“Pencitraan”

Sejak gue mengikuti berita di tv, satu kata yang paling sering kedengeran adalah “pencitraan”.

Contohnya:
1. Mas jokowi yang blusukan keliling kampung2 kumuh dibilang pencitraan
2. Pak dahlan iskan yang naik ojeg ke istana negara dibilang pencitraan
3. Pak aburizal bakrie yang belanja ke pasar tradisional borong sayuran dibilang pencitraan
4. Pak ahok yang tegas di depan para birokrat terus di-upload ke youtube dibilang pencitraan
5. Pak dede yusuf yang jalan-jalan berkunjung ke masyarakat dengan motor dan diliput setelah beliau mencalonkan diri jadi cagub jawa barat dibilang pencitraan
6. Pak ahmad heryawan yang belajar membatik dari nenek-nenek dibilang pencitraan
7. Pak irman gusman yang bikin iklan di hari pahlawan mewakili DPD RI dibilang pencitraan
8. Pak Chairul Tanjung yang bikin buku terus disiarkan testimoninya sebagai iklan dibilang pencitraan
9. Pak Denny Indrayana sidak ke lapas dibilang pencitraan
10. Pemulung pemberi qurban yang di-shoot tv nasional juga dibilang pencitraan
dan masih banyak lagi deh. Sampe capek sendiri nulis n mengingat-ingatnya.

Dari komentar “pencitraan” itu, gue jadi mikir beberapa hal.

1. Udah nggak percaya dengan ketulusan
Kayaknya hal-hal yang baik dan berpotensi memberikan kesan baik di masyarakat selalu dianggap “pencitraan” karena kita udah nggak percaya kalo ketulusan itu masih ada, terutama oleh pejabat-pejabat publik yang rata-rata berkecimpung di dunia politik n beredar di sekitar penguasa. Kita itu udah terlalu skeptis dengan orang baik. Disadari atau tidak kita udah nggak percaya kalo ada orang-orang yang hatinya masih baik dan tulus. Sorry nih ya, terlepas dari apa yang sebenernya ada di hati orang-orang yang dibilang melakukan pencitraan itu. Padahal, selagi dia melakukan yang nggak salah, kenapa kudu disewotin. Mau nyumbang masjid dibilang pencitraan? Ya..biarin aja. Toh urusan ikhlas atau tulus itu urusan dia sama Allah. Kalo emang ada maksud tersembunyi ya nggak perlu lah terlalu diributin. Kita kadang-kadang sok tau gitu, sok membaca hati orang.

2. Gampang Ber-prasangka buruk
Kalo ada yang melakukan kebaikan terus disiarkan, yang bilang pencitraan tadi, tentunya mikir “ih, pasti ada maksud dibalik kebaikannya itu”. “Pasti karena mau pilgub”. “Mau naikin elektabilitas ya?”. “Ah..pasti ada maunya..”. Ya iyalah, makanya jadi keluar komentar “pencitraan”. Nggak bisa ya berprasangka positif dikit? Tapi nggak aneh juga sih, karena rakyat udah sering dibohongi. Makanya terjadi hal yang nomor 1 dan nomor 2 ini.

3. Mental minder
Minder ini sebenernya terjadi tanpa disadari sehingga saat seseorang yang melakukan sesuatu yang nggak dilakukannya atau nggak bisa dilakukannya, yang keluar adalah komentar “pencitraan”. Misalnya ada yang blusukan ke kampung-kampung kumuh, dan dia nggak bisa melakukan hal itu,  karena minder dan nggak mau mengakui kelebihan orang lain, ya dibilang “pencitraan” deh. Padahal dalam hatinya minder, kok gue nggak bisa kayak gitu ya…

4. Iri dan dengki
Ini nih yang agak aneh. Orang yang iri atau dengki, akan selalu riweuh kalo orang lain melakukan kebaikan yang dia nggak bisa lakukan. Jadi gampangnya gini, ada sesuatu yang baik yang dia nggak bisa lakukan, orang lain juga jangan sampai melakukannya. Kalo tetap aja orang lain tadi yang dia iriin melakukannya, ya dibilang “pencitraan”. Idih… aneh kan…

Kalo untuk gue, apapun kebaikan yang dilakukan orang ya biarin aja lah. Ngapain ngira dia cuma pencitraan. Kalo dia nggak bermaksud pencitraan kan berarti kita udah berprasangka buruk. Lah kalo emang dia bermaksud pencitraan, ya biarin aja. Kalo nggak mau dikalahin n mengaku orang yang tulus plus nggak niat pencitraan, lakukan aja yang mau dilakukan. Nggak perlu ribut geratakin yang dikerjain orang. Kalo takut kalah dengan orang yang melakukan pencitraan ya jangan cuma ribut, kenapa kita nggak melakukan hal yang lebih baik. Toh masyarakat kan bukan cenayang, penilaian yang keluar karena pencitraan itu muncul akibat sesuatu yang menyentuh mereka secara langsung n diterima oleh hatinya, yang ber-efek langsung ke mereka dan menjawab kebutuhan mereka.
Misalnya, pak jokowi yang blusukan ke kampung-kampung kumuh, terus masyarakat suka. Ya iyalah, karena tipe seperti itu yang mereka butuhkan. Nggak peduli analisa politik orang-orang rempong yang menganggap pak jokowi cuam pencitraan atau ada misi tersembunyi dibalik itu. terserah. Masyarakat nggak peduli cin…

Pak ahmad heryawan yang belajar membatik dari nenek-nenek, menyisakan kesan pemimpin yang merakyat n humble, terus masyarakat suka. Ya karena tipe demikianlah yang mereka suka n menyentuh hati mereka. Tentang analisa bahwa beliau melakukan pencitraan untuk mengangkat elektabilitasnya yang nyalon lagi jadi cagub jabar, terserah.

So, menurut gue, pencitraan, why not? emang harus kok. Kalo nggak ada kegiatan pencitraan, gimana mau menunjukkan kualitas seseorang coba. gara-gara media juga pencitraan sering kali dianggap negatif. Kayak disamain sama riya’ gitu kali ye…
Ada orang baik yang nggak ter-ekspose media, terus dia melakukan kebaikan, ya kebaikannya nggak ter-expose secara massif n masyarakat jadi nggak bisa menilai apapun. Yang saya ceritain ini adalah tentang salah satu pemimpin yang saya tau beliau orangnya sederhana n humble. Nggak ada yang tau kan? ya karena beliau nggak bawa media kemana-mana. Nggak ada juga yang tertarik ngintilin beliau dari pagi sampe pagi lagi atau menulis tentang beliau di berita atau memberitakan di tv kayak pak jokowi. Nanti, pas misalnya mau nyalon lagi, terus sebagai salah satu strategi, tentunya akan ada banyak liputan tentang beliau di koran-koran, nah bakal dibilang pencitraan deh, padahal yang dilakukannya itu udah biasa dilakukannya jauh sebelum diliput media n jauh sebelum ada strategi peningkatan elektabilitas itu.

Di koran daerah gue aja sekarang ada satu eksemplar khusus buat yang mau kampanye. Apa aja dibikin. yang naik becak lah, yang nanem pohon lah, yang ngeruk sungai lah, yang bagi sembako lah, yang ngadain majlis ta’lim lah.
Sejauh pengetahuan gue sebagai makhluk yang nggak bisa mengukur hati orang lain, ya biarin aja lah. Yang penting dia nanem pohon, kan baik. Ngeruk sungai, kan bagus. Bagi sembako ya alhamdulillah. Majlis ta’lim, ya mantap.
Mau dia pencitraan kek, mau kagak kek, terserah. Karena gue nggak mau terlalu “hiperkorek” yang sampe-sampe ujungnya malah jadi sok tau n berprasangka buruk. Capek sendiri toh. Hehe… kok gue jadi ber-api-api gini.

Ya kedepannya gue berharap orang-orang yang sulit mengakui kebaikan orang lain nggak perlu banyak cuap-cuap di media nasional. Cuma menyebarkan awan mendung n efek negatif aja ke masyarakat dan akhirnya, jadi susah bersyukur sama keadaan yang ada. Ngerasa dizholimi terus, nggak sempet mengambil hikmah, nggak sempet bersyukur, cuma nyalahin keadaan. Segala yang berlebihan kan juga nggak bagus apalagi kalo berlebihan dalam konsumsi prasangka-prasangka negatif. Bawaannya jadi curiga terus deh.

Hanya sekedar keheranan dan kelelahan gue mendengar opini yang gampang banget nge-judge “ah pencitraan aja tuh…”. Apa nggak ada lagi ruang untuk kebaikan dan ketulusan orang di hati elu-elu pade? nggak capek ye? hehehe… ^^

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s