Stay Here

Sebuah kisah nyata yang datang dari zaman khalifah Abu Bakar As Siddiq, tidak lama setelah Rasulullah SAW wafat.
sebuah gambaran nyata tentang iman, hidayah dan istiqomah.
====================================================================================

Di suatu hari, Rasulullah SAW duduk dikelilingi sejumlah kaum muslimin. Di tengah pembicaraan, Rasulullah termanggut-manggut beberapa saat, kemudian mengarahkan bicaranya kepada semua yang ada di sekelilingnya.

Sesungguhnya, di antara kalian ada seorang laki-laki yang gerahamnya di neraka lebih besar dari gunung uhud.

semua yang hadir dalam majelis tadi dan mendengar pembicaraan Rasulullah diliputi kecemasan, setiap orang dari mereka khawatir jangan-jangan dirinyalah yang akan mendapatkan su’ul khatimah, gerahamnya di neraka lebih besar dari gunung Uhud. sungguh tidak ada yang mau.

Akhirnya, semua yang ada di majelis tadi satu per satu seiring waktu, wafat, syahid di medan perang. yang masih hidup hanyalah Abu Hurairah dan Rajjal bin ‘Unfuwah. Abu Hurairah menjadi sangat takut, khawatir dirinyalah orang yang dimaksud. Namun setelah tabir terkuak, jelaslah siapa yang celaka itu, yaitu Rajjal bin ‘Unfuwah yang keluar dari Islam dan bergabung dengan Musailamah Al-Kadzdzab dan mengakui kenabiannya. Musailamah Al-Kadzdzab adalah orang yang mengaku-ngaku sebagai nabi, setelah Rasulullah wafat, padahal tidak ada nabi setelah Rasulullah SAW.

Ternyata, suatu hari Rajjal bin ‘Unfuwwah menemui Rasulullah SAW, masuk Islam. Setelah itu, ia kembali kepada kaumnya dan tidak pernah datang lagi ke Madinah sampai setelah Rasulullah SAW wafat dan Abu Bakar menjadi khalifah.

Saat itu, Abu Bakar sudah mendengar berita tentang keadaan penduduk Yamamah yang bergabung dengan Musailamah. Rajjal mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar agar dirinya diutus untuk mengembalikan mereka kepada Islam, dan usul itu diterima oleh Khalifah.

Rajjal pun pergi ke Yamamah. Saat menyaksikan jumlah pengikut Musailamah yang begitu banyak, dan yakin mereka pasti akan menang, jiwa khianatnya berbisik untuk bergabung bersama barisan Musailamah Al Kadzdzab. Begitulah, ia keluar dari Islam dan berbalik menyerang Islam, bergabung dengan Musailamah yang mengobral janji-janji kepada pengikutnya.

ternyata, Rajjal jauh lebih berbahaya daripada Musailamah, karena ia menyalahgunakan keislamannya yang lalu, masa-masa hidupnya bersama Rasulullah di Madinah, hafalan alqur’annya yang sudah cukup banyak, dan ditunjuknya ia sebagai utusan khalifah Abu Bakar untuk ke Yamamah. Semua itu disalahgunakan untuk mendukung kekuasaan Musailamah dan mengukuhkan kenabiannya yang palsu.

Jumlah pengikut Musailamah semakin banyak dengan bantuan kebohongan-kebohongan Rajjal.

Sepak terjang Rajjal menyulut kemarahan kaum muslimin di Madinah. Rajjal telah menyesatkan banyak orang dan secara otomatis memperluas daerah peperangan yang mau tak mau harus diterjuni kaum muslimin.

Pada akhirnya Rajjal tewas di peristiwa Yamamah, menggentarkan Musailamah dan pasukannya, membuktikan kenabiannya adalah palsu.

Membangkitkan semangat kaum muslimin, menambah keyakinan bahwa Islam adalah jalan yang benar. Tidak ada Nabi setelah Rasulullah…

(disadur dari buku 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW; dari Khalid Muhammad Khalid; dengan penyesuaian bahasa seperlunya)

========================================================================================

Betapa miris, bagaimana bisa seorang yang beriman kepada Allah, begitu dekat dengan Rasulullah serta langsung melihat keteladanannya, seorang yang merasa dirinya cukup “kuat” untuk menjadi duta ke Yamamh untuk memanggil kembali mereka yang tertipu dan tersesat oleh nabi palsu?

ternyata Bisa saja…

karena tidak ada jaminan kadar ketaatan kepada Allah dan rasul akan konstan selamanya sampai ajal menjemput.

karena tidak ada jaminan hati kita terus yakin akan balasan Allah bagi mereka yang berjuang di jalan-Nya.

karena tidak ada jaminan diri ini masih akan terus takut akan murka Allah atas polah kita.

Tapi berusaha menjaga iman, berusaha menjaga hidayah, berusaha untuk istiqomah, kita berusaha saja.

berusaha saja…

berusaha saja…

Memang tidak mungkin mudah.

bukankah tidak mudah berjalan di gurun pasir disertai angin kencang dan deburan badai pasirnya? Ya… tidak mudah. Tapi kulihat mereka berjalan pada jarak yang berdekatan, berjalan bersama-sama untuk menambah daya dorong untuk melawan tekanan angin. kulihat di sana, meski berat, mereka tetap bersama-sama berusaha.

Bukankah tidak mudah menjaga diri ketika sendiri? Tapi telah kau dengar, bahwa menjaga amal ketika sendiri adalah latihan keikhlasan, dan lihatlah, saat kau kira kau sendiri, sesunggunya Allah mengawasi.

Bukankah bentuk molekul, yang berikatan lebih mudah diabsorbsi dan menembus membran daripada bentuk ion yang bergerak sendiri-sendiri dengan muatannya masing-masing? bentuk ion akan sulit menembus membran. anggaplah membran adalah “ujian”. maka tetaplah menjadi molekul bersama molekul lain, dan jemputlah ion-ion untuk menjadi molekul kembali.

iman memang tak dapat diwarisi, ia naik dan turun,, menjaganya agar tidak takabbur saat naik, dan tetap dapat menjaga diri untuk perbaikan di kala turun, bukan pekerjaan remeh. Tapi akankah kita menyerah dan membiarkannya turun?
Hidayah, menjaga dan tidak menyia-nyiakan hidayah Allah bukan pekerjaan sepele dan bahkan terasa seperti “titipan” yang sewaktu-waktu bisa saja diambil kembali. Tapi akankah kita biarkan hidayah itu hilang?
dan istiqomah, terkesan menjadi sebuah pilihan, untuk istiqomah atau tidak. tidak mudah. tapi akankah kita memilih tidak dengan mudahnya tanpa berusaha mencari alasan pendukung dan solusi problem agar bisa berusaha istiqomah?

“Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu perkataan tentang Islam, yang tidak akan saya tanyakan kepada seorang pun selain engkau.” Beliau bersabda, “Katakanlah amantubillah (aku beriman kepada Allah), lalu istiqomah-lah”. (HR. Muslim)

Semoga kita tetap bersama-sama di sini.

Wahai diri, tetaplah di sini.

Ya Allah yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati hamba dalam agama dan ketaatan kepada-Mu.

Jadikanlah hamba ingat dengan manisnya ridho-Mu saat hamba sedang marah, kesal, dan lelah dengan kelelahan di jalan-Mu yang membuat hamba ingin berbalik saja. Ingatkankan hamba selalu ya Allah…

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s