A “FUNNY” Little Thing Called Love

“CINTA…”, #bacanya pake gaya mbak fenny rose di silet, mata tajam, tone bertenaga, dengan nada dasar do=B, pake style misterius kayak lagi rempong beud…

Sekali lagi, “CINTA…”, gue juga kaget sendiri ternyata hari ini gue dapet ide tentang cinta. Hahaha… sejujurnya tema ini cukup gue hindari karena gue juga nggak banyak tau, entar malah jadi sok tau. Ya, tema ini masih tabu. Tapi kalo dicoba-coba, jadi kayak mbak fenny rose di silet, mengangkat hal-hal yang tabu menjadi layak dan patut untuk diperbincangkan. Hehehe…

Eh, gue baru ngeh, terima kasih bu guru yang mengajarkan grammar bahasa Indonesia, sekalipun bahasa Indonesia gue hancur lebur, minimal gue masih inget beda kata depan dengan imbuhan. Sebelum membahas maksud dari judul gue di atas, check this one out.
Tadi gue bilang “mbak fenny rose di silet”. Kata di, pada kalimat tersebut adalah kata depan yang menunjukkan keterangan tempat. Kalo dibuat “mbak fenny rose disilet”, Kata di pada kalimat itu adalah imbuhan yang menunjukkan predikat pasif. Hehe… #intermezzo, untungnya gue nggak salah tulis.

Okeh, okeh.
A Funny little thing called love. Gue bikin “funny” bukan “crazy” kayak di film “a crazy little thing called love”. Karena biar nggak nyama2in, dan juga karena yang gue maksud juga kelucuan bukan kegilaan. Hehe..
Gue juga nggak yakin mau bahas apaan.

A Funny Little Thing Called Love.
Menurut gue, cinta itu menuntut perhatian, dan jika perhatian itu tidak tertampilkan oleh orang yang kita cintai atau tidak kita tampilkan kepada yang kita cintai, boleh jadi akan muncul perasaan sedih n kecewa. Iya nggak sih? ya mungkin nggak semua orang sependapat. Misalnya, waktu kita lagi ada masalah, lagi sedih dan merasa terpuruk, terus teman terdekat nggak ngeh, cuek-cuek aja, atau tidak terkesan ngerti perasaan kita, mungkin kita udah misuh-misuh n menyimpulkan “kamu nggak ngerti perasaan akuhhh…”.
Nah, pada titik ini kita ngerasa sendirian. ngerasa kecewa karena nggak ada yang bisa dijadiin shoulder to cry. O iya, apalagi kalo persahabatan yang kuat itu sudah kita patrikan dalam hati, udah sangat yakin bahwa sahabat itu adalah saudara kita, ya sebut saja ukhuwah.

Begitulah, cinta akan menuntut perhatian yang lebih, saking lebihnya, kita mau diperhatiin, dimengerti, dan dipahami tanpa menyampaikan masalah kita apa, tanpa curhat. Mungkin saking cintanya, kita anggap orang lain yang dekat dengan kita atau seharusnya terikat dekat dengan kita kudu berubah jadi anak indigo atau cenayang yang bisa baca pikiran orang, baca mata, baca kata-kata, atau baca tanda-tanda alam, ini udah masa panen atau masa tanam. Psikolog aja yang punya ilmu membaca perilaku paling taunya cuma sebatas kita ada masalah atau tidak, tapi kalo mau tau masalahnya apa ya tetep aja kudu bilang, “ngomong…”.

Saat kita lagi ngerasa sendirian dan diselimuti pikiran-pikiran negatif yang memang semakin membuai kita dalam kekecewaan, kadang-kadang bikin puas sendiri karena ngerasa punya alasan kuat untuk kecewa dengan cinta dan semakin menyalahkan keadaan, menyalahkan mereka yang seharusnya mencintai kamu dan mengerti kamu karena katanya cinta, dan kita bisa ngerasa udah menghukum mereka yang nggak pengertian itu evil-tought. Kalo udah makin sakit, ujung-ujungnya mungkin kamu bakalan menjauh dan menyendiri, memisahkan diri, ya kamu bilang sih itu bikin kamu lebih nyaman. Tapi cobalah tanya sama hati kecil kamu, kok sampe hari ini setelah sekian lama kamu memutuskan untuk menjauh dan melupakan cinta itu, kamu masih aja ungkit-ungkit kekecewaan itu, masih aja pasang tampang meng-hukum tiap kali kamu ketemu mereka yang kamu bilang tidak peduli dengan kamu. Boleh jadi di hati kamu masih tersimpan rasa cinta yang sama.

Sekitar 5 tahun yang lalu gue dapet simulasi tentang ukhuwah. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, dipisah-pisah gitu, terus dibagikan puzzle yang harus disusun dalam waktu yang telah ditentukan. Awalnya mikir, ah gampang, puzzle nya nggak banyak, cuma beberapa pieces, lagian puzzle kan mainan gue dari sebelum gue tumbuh gigi pertama. Sebelum mulai, gue perhatiin itu potongan puzzle, kok bentuknya nggak teratur, n ada beberapa pieces yang bentuknya sama, yang gambarnya sama, dan memang sama…
Lho? nah, peraturan dari permainan ini adalah kita bisa menyelesaikan puzzle ini jika mengumpulkan pieces yang sesuai, ya tentunya bagian-bagian pieces yang kita perlukan dipegang oleh kelompok lain. Namun, syaratnya kita nggak boleh minta apalagi ngambil punya orang walaupun dengan cara brutal itu penyelesaian puzzle bisa lebih cepat #akal bulus. So, dimulailah permainan ini. Dalam 5 detik pertama semua terkesan chaos, banyaaak banget yang datang ke kelompok gue sambil ngasih pieces puzzle, udah kayak hujan puzzle. Huaa… akhirnya datanglah petunjuk Allah yang menunjukkan kalo itu pieces harus kita kasih ke kelompok sebelah, kasih aja, apalagi kalo kita udah punya. Tapi ada juga yang kelompok gue belum punya, tapi kan nggak boleh minta. Weleh..weleh… tapi tanpa diminta, datanglah pieces yang kami perlukan. Dan singkatnya, puzzle itu berhasil diselesaikan oleh semua kelompok tanpa ada satu pun yang puzzle nya nggak selesai. Dahsyat kan. Di saat itu gue angguk-angguk, ya cinta, ukhuwah, persahabatan, adalah tentang memberi bukan meminta. Dan selayaknya saudara yang baik, jangan biarkan sahabatmu menunggu lama penuh harap atas haknya, apalagi sampai memintanya.

Lucunya cinta, bisa menyakiti karena merasa cinta hanya sebuah teori yang karena bagi kita, cinta haruslah ditunjukkan dengan hal-hal indah yang ada dalam harapan kita.
Tapi begitulah jika cinta menjadikan kita merasa harus menerima sebanyak-banyaknya perhatian, bukan menjadikan cinta sebagai alasan untuk memberi sebanyak-banyaknya dan seindah-indahnya perhatian untuk orang yang tercinta.

Hmm… sahabatku yang tercinta. Beneran kalo kamu nyuruh gue jadi cenayang, please, jangan… Gue nggak mau kerja sama dengan jin ifrit biar jadi sakti. Gue bukanlah mama loren atau anak indigo yang bisa tau kalo kamu lagi ada masalah kalo kamu nggak bilang. Jangankan mama loren, mama lemon pun gue nggak punya, karena gue pake sabun colek omo.

Gue,
Caring you as always

2 thoughts on “A “FUNNY” Little Thing Called Love

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s