Hidup kita: menjadi sebab

Sering kali manusia mengeluh atas sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya. Target-target yang tidak tercapai dalam satu hari yang telah direncanakan begitu sempurna, namun bisa jadi “berantakan” karena sesuatu yang di luar dugaan atau disebabkan karena kelalaian orang lain, kesalahan orang lain. Mungkin ada yang pernah mengalami kejadian seperti ini. Misalnya, adik tingkat saya yang sudah datang ke kampus pagi-pagi untuk mengurus administrasi di kampus, harus menunggu sampai jam 1 siang “hanya” karena berkas pendaftaran ulangnya dibawa oleh temannya yang datang terlambat. Bayangkan, mungkin dia sudah merencanakan untuk mendaftar pagi hari sehingga urusannya bisa selesai lebih cepat dan sudah membuat rencana untuk siang hari. Rencana indah untuk hidupnya hari itu yang diusahakan seefektif mungkin. Dalam hal ini, hidup kita yang tidak tepat waktu menjadi sebab orang lain harus menunggu lebih lama dari seharusnya.

Ternyata, bisa saja ketidaktercapaiannya target kita dalam hari itu menjadi sebab keberhasilan orang lain dalam menyelesaikan problemnya. Atau, batalnya rencana kita menjadi sebab bertemunya kita dengan rencana lain yang tidak direncanakan sebelumnya.

kemarin, karena dosen yang dicari ternyata sudah pulang, gontai lah saya berjalan untuk pulang. Dan tiba-tiba, terpikir untuk pergi membayar uang kuliah, padahal rencana ini sudah direncanakan untuk dilaksanakan H-2 deadline akhir pembayaran SPP..hehe.. gagal ketemu dosen menjadi sebab saya tidak menunda hal-hal yang  bisa dilakukan hari ini.

Beberapa minggu lalu, sempat direncanakan untuk jalan-jalan angkatan. Tapi ternyata, H-1, dibatalkan karena banyak teman-teman yang berhalangan hadir. Ya…gagal lah rencana indah refreshing keliling Sumatera Barat. Dan, Allah jadikan kegagalan rencana indah itu menjadi yang lebih baik, saya jadi bisa ketemu sama kakak saya yang udah 2 minggu tidak bertemu lantaran beliau lagi kuliah praktek di bukittinggi.

Hari ini, memutuskan untuk pulang lebih cepat karena target hari ini belum bisa terselesaikan karena sesuatu, tiba-tiba saya ditakdirkan untuk terlibat dalam “Lunch Rescue” di kolokium uni saya (ceritanya tidak penting, tapi yang jelas, saya jadi ada hal bermanfaat yang harus dikerjakan-hehe…). Mungkin ini tujuan Allah membuat saya segera meninggalkan gedung fakultas yang notabene hp saya tidak ada sinyal di sana sehingga telpon dari uni saya bisa masuk tepat 22 menit sebelum kolokium dimulai. Padahal di angkot, saya sempat teringat lirik lagu melly goeslow “sampai kapan kau gantung…”, maksudnya digantung kepastian sang dosen bersedia atau tidak jadi penguji di ujian sarjana saya. Ya… Hidup saya menjadi sebab.

Ada lagi, sekerat cerita dari novel “Rembulan tenggelam di wajah-Mu”, goresan dari Tere Liye.

Di dalam novel itu, ada kisah seorang pengurus panti asuhan yang “menyimpan” sumbangan untuk anak panti asuhan-nya sebagai tabungan haji. Ya…dia mengambil dana dari donatur yang padahal untuk anak-anak panti asuhan untuk keperluan ibadahnya, naik haji… Namun, kemudian terjadi sesuatu. Salah satu anak panti asuhan dikeroyok masyarakat karena dituduh mencuri, padahal tidak. Dan anak itu pun harus dirawat intensif karena rongga abdomennya terluka parah akibat pukulan keras yang menghantam tubuh ringkihnya. terutama ginjalnya, sulit diselamatkan. Pada saat itu, si pengurus panti pun harus mengeluarkan dana cukup besar untuk anak tanggungannya itu, dan dana yang ada hanya uang simpanan haji-nya tadi. Dan beliau pun menjadi sadar. bahwasannya uang itu memang bukan miliknya. dan Allah menyadarkan dia dengan kejadian yang menimpa si anak malang yang pada akhirnya nyawanya tidak tertolong itu. Maka hidup si anak tadi, kejadian yang menimpanya, menjadi sebab kesadaran diri si pengurus panti, menjadi peringatan oleh Allah untuk si pengurus panti agar tidak jadi menggunakan uang sumbangan untuk pergi haji, menyelamatkan si pengurus panti dari memakan harta anak yatim.

oh iya, teringat cerita guru bahasa inggris saya di SMP, Pak Qolyubi Yusuf. Beliau pernah bercerita tentang temannya yang menjadi buta karena keisengan temannya yang lain. Sepertinya biasa kita bercanda dengan menarik kursi teman ketika ia akan duduk sehingga dia terduduk di lantai. dan ternyata, ketika terhempas ke lantai, beberapa saraf yang berhubungan dengan penglihatannya tidak berfungsi lagi sehingga ia menanggung kebutaan dari saat itu. hidup kita menjadi sebab.

Mungkin kita merasa apa yang terjadi pada kita, apapun yang kita lakukan, jalan mana yang kita pilih, tidak ada hubungannya dengan orang lain. Tapi ternyata, begitu terkait. Mungkin pernah kita melihat sebuah sinetron yang mempunyai awal cerita simpel kemudian menjadi agak membingungkan karena tiba-tiba ternyata pada akhirnya si pemeran utama yang miskin adalah anak orang kaya yang tertukar, atau kisah dua sejoli yang gagal menikah karena ternyata mereka saudara kandung yang terpisah dari bayi atau ditukar di rumah sakit (bersyukur tidak suka sinetron karena ceritanya tidak penting, hobinya tertukar terus…). Begitu seperti labirin.

Yakinlah, skenario Allah lebih detail dan lebih kompleks lagi. Allah jadikan hidup kita sebagai sebab. Bisa menjadi sebab untuk masa depan kita, atau menjadi sebab untuk kehidupan orang lain. Yang jelas, tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang kebetulan, karena sebenarnya hidup kita menjadi sebab.

6 thoughts on “Hidup kita: menjadi sebab

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s