When they refuse you

Gue berlangganan quote-quote dari kakanda Mario Teguh. Pernah suatu kali, ada quote-nya begini

tidak ada ide yang ditolak, jika orangnya tidak ditolak

Saat itu gue langsung inget banget n introspeksi diri, karena gue nyadaaaaaar banget kalo ide gue sering ditolak, bahkan nih ya, yang awalnya diterima, eh pas orang-orang pada tau kalo itu ide gue, langsung deh dianalisa dengan lebih mendalam sampe-sampe ujung-ujungnya ide gue ditolak. Hehe…

Sebelumnya gue memegang teguh banget prinsip “saat seseorang menyampaikan kebaikan, jangan lihat siapa orangnya, tapi lihat apa yang disampaikannya”.
Tapi sepertinya gue terlalu banyak berinteraksi dengan orang-orang yang entah disengaja atau tidak bersikap “lihat dulu siapa yang ngomong”, “nilai seseorang itu dari kualitasnya”, yang tentunya kualitas dan sudut pandang yang mereka mau lihat itu berasal dari standar kualitas dan pola pandang mereka sendiri.
Hal itu gue alami secara pribadi sewaktu gue pernah mengomentari sesuatu di suatu milis. Waktu itu entah gue kesambet apaan, yang jelas gue berani-beraniin “angkat bicara” dan memberikan pandangan gue atas sebuah tulisan di milis itu. Terus ada yang mengomentari komentar gue itu dengan nada sepakat, dengan nada sependapat dengan apa yang gue sampaikan. Naaamuuuunnn, di akhir komentar, ternyata dia salah kira, dikiranya gue adalah orang yang dia kenal, yang lebih tua dari dia, n sangat terkenal dengan kemampuan dan kearifannya yang jauuuuhh banget dari gue. Gue taunya karena ntu orang salah “menyapa”, karena dia nggak tau itu alamat email gue, dan nama gue amat sangat pasaran, so dikira orang lain deh. Tapi gue nggak ambil pusing, malah ketawa ketiwi.
Terus, gue coba lagi angkat bicara di sebuah forum. Perasaan nih ya, nggak ada hal-hal aneh yang gue bikin di situ. Tau-tau dateng email pribadi ke email gue yang mengomentari secara personal yang gue bikin sebelumnya, ya, orang yang tadi juga. Di emailnya itu terdapat kata sapaan yang jauh berbalik dari cara dia menyapa sebelumnya, yang dikiranya gue lebih tua, eh sekarang dia udah tau kalo gue ini jauh lebih muda dari dia, dan ternyata dia juga udah nyadar kalo dia salah orang n salah kira selama ini. Di email itu, gue agak-agak syok, soalnya dibilangnya gue ini punya pemikiran yang agak-agak beda dan aneh. Intinya pemikiran gue itu ditolak mentah-mentah ama doski, ya mungkin gaya bicara gue juga yang ketawan ancurnya, dia tau gimana erorudin-nya gue di kehidupan sehari-hari, dia tau gue ini anak ingusan yang pengalamannya yang ilmunya jauh banget dari status “berkualitas”. Ya udin deh, nggak masalah juga. Tapi gue cuma heran aja, awalnya sebelum dia tau gue ini siapa, perlakuannya sangat bijak, pun ketika gue ada salah-salah, eh pas dia udah tau gue ini siapa, langsung aneh gitu, ya kalo boleh gue curcol, bagi gue itu cukup kasar untuk seorang gue yang masih terus belajar menjadi arif.
saat itu gue jadi menyimpulkan kalo orang ini masih menilai dari yang bicara, bukan dari apa yang dibicarakannya. Sekalipun apa yang gue sampaikan juga nggak sepenuhnya bener, minimal cara dia menanggapi itu lho, bisa nggak kalo nggak sekasar itu.

Pernah juga gue punya ide yang gue sampaikan di depan teman-teman gue melalui pemimpin di kelas gue. Eh, boro-boro dipertimbangkan, bahkan ide gue itu dianalisa sendiri, dijawab sendiri, dan ditolak sendiri oleh dia. Huks… Ya, gue juga nyadar kalo gue pernah punya masalah sama dia. Kami beda pemikiran. Jauh banget.

Ada juga kejadiannya gue mau ngasih usulan. Pas gue sampaikan, adaaaa aja yang kurang tepat n ujung-ujungnya usulan gue tertolak. Terus, ada kakak gue yang menyampaikan, padahal intinya sama dengan apa yang gue bilang, cuma redaksionalnya aja yang diplomatis. tanpa banyak diperdebatkan, apa yang dia bilang dipertimbangkan dan akhirnya jadi keputusan akhir. What? apa-apaan ini. Giliran gue yang ngomong langsung dimentahkan. Emang sih kakak yang menyampaikan itu punya karisma yang lebih mantap daripada gue.

setelah gue dapet pencerahan dari quote-nya pak MT, gue baru inget n sadar kalo yang ditolak itu bukan ide gue, melainkan yang ditolak itu adalah gue secara personal. Huks… Kalo gue udah ditolak secara personal, mau apapun yang gue bilang walaupun itu baik dan bisa jadi pertimbangan, ujung-ujungnya nggak bakalan diterima. Lagi-lagi, yang ditolak itu bukan ide gue, tetapi gue.

Tapi gue nggak mau kecil hati karena semua ini proses. Gue dapet pelajaran kalo kesan itu memang perlu karena itu akan mempengaruhi sejauh mana gue bisa mempengaruhi komunitas gue. Dengan banyaknya kekurangan yang gue punya sehingga membuat gue dipandang dengan mata terpejam #boro-boro sebelah mata, gue mau belajar jadi lebih baik lagi. Oh iya, karena gue nggak suka dinilai dari apa yang tampak dari gue, gue bertekad untuk nggak menilai orang dari apa yang tampak. Gue pengen belajar menghargai orang lain, mengambil pelajaran dari semua orang, walaupun dia nggak lebih pinter dari gue, walaupun usianya lebih muda, walaupun dia baru lahir, walaupun pengalamannya nggak sama dengan gue.
Semoga Allah membimbing kita semuanya…

Tidak ada ide yang ditolak, jika orangnya tidak ditolak.

Maka keberhasilan membangun karir dalam bidang apa pun ditentukan oleh kemudahan orang lain untuk menerima pribadi Anda.

Bersama diterimanya pribadi Anda, diterima pula semua kebaikan yang ada di dalam diri Anda.

Mario Teguh – Loving you all as always

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s