Tarbiyah madal hayah #2

Hari itu, seperti biasa di sebuah masjid, saya bersama beberapa teman sedang mendengarkan teman membaca Al Qur’an, agenda bernama tarbiyah alias mentoring alias liqo’at alias ‘usroh. Lalu saya menoleh ke samping karena dari ekor mata terlihat seseorang mendekat ke arah kami. Seorang muslimah yang begitu anggun, wajahnya sedikit berkeringat dan bernafas agak cepat karena terlihat buru-buru. Dan yang mencengangkan adalah, beliau sedang mengandung. Begitu terlihat effort untuk datang berbagi ilmunya. Subhanallah. Dalam hati timbul sebuah kekaguman, sejauh itu jarak dari rumah beliau ke masjid ini, tapi beliau hadir dengan bersemangat walaupun sebenarnya beliau bisa saja menyuruh kami yang mendatangi rumahnya sehingga beliau tidak perlu berlelah-lelah merentas jalan kota Padang dengan cuaca panas dan berdebu.

Sebuah teladan (lagi-lagi) saya dapatkan di pertemuan terakhir sebelum saya meninggalkan kota Padang. Tarbiyah yang saya jalani menjadi salah satu fasilitas hikmah yang menginspirasi. Beberapa hari sebelum pergi, saya dihadapkan dengan beberapa kisah yang terkait dengan naik turun semangat dibina dan membina. Untuk kali ini, yang menjadi titik fokus adalah membina.

Beliau telah mencontohkan kepada saya bahwa untuk menyampaikan kebaikan itu bukan menunggu orang untuk datang bertanya tentang kebaikan kepada kita, tmelainkan mencari dan mendatangi orang yang ingin menjad baik bersama kita. Bukan dengan menunggu sampai orang meminta kita untuk menjadikannya baik bersama kita, melainkan menjemput dan merangkul mereka. Istilah jemput bola sepertinya cocok untuk menggambarkan maksud saya.

Setelah kita mendapatkan suatu ilmu dan kebaikan, meneruskan kebaikan kepada orang lain bagi saya adalah suatu wujud kesyukuran. Ilmu itu seperti air yang jika mandek, tergenang, tidak mengalir, akan menjadi tidak bermanfaat bagi orang lain bahkan akan menimbulkan penyakit pada diri sendiri. Namun sering kali, keinginan untuk menyampaikan kebaikan terhalangi oleh kemalasan, ketakutan, atau malah, egoisme pribadi. Sangatlah disayangkan jika seorang yang baik, tidak berminat untuk membaikkan. Sangatlah menyedihkan jika seorang yang baik, mengabaikan dan mempersulit orang yang berminat untuk menjadi baik dengan belajar baik kepadanya. Sangatlah disayangkan jika kita yang ingin menjadi baik, malah menjadi orang kikir dan sombong karena tanpa sadar menjadi “jual mahal” dan “pantang diarok” dalam beramal kebaikan bersama.

Ya, sering kali saya menolak mengisi mentoring hanya gara-gara (sok) sibuk, hanya gara-gara senioritas, hanya gara-gara pola pikir “yang perlu mentoring siapa?”, hanya gara-gara konsep “wani piro?”.
Sebuah teladan besar yang berseliweran di depan mata, bukankah disayangkan jika tidak berhasil menemukan hikmahnya?

Sebuah hikmah yang didapat, bukankah disayangkan jika tidak mau meneladaninya?

sebuah inspirasi; tarbiyah madal hayah

2 thoughts on “Tarbiyah madal hayah #2

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s