Reformasi Farmasis: Revolusi Kualitas

Idealita, merupakan keyakinan yang lahir dari sebuah pemahaman dan paradigma, memiliki landasan, dan merujuk pada “seharusnya”. Idealita merupakan konsep teoritik yang belum tentu diaplikasikan. Sebuah idealita tidak melulu menjadi realita yang ideal. Sedangkan realita merupakan “nyatanya”. Real. Kenyataan. Bisa berupa kondisi konkrit dari sebuah aplikasi teori, bisa saja kondisi konkrit yang sama sekali menyimpang dari teori.

Mengingat namanya, realita, maka ia memberikan celah untuk faktor eksternal mempengaruhinya. Tidak seperti idealita yang bisa dianalogikan sebagai kurva larutan standar hubungan absorban dengan konsentrasi. Yang harus tampil adalah titik-titik ideal yang menunjukkan hubungan linear antara absorban dengan konsentrasi. Namun jika realita, mungkin hanya sekedar kurva hubungan waktu sampling dengan konsentrasi dalam praktikum disolusi. Tidak heran lagi dengan banyaknya faktor galat yang terjadi selama prosesnya, yang pada pembahasan akan ada banyak pemakluman, inilah realita. Realita memberikan banyak celah untuk pemakluman, kemudahan, dan kesalahan. Idealita begitu anti dengan pemakluman dan kesalahan.

Aneh juga melihat kondisi yang seperti membuat realita dan idealita tak tercampurkan. Sampai ada yang beranggapan bahwa realita yang tepat adalah yang tidak ideal. Tapi inilah realitanya. Realita dari sebuah aplikasi yang jauh dari idealita. Bukan karena tidak mengetahui idealitas, namun pada aplikasinya, begitu banyak fines yang mengantarkan dunia kefarmasian pada banyak pemakluman akibat kesalahan praktis.

Sebagai contoh, idealnya seorang farmasis harus menerapkan standar pelayanan kefarmasian. Pada aplikasinya, baru segelintir yang melaksanakan dengan alasan real bahwa imbalan jasa untuk farmasis ideal itu belum sesuai. Anggaplah imbalan yang tidak sesuai tadi adalah faktor eksternal yang menjadikan realitanya tidak ideal. Mari tinjau dari sisi “yang memberikan imbalan”, bagaimana mungkin imbalan akan disesuaikan jika kinerja farmasis belum sesuai. Namun dari sisi farmasis, bagaimana kinerja akan sesuai jika imbalan tidak diperhitungkan. Dari ini semua, semua pihak menunggu. Menunggu ada satu pihak yang menjadi ideal. Pihak “yang memberi imbalan” menunggu farmasis muncul dengan kinerja yang ideal. Farmasis menunggu keseimbangan imbalan tadi, baru bisa bekerja ideal. Tidak bisa dipungkiri, sikap semua pihak yang seperti itu menjadi faktor penghambat perkembangan dunia kefarmasian di indonesia. Pribadi-pribadi yang menjunjung tinggi realitas dalam kondisi demikian akan langsung cepat banting stir ke arah yang lebih “menjamin”, kemudian memilih menjadi profesi farmasi yang tidak bersentuhan langsung dengan pelayanan kefarmasian.

Farmasis, berada di persimpangan. Antara realita dan idealita, pada koordinat tak terdefinisikan. Akibat posisinya inilah eksistensinya seakan samar oleh pandangan. Realita profesi farmasis yang seperti termarginalkan. Masih banyak masyarakat yang tidak tahu apa itu farmasis. Siapa itu farmasis. Dimana farmasis bisa ditemui. Apa gunanya ada farmasis. Mungkin karena belum banyak farmasis yang berani keluar dari balik loket penyerahan obat, tidak banyak farmasis yang sempat menemui klien secara langsung, tidak banyak farmasis yang berperan, tidak sedikit farmasis yang disorientasi profesi, belum banyak farmasis yang eksis. Jika berani menilik, yang membuat realita profesi farmasis seolah terasa pahit ini adalah farmasis sendiri.

Fakta demikian baru satu contoh realita. Tapi tidaklah perlu membahas idealita yang termarginalkan, lalu realita yang tidak ideal, karena belum tentu solutif. Yang sebenarnya membuat farmasis tidak berani menjadi ideal adalah karena pemikiran-pemikiran realistis yang menjadikannya mengesampingkan seven stars of pharmacist. Terlalu banyak menyalahkan keadaan sehingga sering kali lupa introspeksi diri. Terlalu banyak berpikir tentang idealita namun tidak berdaya di bawah naungan realita. Tidak berani melakukan aksi dari diri sendiri, dari yang kecil, dan dari sekarang.

Hal aneh yang membuat gregetan adalah masih banyak yang menunggu peraturan pemerintah yang sudah siap saji diterapkan. Idealnya begitu ada regulasi, langsung dilaksanakan. Namun nyatanya, farmasis pun tidak sedikit yang tidak tahu dengan regulasi, apalagi membuat langkah konkrit penerapannya. Kebingungan bagaimana harus memulai. Lalu mau menunggu sampai kapan? Sampai ada peraturan baru lagi? Penantian tanpa kejelasan ini menandakan Indonesia tidak benar-benar siap berusaha menjadi ideal.

Lalu bagaimana idealitas akan ada jika guidelines-nya saja belum ideal, belum jelas, belum diterapkan, belum berani diterapkan, menjadi teori yang terus menunggu untuk diaplikasikan. Menunggu. Menunggu. Menunggu. Peraturan seolah hanya akan diterapkan untuk generasi baru, belum bisa langsung pada generasi sekarang. Padahal harusnya disadari, bahwa ketika sampai pada generasi mendatang, waktu terus berjalan, generasi baru akan menjadi generasi terdahulu. Lalu menunggu lagi generasi lebih mendatang. Suatu hal yang lucu. Masihkah harus menunggu? Generasi baru mana yang ditunggu? Siapa sebenarnya yang harus berperan dalam perubahan? Perubahan memang menakutkan. Namun dari perubahanlah seonggok tanah liat menjadi mug cantik. Dari perubahanlah seekor ulat menjadi kupu-kupu indah. Dari perubahanlah paradigma baru kefarmasian lahir.

Solusi dari fakta ini adalah farmasis generasi perubahan harus melakukan revolusi kualitas. Perbaikan dan peningkatan kualitas diri. Pelayanan kefarmasian yang ideal, peran farmasis yang dikenal, profesionalisme yang tidak abal-abal, hanya akan terlahir dari tangan-tangan yang ber-visi ideal dan menjadikannya aksi nyata.

Saat teori menjadi aplikasi, saat pribadi-pribadi berorientasi pada karya dan keikhlasan, saat hati-hati kita menjadi peka dengan panggilan bangsa, panggilan kepada farmasis yang berperan, saat itulah tidak perlu lagi kita di persimpangan idealita dan realita. Semuanya akan menjadi realita yang ideal. Menjadi realita yang berada dalam kebaikan. Idealita dan realita, menjadi dua hal yang saling melengkapi; idealita menjadi realita, dan realita tidak bertentangan dengan idealita. Jika idealitas menuntut pada hal yang paripurna, berusahalah menjadi ideal, karena memang tidak ada yang demikian. Dengan berusaha mencapai idealita menjadikan profesi farmasis selalu mendekat pada perbaikan. Berkaryalah wahai farmasis,  tidak perlu mengemis untuk menjadi eksis.

 

PBSA Writing Assignment; Mei 2010.

 

NB: mulai dari diri sendiri. mulai dari sekarang. mulai dari hal kecil.

Pesan sponsor: calon apoteker curang waktu ujian, nggak mungkin banget kan…? apoteker gitu lho…(aammmiiin…)

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s