“Ideologi Kekerasan”

Tanggal 29 September 2012, di metro tv, saya menonton metro highlight yang judulnya “Ideologi Kekerasan”. Ya, kekerasan sepertinya sudah jadi cara ekspresi kekecewaan dan kemarahan di hampir semua aspek. Chaos terjadi dimana-mana. Gara-gara kalah main bola lah, gara-gara kalah pilkada lah, bahkan alasan-alasan yang lebih miris seperti saling senggol saat menonton konser dangdut atau berebutan cewek. Yang teranyar bentrokan pelajar yang mengakibatkan nyawa pelajar melayang begitu saja. Menyedihkan. Kalau dipikir-pikir, kok makin ke sini pelajar jadi makin brutal. Yang belajar malah terkesan tidak terpelajar. Segalanya diselesaikan dengan adu otot. Hal ini menjadi begitu kontras dengan standardisasi dan akreditasi sekolah di Indonesia yang katanya sudah banyak yang standar internasional.

Ya, sebenarnya yang salah bukan sekolah sepenuhnya, toh ada peran lingkungan yang juga mempengaruhi pembentukan karakter seseorang. Hari ini, lingkungan yang ada juga tidak se-mono lingkungan dulu. Kalau sekarang dunia maya begitu mendominasi remaja. Games yang sering dimainkan remaja, acara tv, dan tayangan live yang mungkin terjadi di dunia nyata. Sadarkah? games burung yang main timpuk-timpukan, atau yang pernah saya mainkan, “perjuangan s####”. makin bahagia kalo lawan mati. makin ngakak kalo menembakkan semangka tepat di depan muka lawan dengan kekuatan penuh. Games-nya cagub juga yang amunisinya berupa bom bola. Terus ada film kartun juga banyak yang menampilkan kekerasan, dan yang mirisnya, semakin berdarah-darah, semakin menderita korbannya, semakin senanglah dia. Wuih… karakter psikopat banget kan…

Nah, yang terjadi di sekolah yang baru saja tawuran, tanpa mereka tahu apa masalahnya, hanya sekedar solidaritas dengan senior, tiba-tiba menaruh dendam kesumat dengan sekolah tetangganya. Sejak tahun 80-an euy. Padahal di saat itu entah mereka ada dimana.. Hanya sekedar ikut-ikutan. Yang jadi biang kerok ya seniornya. Di tahun pertama sekolah, adek-adek kelas yang masih lugu-lugu sudah diracuni dengan doktrin historis tentang dendam itu. Bukannya jadi senior yang baik dan mendidik. Senioritas jahiliyah.

Di akhir narasi metro highlight, narator menyebutkan tentang pencarian jati diri.

“solusi tepat adalah menumbuhkembangkan para siswa kepada simpul-simpul yang hidup dalam bersosialisasi sekaligus menyalurkan energi mereka pada aktivitas yang lebih bermanfaat, misalnya mulai dari kegiatan rohani, olahraga dan aktivitas lainnya penunjang kebutuhan belajar mengajar yang membuka peluang mencetak prestasi.”

What do you think? ^-^

Mau nonton videonya?

#Indonesia strong from home

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s