dibuang sayang

Menjadi dewasa dan cerdas, tidak semuanya ada tips2nya di slide mata kuliah dosen, atau di literatur lain. Tidak juga melulu didapatkan dari training yang tidak jarang diikuti karena “certificate oriented” bahkan datang dengan mata mengantuk dan tidak menghadirkan hati sambil otak diputar gimana caranya bisa kabur di tengah2 acara. Tidak dari sana. tapi mungkin dari hal-hal yang kita anggap sepele. dari celetukan orang yang berbincang di dalam angkot, atau dari kejadian yang Allah perlihatkan kepada kita saat sedang sekedar lewat di sebuah kedai.

Hal sepele, yang mungkin jika diabaikan malah akan berdampak tidak baik. Hal sepele yang jika tidak diambil hikmahnya akan berdampak kita harus mengalaminya berkali-kali sampai dapat hikmahnya.

Pernah suatu hari, saya celingak celinguk di depan loker dosen, mencari loker salah satu dosen, bu netty, pembimbing akademik saya. karena nama dosen di loker itu tidak terlihat, saya juga belum tau dimana letak tulisan namanya, ditambah lagi masih asing dengan suasana ruang administrasi jurusan waktu itu, ya akhirnya berdasarkan asas “malu bertanya, jalan-jalan”, saya bertanya dengan ibu petugas TU yang sedang duduk di sana. Sebagai anak baru, bertanya dengan gaya segan-segan takut. “Bu, loker bu netty yang mana ya bu?”. Tanpa keberatan ibu itu menjawab “Baca aja di sana, ada namanya… Jadi mahasiswa itu harus banyak membaca, bukan banyak bertanya…”,

Brakkkk…! seperti ada kue tart rasa lemon yang ditemplokin ke wajah. okay… sejak saat itu (Trauma), berusaha untuk mencari sendiri dulu, baru bertanya klo mentok… Sebagai anak baru, kan lumayan bikin syok. walaupun tidak selamanya bertanya itu salah. tapi saya jadi berusaha membiasakan diri membaca. Membaca apa saja yang dianggap orang sepele, seperti perintah soal di kertas ujian.

Ada lagi. Sering kali kita mengomentari hal-hal yang tidak perlu dikomentari, bahkan dengan bahasa yang mengesalkan. Kadang juga kurang pas menempatkan diri saat berbicara.

pernah suatu hari, di ruang ujian, saat soal dibagikan, tiba-tiba ada suara lebah. bukan lebah yang menyerbu, tapi komentar beberapa orang yang jadinya bising, yang mengomentari soalnya susah sekali, atau mudah sekali, atau banyak sekali, atau protes “kok gini soalnya”. Fffiuhh…honestly i say it to you, itu mengganggu.

komentar-komentar tadi tidak hanya sampai ke tetangga kiri kanan depan belakang nya saja, tapi terlontar juga ke dosen yang bikin soal. untung aja sang dosen masih sabar, coba klo malah disemprot balik. toh komen2 nggak penting itu nggak bakal mengubah soalnya, malah bikin orang jadi tersugesti klo soal nya susah…

ada lagi…ada lagi,,,

kadang-kadang ada suatu kondisi, dosen bilang “klo sabtu ini kita kuliah gimana?”… jawaban yang keluar malah “ya…nggak bisa bu…”, “jangan…”, bla.. bla..bla… bukan dari 1 orang, tapi hampir separuhnya sehingga bising dan ribut, semuanya ngomong… pernah ada dosen yang bilang “ibu kan nanya, kok langsung dibilang tidak aja?”, maksud ibu itu, secara sebagai mahasiswa, klo emang nggak bisa kuliah sabtu, kemukakan alasannya secara baik-baik, bukan langsung dipatahkan. karena beliau pun nanyanya baik-baik. kan beliau jadi sebel.

pernah juga kita berkomentar bahan ujian terlalu banyak lah,,, kok dosen yang udah kasih ujian pas UTS mau kasih ujian lagi pas UAS…

hal-hal yang klo kita pikirin perasaan dosen2 itu, gimana coba? pernah nggak kita merasa mereka tersakiti dengar komen kita? pantas nggak komen kayak gitu dilontarkan? padahal klo mau, bisa aja sang dosen bilang “yang mau ujian ya ujian, yang nggak mau ya udah, nggak usah..whatever…”. untungnya sang dosen kebanyakan nggak kayak kita, yang mulutnya lebih cepet dari otaknya, cepet banget nyamber mau komen…

pernah lagi waktu ujian sama bu yo, ada yang nanya “bu soal yang terakhir itu dijawab atau nggak?”… dengan santainya ibu jawab “klo mau jawab ya jawab, nggak dijawab juga terserah..”. nah lho… itu pertanyaan juga agak aneh… jelas-jelas ada di kertas soal, ada titik-titik pertanyaannya, ya termasuk soal. klo nggak mau dijawab ya nggak usah.. bener bgt apa kata ibu. beliau ngomongnya sambil senyum yang bisa aja kita anggap bercanda, tapi lebih dalam dari itu, beliau lagi heran. lah kitanya aja yang agak tambeng, nggak ngerasa diherankan.

terus ada lagi, perintah soal. di suatu ujian, sempat pernah syok terapi sama salah satu ibu profesor. jelas-jelas dibikin di bagian atas soal “Berilah tanda silang (x) pada jawaban yang anda anggap benar”. terus ada yang menjawabnya dengan melingkari jawabannya, dilingkarinya..bukan disilang..

di tengah-tengah ujian sang profesor bilang “saya hanya menghitung jawaban yang sesuai dengan perintah soal, disilang. yang lain dari itu, tidak saya periksa”. Nah lho…saya yang dengar jadi lebih berhati-hati, karena waktu itu saya juga nggak baca perintah soal, cuma karena udah kebiasaan menyilang, jadi nggak salah. tapi bisa aja, hari ini kita jadi pendengar aja, besok malah jadi objek penderita gara-gara nggak perhatiin hal-hal kecil gitu.

Mungkin kita mikir, apa salahnya coba diperiksa juga, toh dengan dilingkari masih bisa terlihat mana pilihan kita. tapi pernah nggak kita merasa bahwa itu salah satu cara bikin kita disiplin. ikut aturan main. membaca perintah soal, yang kita anggap remeh temeh. memperhatikan hal-hal kecil.

ada lagi yang menarik, masih dari bu yo. waktu itu beliau bikin di kertas soal “soal dimasukkan ke lembar jawaban”, maksudnya nanti pas ngumpul jawaban, soalnya dikumpul juga, dimasukkan ke lembar jawaban (kertas double folio). Nah…tapi pada praktiknya, tetap aja ibu harus mengingatkan berkali-kali “soalnya masukkan ke jawaban” waktu ada yang ngumpul. berkali-kali. tiap ada yang ngumpul dengan soal dan jawaban dipisah. ibu langsung bilang “baca di soal nya…”. tapi tetap aja, masih ada aja yang nggak ikutin, padahal udah ngumpul belakangan, udah dengar ibu ngomong berkali-kali. Hhhh….jadi dosen emang harus sabar ya…

terus ibunya bilang “sebenarnya sampai di rumah soalnya itu saya buang, untuk apa sama saya soal2 itu, tapi itu untuk mendidik kalian disiplin”. ya…mendidik disiplin dengan hal kecil saja: memasukkan soal ke lembar jawaban sesuai instruksi. tapi itu aja susah..masih banyak yang susah melaksanakannya.

itu dia…

terus ada yang lucu juga. jelas-jelas aturan dekanat klo absen ujian sekarang per lokal, sesuai dengan yang di kartu ujian. jadi jangan salah masuk lokal.

udah dibuat edarannya, udah dibaca, tapi pas pelaksanaannya, ada yang masih salah masuk lokal, sengaja salah masuk karena dari awal ujian sampe terakhir ya salah terus, sengaja masuk kelas lain. nggak tau tujuannya apa. masih kata bu yo “untung aja ibu ni baik, masih mau ibu cari yang belum absen padahal dia salah sendiri masuk lokal lain, tidak di lokal seharusnya..”,

tapi, bisa jadi kita beruntung terus banyak dosen baik, coba klo lagi apes. anggap remeh peraturan jadinya ribet. kayak yang baru aja terjadi hari ini.

ada aturan kartu ujian harus dibawa terus. udah beberapa kali ujian, pengawas dan dosen nggak ada yang periksain kartu ujian, dicuekin aja, yang nggak bawa kartu ujian ya nggak masalah. tapi tau2, hari ini sang bapak dosen tiba2 nanya “mana kartu ujian”, dan beliau kasih paraf di bagian mata kuliahnya. dengan suara tegas beliau bilang “yang tidak membawa kartu ujian hari ini, menghadap saya hari senin, klo tidak, kertas ujiannya tidak saya periksa”. bingo!

hal sepele, bukan?!

iya..emang sepele…

sebenarnya banyak lagi yang aneh-aneh.

sebenarnya saya juga bukan si perfeksionis yang nggak pernah khilaf.

tapi cuma gerah dengan polah kita yang mengaku mahasiswa tapi susah dibilangin.

dan lagi, dengan sengaja bertindak di luar jalur.

pantas saja dengan aturan sebagus apapun sistem di negara kita nggak terasa maju. udah 65 tahun merdeka masih negara berkembang. berkembang aja terus, karena begitu banyak yang nggak bisa diatur. susah…

alangkah lucunya (negeri ini).

mulai dari diri sendiri. mulai dari hal kecil. mulai dari sekarang.

Karena hikmah dari setiap episode hidup, baik yang kita pemeran utamanya atau kita hanya sekedar cameo hanya lewat: dibuang sayang.

pesan sponsor: Buanglah sampah pada tempatnya, please….

thank you.

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s