Sebelum jauh-jauh

Teruntuk kita yang menuntut ilmu.

Dalam hati tentu bercita mulia, ingin membuat perubahan yang lebih baik untuk kita.

Entah itu perbaikan kesejahteraan, atau jika kita bekerja dengan passion ikhlas ingin bantu orang, atau jika sekedar ingin di-label eksis dan nomor wahid. it’s up to you karena niat urusan kita dengan Allah.

Tak dapat dipungkiri, dunia pendidikan menjadi salah satu pilar utama dalam masterplan grand design negara bermartabat.

Untuk mencetak pemimpin yang bermutu, dimulai dari pendidikan yang baik. Namun kita sering mengabaikan karakter “soft” dalam diri manusia.

Sebagai contoh, sekarang siswa SD-SMA dihadapkan dengan Ujian Nasional. Tadinya yang dikhawatirkan adalah para siswa berbuat curang di ujian, tapi ternyata tidak cuma itu, bahkan gurunya sendiri yang jadi biang kerok kecurangan.

Jadi teringat saat SMA,. Beberapa hari sebelum UN, salah seorang guru berkata “nanti pagi-pagi itu ada nasi uduk sama nasi kuning”. Saya yang mungkin setengah ngantuk waktu beliau bicara, jadi sedikit terjaga “Hah? dapet sarapan sebelum ujian? wahh….baik banget..”. ini mikirnya dikasih sama pak walikota yang waktu itu gencar-gencarnya mendekatkan diri dengan para siswa, sampe-sampe di kokarde ujian ada foto beliau. hehe.. teman yang duduk di sebelah saya lalu memperjelas, bahwa nasi yang dimaksud adalah kunji jawaban. berhubung ada 2 tipe soal, jadi harus hati-hati jangan sampai membuat jawaban dari kunci yang salah. Gubrak!

it’s based on true story.

Cerita lainnya, saya senang mendengar semangat dari teman-teman yang begitu ingin profesi apoteker diakui sebagai profesional kesehatan yang bisa tampil bersama klinisi lainnya.

ada yang mencak-mencak ketika apoteker dianggap profesi marginal.

ada yang megap-megap ketika jasa apoteker tidak dihargai sebanding dengan profesi lain.

ada juga yang solutif untuk belajar lebih giat untuk mempersiapkan diri, melayakkan diri.

ada juga yang ingin dihargai tapi tidak mau belajar keras.

Nah… sebelum jauh-jauh, saya sebut saja di sini curang ketika ujian.

Sebelum jauh-jauh kita membantu orang lain dengan nilai-nilai A indah di transkrip nilai kita, mari kita tengok lagi, dengan cara apa kita mendapatkan itu semua.

Sebelum jauh-jauh ingin diri sejajar dengan profesional lain, mari kita kaji, apa yang sudah kita lakukan untuk itu semua.

sebagai catatan, ujian yang dimaksud di sini kecuali ujian open book, atau jenis2 ujian lain yang memang dihalalkan kerja sama atas restu dosen yang bersangkutan.

Mencontek dengan teman? bikin “jimat”? memanfaatkan smartphone untuk melihat pdf atau ppt bahan kuliah? atau browsing di mbah google?

Sebelum jauh-jauh kita ingin diakui, mari kita tilik lagi. Layakkah kita diakui sebagai seorang profesional jika kita hanya mementingkan hasil daripada proses itu sendiri?

Layakkah masyarakat bertanya tentang hal yang “menyangkut” kesehatannya kepada orang yang ujiannya saja “curang”?

Untuk dunia pendidikan.

Sebelum jauh-jauh kita jumawa merasa menjadi salah satu pilar kemajuan bangsa ini, sebelum jauh-jauh kita meng-klaim sekolah kita sudah banyak yang rintisanbertaraf  internasional, sebelum jauh-jauh kita klaim negara kita terbaik di ajang olimpiade ini itu, mari kita berkaca lagi. Mungkin kita sudah lupa, bahwa ada pepatah yang isinya jika guru …. berdiri, maka murid …. berlari. saya malas menyebut kata predikat di sana.

sebelum jauh-jauh membentuk anak didik yang baik, mari sama-sama kita sembari memperbaiki diri. kalau ingin muridnya tidak curang, gurunya jangan ikut-ikutan bantuin curang atau melakukan kecurangan termasuk ketika tes ujian masuk ingin jadi guru (kabarnya ada juga beredar kunci jawaban untuk tes semacam ini).

begitulah jika prestasi dinilai HANYA dari hasil tanpa memandang proses itu sendiri.

Kualitas hanya dihitung dari angka-angka di atas kertas.

Hanya dari hitungan-hitungan statistik yang lagi-lagi sekedar angka-angka.

Indonesia hopeless? jawabannya yes or no? ada pada diri kita masing-masing.

Masih ada kesempatan. Ayo kita berusaha sebaik mungkin. karena kompetensi sesungguhnya bukan pada nilai semata, namun pada sejauh mana kita memahami yang kita kerjakan. Semangat.

Saling mengingatkan dalam kebaikan, kesabaran, kasih sayang

Salam semangat

dpw

 

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s