Alhamdulillah

Ini sebuah cerita, tentang seorang kawan.

Dulu, dia di kelas, dari TK sampai SMA, tidak pernah jauh-jauh dari juara kelas, paling jauh sampai peringkat 4 di kelas 2 SD, selebihnya, tidak lepas dari 3 besar. Mendapatkan predikat NEM tertinggi di SD-nya. Bahkan di SMP, tidak bergeser dari peringkat 1, dan di SMA, sukses masuk kelas unggulan, dan lulus SPMB 1 putaran. memiliki prestasi akademis dan non-akademis. Begitupun sampai di perguruan tinggi, cukup membanggakan orang tuanya (menurut saya). Tapi ternyata, kawan saya ini tidak pernah mendapatkan sepeda atau sepatu baru karena prestasinya itu. Banyak orang tua di keluarga lain yang akan memberi hadiah sebagai apresiasi atas prestasi anaknya karena juara kelas, atau bahkan raportnya biru semua saja. Tidak dengan keluarga kawan saya ini. Pernah dia merasa heran, kok tidak pernah mendapat hadiah, bahkan pujian hanya sebatas kata selamat di awal dan sebuah jabat tangan dengan orang tuanya, yang semua itu akan hilang sesampai di rumah. Semua menjadi biasa saja.

Sebagai anak, tentunya ada keinginan untuk diapresiasi. namun, orang tuanya mengetahui, apresiasi yang berlebihan akan membuat anak menjadi cepat puas dan ber-orientasi apresiasi. Melakukan dan mendapatkan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain. Hari ini dia bercerita kepada saya, dia justru bersyukur dengan didikan orang tuanya yang seperti itu. orang tua yang memotivasi dari dalam, membiarkan anak berusaha mandiri, dan tidak mengharapkan sesuatu dari orang lain. Lakukan saja apa yang kamu bisa lakukan, yang terbaik, karena hal yang baik itu akan kamu dapatkan, untuk kamu sendiri, bukan untuk orang lain.

ya… dilatarbelakangi dengan kondisi keluarga yang tidak kaya raya sampai bingung mau dikemanakan hartanya. Keluarganya bukan seperti itu. Atau, orang tua yang sering membaca tentang cara mendidik anak yang baik, bla.bla.bla.. tidak juga.

hari ini, dia bersyukur atas itu semua.

Karena dia khawatir, jika dia ber-orientasi penghargaan, maka dia akan mudah kecewa apabila dia tidak mendapatkan apa yang diharapkannya.  Dia khawatir mengerjakan sesuatu demi nama baik semata, atau demi prestise semata.

Alhamdulillah…

she says ” Thanks Allah for that…”.

=====================================================================================

karena hidup mengandung hikmah, dibuang sayang.

One thought on “Alhamdulillah

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s