Nyasar membawa berkah

hal kurang baik yang terjadi pada diri, (dalam cerita kali ini ia kita sebut “nyasar), ternyata dapat menjadi berkah ketika dikemas dalam positive thinking.

menjadi sebuah pengalaman menyenangkan.

apapun yang terjadi, sungguh tidak akan ada gunanya jika bukan kita mencari hikmah.

sama seperti ketika nasi menjadi bubur, jangan menyalahkan periuk yang bukan magic com, atau menyalahkan si tukang masak, atau menyalahkan air yang kebanyakan, atau malah jadi bad mood gara-gara harus kembali menahan lapar dan emosi jiwa. tapi marilah kita cari tepung sagu dan terigu, campurkan saja, tambahkan bumbu semaunya, terus direbus lalu digoreng (ini resep pempek tanpa ikan, tapi enak lho…).

begitu juga dengan tragedi nyasar.

bukan nyasar juga sebenarnya, hanya saja salah naik mobil. hehe…

hikmahnya: malu bertanya, jalan-jalan..

tapi tidak masalah.

malah menjadi anugerah, berpetualang di batusangkar karenanya.

begini ceritanya.

kamis, 29 Juli 2010.

seperti biasa, menjadi hari terpilih.

bukan saja karena kamis terpilih menjadi hari balai alias pasar di batusangkar, tetapi juga karena  selama KKN (Kuliah Kerja Nyata) berlangsung, kamis terpilih menjadi hari berkumpulnya para peserta tarbiyah dan saudara di jalan Allah untuk mengikuti kegiatan yang menambah wawasan diri.

ceritanya ini berlokasi di kabupaten tanah datar. maka saya harus berangkat dari nagari tabek patah kecamatan salimpaung (lokasi KKN) untuk menuju markas dakwah di simpang asrama batusangkar.

minggu lalu dengan tragedi yang hampir serupa (diceritakan nanti aja ya..), saya berangkat dengan kendaraan umum berwarna biru. tetapi kali ini, saya naik kendaraan yang datang dari bukittinggi, karena dapat info dari teman, semua kendaraan umum akan “nge-tem” di pasar.

nah… waktu telah menunjukkan pukul 12.33 WIB. gontai melangkah bersama teman-teman mahasiswa KKN di nagari tabek patah, beringsut meninggalkan kantor walinagari, baru kelar rapat neh…

sebenarnya pertemuan di markas ntu pukul 14.30, tapi saya berencana untuk mencari ATM dulu, jadi maunya berangkat lebih cepat.

setelah mengucapkan “see you” kepada teman-teman, saya berjalan santai ditemani bayangan dan payung putih (karena matahari lagi garang) menuju masjid nurul hidayah untuk sholat zuhur.

sholat zuhur deh…

….

….

….

nah..setelah sholat zuhur, saya siap-siap melanjutkan perjalanan, berjalan lagi sambil menyapa bapak-bapak yang juga baru kelar sholat.

terus saya menunggu kendaraan di depan masjid tadi.

lama menunggu, mobil biru tak kunjung tiba.

akhirnya ada mobil warna putih, yang ternyata dari bukittinggi, menghampiri dan sang supir berkata “ka sangka, diak?”.

saya pun menjawab “iyo pak..”

sang bapak menjawab lagi “naiak lah…”

pas mencari posisi pas untuk duduk, ada seorang bapak yang bertanya “turun dima?”, saya jawab “pasa, pak…”. si bapak jawab “o…”.

dalam hati ada prasangka positif, “hmmm….kayaknya ini mobil emang sampe pasar deh…kan ntu bapak nggak kaget atau komplen apa-apa”.

sambil melihat pemandangan hamparan sawah dan gunung sago saya duduk manis dalam mobil. kadang-kadang harus turun dulu ketika ada orang yang mau turun, maklum,,, duduk di  dekat pintu. wajib bersedia jadi kondektur dadakan. hehe….

sesampainya di simpang asrama, ada ibu-ibu yang turun, disambut oleh tukang ojeg yang bilang “pasa, buk…pasa, buk…”.

saya pun rada mikir, jangan-jangan emang ini mobil nggak sampe pasar..

tapi masih dengan gaya bocah petualang berpikiran positif aja terus.

ternyata eh ternyata, dari simpang asrama si mobil belok kanan, kemudian masuk terus sampai wilayah yang entah dimana,,,

tiba-tiba sang supir teriak “terminal abis…”,

kemudian di luar banyak kondektur bus yang berteriak “padang…padang…”,

oh no… ternyata saya sudah sampai terminal..

weleh..weleh…

tapi tetap dengan gaya bolang, turun mobil, membayar ongkos, lalu mencari pangkalan ojeg terdekat. seorang bapak menawarkan “ojeg, diak?”.

oke..saya pun naik ojeg setelah mengatakan tujuan ke pasar.

sampai di daerah pasar, entah dimana harus turun. jalan aja terus sampai dari kejauhan terlihat neon-box bertuliskan “ATM 24 Jam”, “BNI 46″…

horeeeee…..

akhirnya dapat juga ATM nya…

lalu dengan sumringah saya bilang “di siko se, pak…”.

kemudian ojeg menepi.

setelah membayar ongkos, saya menyebrangi jalan menuju ATM, masih dengan sumringah…

bahagianya…

setelah ambil “pitih”, saya berjalan-jalan sebentar di pasar batusangkar. ada yang jual pernak-pernik, aneka kerupuk, baju, sayur, buah, de le le.

terus cari makan siang.

semua dijalani tetap dengan sumringah…

kemudian waktu menunjukkan pukul 14.13.

saatnya berangkat ke markas dakwah tanah datar.

sampe deh…

di sana ketemu sama saudari saya yang baru saja menggenapkan separuh diin-nya. banyak cerita-cerita deh. ia pun bertanya kenapa saya senyum-senyum terus.

ya…karena sebenarnya nyasar akibat tidak bertanya itu sesuatu yang lucu…

tapi tak apalah…

toh saya tidak bertanya bukan karena malu atau gengsi, tapi karena takut kalau orang itu mengetahui saya bukan orang daerah sana. berhati-hati aja karena pergi sendirian.

hehe…

demikianlah cerita nggak jelas dari saya.

garing ya? hohoho…

tapi nggak apa-apa…

ambillah hikmah dari semua kisah.

sampai jumpa di kisah selanjutnya…

do’a-in aja semoga bisa ada waktu untuk nge-net…

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s