senandung limau manis: cerita bermula

Kamis, 22 Juli 2010.

terik…

tapi harus memberantas kemalasan.

harus segera bangkit mempersiapkan perjalanan ke batusangkar, 15-20 menit dari nagari ini.

diiringi dengan semangat mengingat saudara-saudara luar biasa yang akan ditemui di sana nanti, ternyata kangen juga sama mereka…

Bismillahi tawakkaltu ‘ala Allah Laa Haula wa laa quwwata illa billah…

santai berjalan meninggalkan rumah gadang, villa ku di nagari ini.

dari kejauhan tampak seorang anak kecil sedang duduk menangis di bawah pohon pisang disamping hamparan kulit manis yang sedang dijemur.

awalnya aku ragu mendekati, karena eror otak ini sempat terlintas “beneran orang bukan ya..jangan-jangan….”, hehehe…ini akibat cerita ni anggi tentang orang bunian yang masih terngiang-ngiang di kepala.

tapi kuberanikan juga mendekat.

seorang anak kecil berpakaian putih-putih.

rambut acak-acakan.

sedang menangis.

kuajak ia pulang, dan masih menangis ia bangkit menunjukkan arah rumahnya.

ternyata arah rumahnya memasuki jalan kecil di sebelah parak, dekat dengan rumah gadang tadi.

ku ikuti ia yang berjalan di depanku sambil sesekali ku ajak bicara.

“emang mama-nya kemana dek?udah ya.. jangan nangis lagi…”

ia menjawab sesenggukan “ama ka sawah…rumah bakunci…huuuu..huuu…”.

dijawab pun sambil menangis.

akhirnya sampai di rumahnya, yang memang terkunci dari luar.

ia menangis sambil memegangi perutnya.

sepertinya ia lapar.

lalu kucari sesuatu di dalam tas ranselku yang kadang-kadang menyimpan benda yang dibutuhkan sewaktu-waktu,,, hehe… seperti kantong doraemon.

alhamdulillah kudapati limau manis (jeruk-red) yang kemarin diberi oleh saudariku, puput, yang masih kusimpan di dalam tas. lupa dimakan.

kuberikan pada anak itu. cepat disambarnya limau manis itu dan mau langsung dikulitinya.

namun tangannya bergetar, seperti kulit limau itu tebal sekali.

mungkin karena pengaruh lapar dan lemas,

maka kubantu ia mengupas limau.

segera dimakannya dengan lahap limau itu.

bahkan biji jeruknya pun tak bersisa.

selintas aku bingung kenapa pula si ibu meninggalkan anaknya sendirian.

dikunci dari luar pula.

analisa kecilku mengurai mungkin saja si adik ini bermain entah kemana ketika si ibu harus pergi ke suatu tempat.

jadi tidak sempat mencari, dan tidak mungkin meninggalkan rumah dalam kondisi tidak terkunci.

dan si adik kecil, kelaparan karena memang sudah waktunya makan siang.

waktu menunjukkan pukul 14.15.

tentunya aku tidak lupa dengan misi utama untuk pergi ke batusangkar yang dijadwalkan pukul 14.30.

duh…akan terlambat.

awalnya ingin kutinggalkan saja si adik di depan rumahnya, namun tak tega.

di detik-detik akhir sudah tidak tahan menunggu, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara motor dan si adik berkata “itu ama…”.

ternyata benar sekali. seorang bapak, ibu, dan satu orang anak kecil yang wajahnya mirip dengan si adik tadi datang menghampiri dengan motornya.

sebersit wajah si ibu heran melihatku.

mungkin karena melihat orang asing di depan rumahnya bersama anaknya pula.

mungkin juga ditambah dengan kostum yang kupakai, jilbab hitam, rok hitam, baju kurung warna bata, dengan jaket hitam.

wuih…kebanyakan hitamnya.

tapi kusambut si ibu dengan senyuman manis yang disambut pula dengan senyumannya.

kuceritakanlah kejadian tadi dari awal.

lalu aku berpamitan sambil menyisakan senyum,

betapa bahagianya aku siang ini.

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s