dulu dan setelahnya

dulu klo nggak punya duit, ya biasa aja. tapi klo udah biasa punya duit aja, sekalinya nggak ada duit jadi kelabakan.
dulu klo nggak punya handphone, ya biasa aja. tapi klo udah punya hp, sehari aja nggak bawa hp, ketinggalan nih misalnya, kayak ketinggalan apa gitu…resah dan gelisah…
dulu nggak punya motor, nggak punya kebiasaan atau kepikiran untuk keluar malam. tapi klo udah punya aja, ada-ada aja momennya dipake buat keluar malam, katanya “kan ada motor”.
dulu nggak punya jejaring sosial, jarang banget ngomong yang nggak penting. tapi sejak ada tempat berbagi gitu, tiap hari cuap2, sebentar aja nggak ganti status udah gimana gitu rasanya.
dulu nggak punya BB, biasa aja. tapi sejak punya BB, sekarang BB mau diblokir, hidupnya kayak sengsara banget, ribut sana sini, protes, kayak hidupnya suram tanpa BB.
dulu waktu masih pas-pas-an, makan di warung pinggir jalan, pke baju sederhana, sepatu sederhana, de el el yang biasa aja ya biasa aja. tapi sejak gaul sama yang gaul berduit, ikutin gaya mereka yang juga borjuis, jadi males banget klo pke sepatu yang belinya di kaki lima, kudu yang ber-merk, baju kudu yang dijual di distro, makan ya harus di tempat makan bonafit lah, n pesenan nya kudu yang nggak murah juga.

dulu tidak ada fasilitas komunikasi segencar sekarang, hijab terjaga dengan baik, kinerja tim pun terkendali.
kemudian datang handphone yang bisa telfon dan sms, informasi cepat tersampaikan. ya…yang perlu-perlu saja.
kemudian, semakin banyak yang menggunakan, dan tersadari, bisa juga digunakan tidak untuk yang perlu-perlu saja. lalu, berbagi cerita pada waktu yang tidak tepat dan orang yang tidak pas menjadi biasa saja. kemudian, di era keterbukaan ini, sudah banyak arena keterbukaan, hijab pun menjadi compang camping. “say hai” di sana pun jadi biasa saja. “tertawa” berlebihan bersama-sama via keyboard pun menjadi tidak masalah. silaturahim katanya. lagi, memajang foto yang tidak perlu dan tanpa maksud jelas serta tidak penting pun menjadi “that’s my right”. begitu berbeda antara dia di dunia nyata dengan dia di dunia maya.

dulu dan setelahnya…
menjadi semakin aneh saja.
tidaklah peduli jika kau katakan ini hal cabang yang ada banyak “excuse” untuk melakukannya, tapi hati-hatilah jika “pokok” terlanjur terabaikan.
na’uzubillahiminzalik.

5 thoughts on “dulu dan setelahnya

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s