Penunggu Nagari di Awal Ramadhan

Sudah dari Ramadhan tahun 2007, 1428 Hijriyah, ia berada di nagari urang.

Beranjak dari perjuangan mencapai cita, berlabuhlah ia di sebuah negeri “kota tercinta, kujaga dan kubela”.

Namun di 2010, 1431 Hijriyah, ia berjumpa Ramadhan di negeri lain lagi.

Sebenarnya ya tidak istimewa,

biasa saja… hehe…

1 Ramadhan 1431 H:

… lelah rasanya merampungkan program pertandingan voli. sebelum azan maghrib, beranjak pulang lah tiga orang mahasiswa yang notabene tidak berdarah minang sama sekali. kesamaan galur yang menjadikan tiga orang ini merelakan diri untuk tidak kemana-mana alias meninggalkan lokasi KKN pada awal ramadhan. Alasan “mengawali puasa Ramadhan bersama keluarga” tidak akan diterima jika mereka lontarkan kepada orang lain, karena keluarganya pada jauh-jauh.

yah…beginilah cerita anak rantau.

Dari 24 mahasiswa yang bertugas di nagari ini, tersisa 3 orang yang akan menyelesaikan “hutang” pertandingan voli tadi. 10 Agustus 2010, dijadwalkan pertandingan final-nya.

Mahasuci Allah yang telah menakdirkan komposisi kelompok yang seperti ini, paling tidak ada penunggu nagari ketika teman-teman lain pulang untuk berpuasa pertama bersama keluarganya. dan mereka bertiga ikut gembira karena mereka sudah sangat mengetahui gimana rasanya ketika harus ber-ramadhan jauh dari keluarga, cukup membuat mata nanar untuk beberapa saat.

… ari: seorang mahasiswa keturunan medan dengan marga “Marpaung” ini menjadi satu-satunya pria tersisa dari 7 orang yang berada di nagari ini. kita tidak akan tahu mahasiswa pertanian ini keturunan medan jika bukan karena marganya itu, karena dia lahir dan besar di pekanbaru. weleh-weleh… tapi never mind, bukan masalah, yang jelas menurut pengakuannya, dan seingat dia, tidak ada keluarganya yang berasal dari ranah minang. dalam cerita ini, ari akan menjadi objek penderita karena memang dia jadi menderita. udahlah laki-laki sendirian, terus ada tragedi juga yang membuatnya harus menahan lapar karena “nyangkut” bersama pemuda jorong-nya saat azan maghrib membahana. hehe… tapi nanti ya ceritanya. ini baru preambule.

…puput: nama aslinya tidak mengandung unsur nama panggilannya. sudah menjadi ciri khas beliau, ketika memperkenalkan diri, orang yang memperhatikan akan bertanya “lho, puput nya darimana”, dan aku akan senyum-senyum sendiri melihat ekspresi si empunya nama. hehe… Tokoh kita yang satu ini berasal dari NAD, tepatnya dari banda aceh. Beberapa hari yang lalu ortu-nya ngirimin makanan khas aceh, Asam Kemamah, yang rasanya muantabbb… enak euy, asam-asam pedas, ditambah gurih serpihan daging ikan yang disangrai kering. Hmmm… enak…

Hei… hei… kok jadi ngomongin makanan… lagi puasa euy!

…dian: pemeran yang ketiga dari petualangan ini lahir dan besar di kota yang Bersih, Aman, Rapi, dan Indah (BARI). Bingo! tepat sekali, yaitu dari kota Palembang. Berhubung tidak terlalu banyak catatan yang diterima redaksi tentangnya, ya jadi tidak banyak-banyak dituliskan. tapi ya begitulah adanya, sama seperti dua orang sebelumnya, dia tidak punya darah minang, kecuali menurut ibunda-nya bahwa kakeknya pernah menuntut ilmu di perguruan thawalib, dan ayahnya dulu pernah merantau ke kota padang. ternyata ada juga benang merahnya sampe di kota padang. gitu deh…

nah…

berhubung udah sore, ceritanya dilanjutkan kapan-kapan ya…

2 thoughts on “Penunggu Nagari di Awal Ramadhan

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s