Prihatin

Rasulullah sudah menyarankan kita untuk sering bersilaturrahim, bisa melapangkan rezeki dan memperpanjang usia. Rezeki nggak harus materi dong, ilmu yang bermanfaat juga. Hikmah dan ilmu bisa kita dapakan dimana saja, kapan saja, dari siapa saja, bisa bertambah juga dari momen silaturrahim, dari semua orang yang dijumpai.

Ini cerita tentang nasehat dari seorang bapak, mertua dari kakak saya, yang baru-baru ini bersua. Beliau ramah dan suka ngajak ngobrol. Saat saya mau pamit pulang dari rumah kakak saya itu, sang bapak bertanya “naik apa pulang?”. Saya bilang “nanti jalan kaki aja pak, terus naik bus.” tiba-tiba beliau bilang “iya…nggak apa-apa, prihatin…”. Awalnya saya nggak ngerti maksud kata prihatin ini apa, soalnya saya emang udah biasa jadi pejalan kaki atau penaik kendaraan umum. Mungkin karena beliau melihat muka saya jadi senyum-senyum nggak paham, beliau bertanya lagi “ngerti prihatin?”. Saya jawab “nggak pak” sambil geleng-geleng. Terus si kakak bilang “bersakit-sakit dahulu…”. Ooooo…baru deh saya mengerti setelah dijelaskan. Sang bapak menasehati saya bahwa hidup itu memang dimulai dari prihatin, maksudnya bersakit-sakit dahulu. Nggak apa-apa jalan kaki, belum punya kendaraan, kan sekarang juga masih belum bisa beli sendiri. Nanti kalau sudah selesai kuliah, bisa cari uang sendiri, baru bisa beli kendaraan. Kalau sekarang, mendingan beli baju murah, bisa dapat banyak, agar bisa buat ganti pakaian, bersih, daripada beli baju mahal tapi cuma satu, nggak ganti-ganti. Dari nasehatnya saya menangkap nasehat untuk hidup sederhana, tidak terpancing mengikuti gaya hidup mewah n glamor, apalagi kalau masih nemplok logistik sama orang tua. Jadi jangan bikin susah ortu dengan keperluan-keperluan mewah yang tidak urgen, apalagi kalau cuma buat gaya-gayaan. Tulisan ini bukan mau ngerecoki teman-teman yang udah punya kendaraan atau barang mewah ya. Sang bapak kan menasehati saya agar tidak berkecil hati walaupun nggak punya harta berlimpah, agar saya senantiasa menyukai hidup sederhana. hehe… Intinya, kuliah dulu, belajar yang bener, gaya nggak perlu-perlu banget. Pendidikan itu penting.

I agree with him.

Saya mengangguk-angguk mantap.

Sayangnya obrolan harus berakhir gara-gara beliau harus cepet-cepet nyamperin kelincinya yang keluar halaman, dan saya harus segera pulang kalau mau nyicip naik transmusi (busway nya palembang).

Terima kasih ya pak. ^^

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s