What’s going on

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itulah pribahasa Indonesia yang menggambarkan penderitaan yang bertubi-tubi. Tapi ternyata pribahasa yang terdiri dari 2 frasa itu tidak dapat melukiskan semua hal yang terjadi di tempat yang jauh dari Indonesia kita, berpusat di sebuah tempat kecil yang dinamai Gaza, di sebuah negara berdaulat yang terjajah bernama Palestina. Sejak awal kedatangannya pada tahun 1948, Israel sudah mulai merampas lahan dengan lobi dan sering kali juga dengan perang fisik. Hingga saat ini, tahun 2009, lebih dari 60 tahun masa bertamunya, Israel sudah mencaplok habis hampir semua daerah di Palestina. Yang masih didominasi penduduk asli Palestina tinggal daerah tepi barat serta daerah Gaza dan sekitarnya.
Prosedur pencaplokan lahan yang terjadi hingga hari ini, sudah melahirkan tragedi kemanusiaan dari rahim penjajahan. Ribuan nyawa sudah melayang, korban luka tidak kalah banyaknya, bangunan yang rata dengan tanah, sekolah-sekolah yang hancur, bahkan masjid terbakar habis oleh gempuran senjata canggih oleh tentara penjajah.
Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Kalau boleh menganalogikan, kali ini bisa ditambahkan tertimpa tangga yang terbuat dari bahan penyusun Golden Gate. Walaupun analogi itu sama sekali tidak representatif, tapi bisa dibayangkan hal itu sangat menyakitkan, apalagi jika kita mengetahui kondisi sebenarnya yang terjadi di sana. Selain tempat tinggalnya dihancurkan tamu tak diundang, rakyat Palestina sudah sangat lama merasakan kekurangan, baik pangan, sandang, apalagi hak-hak yang seharusnya mereka rasakan sama sekali tidak terpenuhi, seperti sekolah, fasilitas kesehatan dan bahkan tempat ibadah sudah berubah jadi puing. Rakyat Palestina mengalami krisis kebutuhan pokok, pasokan listrik yang tidak memadai, menjadikan penderitaan mereka lengkap sudah. Jelas, yang terjadi sekarang adalah krisis kemanusiaan. Krisis yang merupakan indikator hilangnya kemanusiaan manusia.
Bagaimana dengan suara dunia internasional? Sangat beragam. Ada yang mengecam, ada yang masih bersikeras dengan dukungannya terhadap pembantaian itu atas nama perlawanan terhadap teroris, dan masih tidak sedikit yang hanya diam.
Untuk yang mendukung pembantaian, sampai hari ini mereka membantu kelancaran finansial dan hal lain yang dibutuhkan untuk perang fisik itu. Kalau boleh menganalogikan lagi, bagaimana mungkin sapu kotor penuh debu dapat membersihkan lantai yang katanya kotor, kalaupun dipakai juga, maka sapu itulah yang sebenarnya menjadi pengotor. Atas nama perlawanan terhadap terorisme, sepertinya kurang pas dipakai oleh penjajah Israel tersebut, karena hari ini sudah terlihat, siapa yang sekarang berperan sebagai teroris sesungguhnya. Teroris, seperti makna asalnya, mengganggu ketentraman hidup orang lain.
Untuk yang mengecam tindakan kriminal perang itu, termasuk Indonesia, mereka sudah mulai melakukan usaha lobi perdamaian, paling tidak mengajukan gencatan senjata ke masing-masing pihak. Beberapa negara mengirimkan bantuan logistik, mengajukan pembahasan masalah krisis ini ke Dewan Keamanan PBB, dan masih banyak usaha lain. Tapi bahkan setelah Israel dinobatkan sebagai penjahat perang pun, dan kecaman terus mengalir ke “rekening image” Israel, mereka tetap melakukan bombardir dan limitisasi semua kebutuhan pokok rakyat palestina. Bahkan setelah adanya keputusan DK PBB tentang masalah ini, walaupun sangat lamban dikeluarkan, sama sekali belum ada tanggapan baik dari Israel. Jabatan penjahat perang itu tambah terbukti dengan tambahan tingkah tentara Israel yang menembaki mobil PBB pembawa bantuan logistik untuk rakyat palestina. Hal itu bukan tidak sengaja, apalagi jika dikatakan bahwa mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah mobil pembawa bantuan logistik PBB, karena jelas-jelas lambang besar PBB terpajang di body mobil dengan lampu sorot besar. Dengan adanya kejadian itu, pihak PBB menghentikan, untuk sementara tapi belum pasti sampai kapan, pengiriman bantuan logistik ke lokasi pengungsian Palestina. Jelas sekali konsekuensi logis dari stopping bantuan itu adalah penambahan nama krisis untuk rakyat Palestina, yaitu krisis pangan.
Meningkatkan eksistensinya sebagai penjahat perang, limitisasi yang Israel lakukan tidak hanya pangan, tapi juga pasokan listrik dan BBM. Petugas kesehatan relawan di Palestina mengatakan penanganan korban sangat terhambat dan sulit dilakukan karena hal itu, terutama yang akan menjalani operasi. Bombardir tentara ke pos kesehatan pun menambah dalam luka rakyat Palestina. Pos kesehatan yang ada mulai kewalahan dengan penambahan jumlah korban yang hampir seperti pertumbuhan spora jamur di musim hujan. Tidak sebanding dengan sedikitnya jumlah pos kesehatan.
Jika ditinjau kembali, sepertinya ini pertarungan yang tidak imbang. Mulai dari fasilitas perang, pasokan logistik yang dimonopoli satu pihak, jumlah pasukan yang tidak imbang, tentunya tidak sebanding dengan apa yang dimiliki Palestina. Apalagi, ditemukan fakta bahwa Israel menggunakan fosfor putih.
Menurut literatur, Fosfor putih biasa digunakan dalam amunisi, untuk menandai target dan menghasilkan asap yang membatasi gerakan lawan. Namun, senjata itu bisa mematikan bagi musuh jika mereka terkena langsung. Jika partikel fosfor putih yang panas terkena kulit, akan membakar daging hingga ke dalam tulang. Asam yang berasal dari racun fosfor juga bisa menyebabkan luka dan meracuni seluruh tubuh. Ekspos asap fosfor di udara, bisa menyebabkan kerusakan hati, ginjal, jantung, paru-paru, dan tulang yang akhirnya menyebabkan kematian. Selain fosfor, didapatkan bukti penggunaan uranium oleh tentara Israel.
Tidak itu saja, kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Palestina juga berkemasan penyerangan terhadap warga sipil, wanita dan anak-anak. Israel menggunakan operasi skala besar, yang sangat mudah menjangkau warga sipil. Tidak heran dari 21 hari invasi Israel dari tanggal 27 Desember 2008 lalu, telah jatuh korban lebih dari 1500 jiwa dan lebih dari 5000 jiwa luka-luka. Tidak sedikit, bahkan sebagian besar dari korban adalah anak-anak. Dan itu tidak dibenarkan dalam aturan perang.
Dari semua fakta yang terjadi, maka bisa dikatakan telah terjadi kejahatan kemanusiaan hari ini, telah terjadi penghinaan terhadap HAM yang selama ini sering diperjuangkan mereka, kaum liberalis, termasuk Israel. Karena bukankah pertama kali menginjakkan kaki di tanah Israel mereka mengatasnamakan HAM, bahwa mereka punya hak untuk hidup. Padahal yang terjadi adalah, mereka hidup di atas pembantaian hidup.
Paradigma kita masing-masing menilai konflik apa yang sebenarnya terjadi di Palestina dan beberapa negara timur tengah lainnya mungkin ada yang tidak sama. Ada yang menilai itu merupakan konflik agama, konflik ras, perebutan lahan, perlawanan terhadap terorisme, pencarian senjata pemusnah massal, dan masih banyak paradigma lainnya. Terlepas dari itu semua, saatnya kita bergaung tentang pemenuhan hak asasi manusia yang mengabaikan hak asasi manusia yang lain. Saatnya kita berbicara tentang kemanusiaan yang tergadaikan. Kembalikan HAM pada tahta yang sebenarnya. Saatnya menjadi solusi, bukan cuma berteori. Kita bisa melakukan sesuatu untuk tegaknya kedamaian di bumi. Sehingga jika nanti kedamaian itu datang, kita menjadi orang-orang yang berkontribusi di dalamnya. Hingga ketika kemanusiaan itu kembali bisa ditebus dan dikembalikan, maka kita harus menjadi orang-orang yang berjiwa ”will not go down” untuk memperjuangkannya.

—Unand Award 2009 writing assignment
Daripada cuma berdebu di soft file.

2 thoughts on “What’s going on

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s