Mengais Nasionalisme yang Tertimbun

Dulu negara kita dijajah, oleh portugis, belanda, jepang, inggris. Lalu rakyat bersatu untuk memukul mundur penjajah. Apa saja dilakukan. semua orang ikut serta. para pemuda, baik yang usianya memang muda, maupun yang usianya sudah tidak muda lagi, turut dalam perjuangan. para wanita juga demikian, kita sudah mendengar kisah cut nyak dien yang tidak takut angkat senjata mengusir penjajah dari tanah kita. tidak hanya dengan turut ke medan perang, rakyat berjuang bersama dengan kemampuannya masing-masing. semua bersatu karena ada common enemy dan kesatuan tujuan, yaitu kemerdekaan. yang dihadapi adalah penjajah dari negara lain.

Nah… hari ini, kurang bergema rasa nasionalisme kita. nasionalisme bukan ditandai dengan hormat kepada bendera atau sekedar hapal pancasila dan undang-undang dasar. nasionalisme adalah sebuah tekad untuk memperjuangkan dan menjaga negara ini dengan lebih baik.

saya dulu mengikuti organisasi pasukan pengibar bendera di sekolah, walaupun tidak sampai jadi pengibar di tingkat kota, provinsi, ataupun nasional, ya karena secara fisik saya tidak masuk hitungan. tapi di dalam hati, saya benar-benar cinta Indonesia yang saya simbolkan dengan bendera negara ini, merah putih. saya akan segera berlari ke tengah lapangan kalau saya melihat orang yang sedang latihan mengibarkan bendera tidak sengaja menjatuhkan bendera merah putih ke tanah. haram bendera negara saya menyentuh tanah, karena dia harus tetap berkibar sebagai simbol kejayaan negara. lalu, setiap masuk ke ruang sekretariat yang terdapat bendera merah putih di sana, kami harus hormat dengan sikap sempurna. saat berkecimpung di organisasi itu, saya senantiasa terpikir tentang kebaikan-kebaikan negara kita. saya akan selalu tersenyum ramah saat melihat foto presiden dan wakil presiden di dalam ruang kelas, seolah saya benar-benar bertemu mereka, seolah saya memang bekerja bersama mereka untuk negara ini, ya tentunya kerja dan peran saya sebagai generasi penerus. Namanya juga masih kecil, masih SMP. selama SMA saya juga masih ikut paskibra, tapi tidak selucu masih SMP. kalau sudah SMA targetnya adalah mengibarkan bendera di kota. membanggakan orang tua. tapi walaupun keingingan itu tidak tercapai it’s okay. saya paham mengibarkan bendera dengan baik sebagai wujud cinta Indonesia tidak harus di depan walikota atau gubernur, tetapi cukuplah saya merasa berterima kasih dengan para pahlawan yang rela membuang nyawa untuk kemerdekaan kita, untuk diwariskannya kepada anak cucu, yang ternyata sekarang, entahlah, apa bisa disebut tidak tahu terima kasih.

Lalu masuklah saya di kampus. mulailah saya mengetahui sedikit demi sedikit persoalan bangsa Indonesia. Yang korupsi lah, yang menjadi ladang eksploitasi para pengusaha lah, yang kaya tapi miskin lah. Ya, kaya tapi miskin karena kekayaan bangsa ini dinikmati untuk segelinir orang yang merasa memiliki negara ini, bukan nasionalisme, tapi saking merasa memiliki ini ya merasa kekayaan negara adalah kekayaan dia saja. dan saya pun merasa, kita belum merdeka, kita masih terjajah, tapi bedanya dengan sebelum proklamasi dan saat agresi militer belanda adalah: kita dijajah bangsa sendiri.

“-_-

ada apa ini sebenarnya. kenapa?why?kyu?we?

mengapa tega sekali bangsa ini terhadap bangsa ini. bunuh diri. menjadi api dalam sekam.

bagaimana caranya memerangi bangsa sendiri? melawan saudara sendiri toh?

saya sebagai anak muda merasa bersalah dengan para pahlawan, para pemuda pengusung bambu runcing, para wanita pembawa bakul besar saat bergerilya, para pahlawan tanpa nama yang tidak dikenal, yang dengan darahnya, dengan keringatnya, dengan lukanya, memperjuangkan kebebasan kita untuk hidup damai bersama-sama, sejahtera.

tapi malah sekarang negara ini miskin, rakyatnya miskin. rakyat yang dimiskinkan oleh para wakilnya, wong cilik yang dimiskinkan oleh pemimpinnya.

tak perlu lah para pemimpin gembar gembor tentang kesejahteraan rakyat di depan media, tapi pada praktiknya kebijakan tetap menjepit rakyat yang telah terhimpit.

dalam penjajahan masa kini,memang tidak secara masif terjadi pertumpahan darah,

tapi kami mati pelan-pelan,

dalam diam

menahan lapar

menahan tangis

ingin rasanya berbincang dengan pak dirman, yang sekalipun seorang jenderal, tidak minta dipanggil jenderal, cukup pak dirman katanya. “pak, kita belum merdeka pak. ayo pak.. kita gerilya lagi, kita perang lagi”. tapi pak dirman sudah gugur, bukan?

oh iya, ada lagi, di sana seorang pejuang yang sedang berbaring, tapi bukan tidur. ada sebuah lubang peluru bundar di dadanya, hanya menyisakan senyum beku untuk mengatakan kita sedang perang. iya.. kita sedang perang. kita sedang perang.

saya bingung.

apakah mereka yang menjajah bangsa ini tidak punya cinta, nasionalisme mereka bilang?

padahal di KTP-nya jelas mereka WNI, warga negara Indonesia.

ya sudahlah… percuma juga berkoar-koar. toh mereka sudah tahu. mereka sudah sangat nasionalis. tapi cintanya mungkin hanya kepada negara ini, bukan pada rakyatnya.

Muncul sebersit rindu kepada mereka pahlawan kemerdekaan, yang dikenal atau yang tanpa nama, sama.

walaupun kita belum merdeka, ini bukan salah mereka. mungkin mereka juga tidak menyangka penjajah sekarang adalah anak-cucunya sendiri.

Pahlawan merdeka

Nan gugur sebagai bunga

Harum lah mewangi atas pangkuan ibunda

Walaupun kamu telah gugur membuang nyawa

Tapi nan jasa mu tercantum sebagai satria

Kesuma nan indah

Oh bunga Negara

Aji jaya sakti meliputi

Pahlawan merdeka nan gugur sebagai ratna

Terpencar tersebar di bumi Indonesia

(Pahlawan merdeka: Lagu Perdjoeangan)

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s