Respect

Sebuah kata yang kita sukai saat mendapatkannya, sangat diinginkan, tapi sepertinya tidak mudah diberikan kepada orang lain. Respek, respect. berbeda dengan respon. Respon bisa saja negatif atau positif, tapi respek, insya Allah baik, menghargai.

1 hal yang sering kali lupa kita hargai, adalah guru.

Sorry, saya tidak sedang membuat tulisan tentang betapa mulianya para guru, tentunya tidak kita pungkiri lagi, bukan? tapi yang akan saya soroti adalah sejauh mana kita menghargai guru? apalagi bagi siswa atau mahasiswa atau mutarabbi yang merasa lebih banyak baca dan lebih pintar dari gurunya.

sewaktu SMA, saya merasakan berteman dengan beberapa teman yang sudah ikut 3 buah program bimbingan belajar di 3 tempat sekaligus. bahkan pelajaran 2 bulan lagi sudah dia pelajari di bimbelnya, sehingga dia hanya merasa butuh dengan diktat, dengan bimbelnya, dan hampir pasti mengabaikan guru yang menjelaskan di depan kelas. Yah..tentu karena materinya sudah basi, sudah lumat dikunyah jauh sebelum diajarkan di kelas. Dan hasilnya, mereka tidak memperhatikan di kelas. Memang tidak ribut, tapi sibuk sendiri-sendiri. Ada yang menggambar, ada yang main hape, ada yang ngobrol lewat tulisan, ada yang denger musik lewat headset. Dengan mata saya yang memang tidak besar pun saya bisa melihat, bahwa sang guru sedang tertegun berpikir, apa kekurangan dirinya, nanar matanya memandang murid-muridnya setelah menuliskan rumus fungsi di papan tulis, lantas duduk.

Ya,,,respect. itu mungkin yang kurang dari seonggok orang-orang pintar, atau merasa pintar. anak-anak cerdas, namun hatinya keras. cadas. tidak sensitif.

pun ketika di bangku kuliah. tidak sedikit mahasiswa yang mengatakan tidak ada gunanya dosen mengajar, karena yang diajar bukan kompetensinya, atau cuma memberi tugas presentasi, tanpa ada sedikit pun keahlian sang dosen diberikan di kelas. lebih baik belajar sendiri bukan? toh buku-buku sudah banyak. tinggal baca. tidak ada urgensinya datang kuliah kalau dosen nya tidak berkompeten. atau merasa apa yang diajarkan dosen tidak penting karena realitanya berbeda, karena dosen banyak yang akademisi, bukan praktisi. begitu kan kawan?

tapi, kita belum paham apa itu pendidikan.

pernah ada pengalaman menarik saat mengikuti halaqah. Sang Murabbi menyuruh datang jam 6 pagi, yang notabene matahari di kota padang masih berselimut kelabu. Saya diizinkan datang pukul 06.30 karena terkendala kendaraan umum. 6.27 saya tiba di tempat beliau. dan guess what? tidak ada materi hari itu. saat datang, cuma disuguhkan teh dan biskuit. lalu selesai. dipersilahkan bubar.lalu apa gunanya seperti itu? apa gunanya menyuruh datang kalau tidak ada apa-apa yang didapat?

hei..jika kamu berkata seperti itu, maka sebenarnya dirimulah yang tidak berhasil menangkap hikmah dari segala peristiwa, hikmah dari setiap jejak kehidupan. pada hari itu kita diajarkan tentang semangat memenuhi janji, semangat belajar disiplin, tepat waktu, dan manajemen waktu di awal hari.

lalu, tentang dosen saya yang kamu ejek dengan istilah tidak berkompeten, rasanya ingin berdo’a bahwa suatu hari kamu akan kena batunya. seburuk apapun dosen menurut kamu, sekalipun kamu lebih pintar dari dosen saya itu, please, jangan arogan, jangan terlalu angkuh, karena ilmu kita baru secuil dari selautan pengalaman sang dosen. bukankah kita harus menghargai? mungkin bukan ilmu akademis yang kamu dapat dari sang dosen, tapi seharusnya kita belajar tentang menghargai jerih seorang dosen yang rela datang untuk mengajar. bukankah mereka juga punya pilihan untuk sekedar masuk 1 kali lalu mengisi absen langsung 5 kali? atau mereka juga punya pilihan untuk tidak masuk sama sekali? tapi dosen saya yang kamu bilang hanya akademisi itu, memilih berbeda. bukankah banyak pertanyaannya yang tidak bisa kita jawab? karena itu akuilah, masih sedikit bacaan kita dibandingkan beliau. lalu jika kamu anggap teori itu tidak penting, lalu bagaimana kita mau praktek kalau tidak paham teori?

bukankah guru adalah orang tua kita juga?

jangan sampai keangkuhan akan kecerdasan yang kita miliki membuat kita terjatuh.

hargailah ketulusan yang diberikan oleh siapapun, karena belum tentu kita pun bisa memberikan ketulusan yang sesungguhnya.

Wallahu’alam.

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s