Little trace; Mandate of Heaven

Di tengah ketidakpastian penyerahan tahta raja kepada putra mahkota, dipenuhi konspirasi sang ratu yang berusaha menyingkirkan anak tirinya, putra mahkota yang sakit-sakitan itu agar anak kandungnya sendiri dapat naik tahta, terjadi kemarau panjang di tanah mereka.
Untuk mencegah konspirasi sang ratu, putra mahkota bersikeras untuk menggantikan ayahanda raja melaksanakan ritual minta hujan. Saat itu mereka masih berkeyakinan bahwa raja dan keluarganya adalah penghubung mereka kepada “langit”. Seorang putra mahkota atau bahkan raja yang gagal menghubungkan mereka ke langit tidak akan mudah mendapatkan hati rakyatnya. Namun, putra mahkota mengesampingkan pesimisme, mengingat saat para bangsawan tidak mendukungnya untuk menjadi raja maka satu-satunya pendukung adalah rakyatnya sendiri, dia harus melakukan ritual minta hujan yang beresiko itu. Bukan saja beresiko dia gagal menurunkan hujan sehingga rakyat yang berpotensi menjadi pendukungnya menjadi kecewa terhadapnya, tetapi juga beresiko nyawanya yang terancam panah atau belati karena penjagaan yang semakin longgar di luar istana.

Dan you know what? Cukup lama sang putra mahkota berlutut, sujud, berdiri, berlutut, sujud, berdiri sampai keringat bercucuran, tidak ada tanda-tanda mendung atau akan hujan. Matahari menggarang. Rakyat jelata melihat calon raja mereka yang seolah tidak berdaya, membuat mereka meragukan dan bahkan berbalik kesal terhadapnya. Ada juga yang berpendapat bahwa yang dilakukannya sia-sia saja. Sampai tiba-tiba, sebuah batu dilempar ke arah punggungnya. Putra mahkota merasakan sakit akibat lemparan batu itu dan menoleh ke arah si pelempar. Begitu juga dengan bangsawan dan prajurit istana. Mereka melihat seorang bapak tua yang menggendong anak kecil. Dialah yang melempar batu itu. Tanpa sedikitpun rasa takut, bapak tua itu mengatakan dengan marah “You might as well take this child who is soon to die of starvation as a sacrifice to the heavens. You’ve exploited the people’s sweat and blood. The offerings you’ve prepared won’t be able to move the heavens.” Tak ayal putra mahkota terkejut dengan pernyataan si bapak tua itu. Begitu juga dengan mereka yang menyaksikan ritual tersebut. Mereka merasa apa yang sudah dilakukan memang sia-sia dan penguasa mereka tidak bisa melakukan apapun. Lalu, prajurit bersiap untuk meringkus dan menghukum si bapak tua. Namun, putra mahkota menghentikan prajurit, dan segera menggendong anak kecil yang sakit itu. Menyuapinya sup daging dengan telaten dan memerintahkan untuk membagikan semua persediaan makanan yang tadinya untuk persembahan kepada rakyat yang kelaparan. Sontak semua orang yang melihat terkejut dan tersentuh karena hal seperti itu tidak biasa dilakukan oleh seorang bangsawan, apalagi putra mahkota. Seorang penasehat mengatakan kepada putra mahkota “Your highness, you mustn’t do that.” dan penasehat itu sedikit komplain karena putra mahkota begitu berani mengambil makanan untuk “langit” dan memberikannya kepada rakyat. Dan putra mahkota menjawab “If the heavens are enraged because of this, then i won’t plead to these heavens. For whom am I holding this rain prayer ceremony and pleading the heavens for a heavy rain? Isn’t it so that everyone under the sun will no longer die of starvation from the drought?”. Sang putra mahkota pun memerintahkan untuk segera membagikan makanan untuk rakyat. Lagi-lagi, semua orang terkejut karena menurut keyakinan mereka, “langit” akan murka jika tidak ada persembahan. Dan kembali, putra mahkota mengatakan “If the heavens are angered because of this and are unwilling to make it rain, even if I have to die, I’ll use my tears to make rainfall. Quickly do as I say.” Melihat sikapnya yang begitu tulus, rakyat pun perlahan jatuh hati pada sang calon raja. Dan tiba-tiba, setitik air dari langit jatuh tepat di dahi anak kecil yang digendong sang putra mahkota, disusul dengan tetesan lainnya. Hujan deras.

#SepotongFrame
#CarriedAway

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s