun yang gue lakukan, at least, mereka nggak memaksa gue untuk jadi yang mereka mau.

Tau cerita beauty and the beast? Okay. Let’s switch. Beauty and the beast. Gue lah the beast. Dan orang lain beauty. Maksudnya beauty bukan untuk satu orang, tapi banyak orang. Gue gunakan term ini untuk menggambarkan orang-orang yang ada di sekitar gue, yang komplain dengan “kelainan” gue. Nggak mungkin banget alasan  beauty “berteman” dengan the beast adalah karena apa yang beauty lihat. Tapi karena beauty tau who really the beast is. Dan gue pengen mereka juga gitu ke gue. Tetap bersama gue karena mereka tau who really i am. Atau, sekalipun mereka tau who really i am.
hehehe.

#now playing 바보가슴 | 그립다 | 그대라는 한 사람

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s