For teenage soul: How to act to bad (?) people

Hari ini gue ngaji.
Pembahasan tentang surat Al Muthaffifin ayat 1-15.
Nah, di tengah pembahasan tentang tema orang yang berbuat buruk itu, diselingi dengan intermezo tentang berita ter-aktual terkait dengan “menghakimi” orang lain.
Kan udah gue bilang kalo gue bingung dengan self-serving-bias yang gue lakukan n pandangan buruk gue terhadap orang lain di luar “gue” yang menurut manusia, salah.
Guru ngaji gue bilang, setelah kita tau bahwa Allah lebih tau tentang orang yang berbuat kebaikan dan keburukan, seharusnya menjadikan kita sebagai orang yang memberikan ruang sebesar-besarnya untuk kekhilafan orang lain, pun ketika mereka salah, nggak perlu menghakimi karena yang salah menurut kita belum tentu seperti itu adanya di hadapan Allah, yang baik di mata kita belum tentu seperti itu adanya di hadapan Allah. So, nggak perlu sok tau. Kalo kita menyadari bahwa banyak sekali catatan historis kita di kitab yang bernama sijjin daripada ‘illiyyin, seharusnya kita bisa lebih sibuk ngurusin kekhilafan sendiri ketimbang ngerecokin kesalahan orang lain, apalagi sampe ghibah dan fitnah. Ups, gimanapun juga ini kesimpulan gue aja n ditulis dengan kata-kata sendiri. Guru ngaji gue menyampaikannya pake bahasa yang halus lembut. Hehe.

Menghadapi hujatan orang juga dibahas. Tentang orang yang menyangka ini dan itu, menghakimi ini dan itu, terlepas dari apakah anggapan itu benar atau tidak, tetep aja dia berjalan antara ghibah dan fitnah. Kata guru ngaji gue juga, kalo kita ngatain orang ntu, nggak ada kebaikan yang datang ke kita, malahan keburukan untuk diri sendiri. So, kagak ada untungnya.
Again n again, Allah lebih tau, Allah yang lebih berkuasa untuk memberikan balasan, untuk kebaikan dan keburukan. Kalo kita riweuh malahan bisa menyeret pada hal-hal buruk. So tenang aja lah. Sibuk aja sama memperbaiki dan membaikkan. Kalo kebanyakan emosi yang nggak bagus bisa meningkatkan kesempatan cardiovascular disease. Hehe.

Terus gue mikir, bukannya manusiawi kalo kita reaktif marah gara-gara orang lain yang berbuat keburukan menurut kita, atau mencela orang lain karena dosanya (padahal lupa sama dosa sendiri… Heungggg!), atau self-serving-bias dan nunjuk-nunjuk hidung orang lain di luar “Self” yang berbuat keburukan? Untuk ini, gue tercengang saat gue mendengar jawaban beliau tentang tujuan kita tarbiyah, yaitu tentang meminimalkan chance keburukan manusiawi yang ada. Manusiawi itu wajar, tapi kan manusia itu ada kecenderungan baik dan buruk. So, kalo bisa bergerak ke kutub manusiawi yang baik, kenapa harus mempertahankan dan memaklumkan diri secara bodoh dengan sifat-sifat manusiawi buruk? Hey, hal manusiawi tidak melulu hal jelek kan? marah dibilang manusiawi, padahal sabar juga manusiawi. Membenci dan kesal manusiawi, tapi mencintai dan memaafkan juga manusiawi. Pilih aja mau jadi manusia yang se-manusiawi apa.

Kesimpulannya, biarin aja orang mau jahat de el el, nggak usah terlalu dipusingkan apalagi kalo pusing yang nggak solutif. Cuma pusing doang. Orang yang jahat, biar aja Allah yang kasih pelajaran. Kalo dijahatin, ya bisa jadi ladang kebaikan karena bersabar. Udah gitu jadi tantangan untuk profesional menghilangkan segala subjektifitas dalam memandang “orang jahat”.

-Ngaji hari ini, first time ever since my moving-

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s