Introduction: Teknik Evaluasi Bioaktifitas

Dosen: Bapak Prof. Dr. Helmi Arifin, MS., Apt


Teknik Evaluasi Bioaktifitas (TEB) membahas teknik pengujian aktifitas suatu senyawa, yang dalam bidang farmasi difokuskan pada pengujian obat atau calon obat, baik secara in vivo, in vitro, maupun in situ. dalam pengujian ini, variabel, metoda, dan instrumen yang digunakan haruslah dapat meminimalisasi faktor eksternal yang akan mempengaruhi hasil pengujian. Oleh karena itu, biasanya ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, baik dari aspek fasilitas yang digunakan, maupun objek percobaan. Obat atau calon obat yang akan diuji juga perlu dilakukan pencatatan karakteristik. Pada prinsipnya, semua prosedur yang dilakukan harus terukur, dan tercatat, agar jika dilakukan kembali percobaan yang sama dengan kondisi yang sama, akan didapatkan hasil yang tidak berbeda.

>> Kandang Hewan:

–          Terjaga bersih

–          Ada penerangan sinar yang cukup

–          Suhu terkontrol

–          Terdapat ethouse van (penyerap bau udara ke luar ruangan)

–          Terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan

–          Mempunyai saluran air yang membantu dalam membersihkan kandang

–          Dindingnya licin

–          Lotengnya tidak menyimpan debu

–          Ventilasi udara cukup

–          Mempunyai banyak bilik untuk memisahkan jenis-jenis hewan.

–          Ada perlengkapan P3K

>> Hewan percobaan yang biasa digunakan:

Mencit, Tikus, Marmut, Kelinci, Kucing, Anjing, Kera, Katak

>> Obat atau calon obat biasanya diberikan kepada hewan dengan berbagai rute, yaitu:

Per oral, intraperitoneal, subcutan, intramuscular, intravena, intratekal, intracerebrospinal.

>> Pengujian dalam TEB, ada 2 jenis, yaitu yang bersifat kuratif dan preventif.

Kuratif– menyembuhkan–>  keadaan hewan percobaan dibuat abnormal, lalu dilihat efek penyembuhannya setelah pemberian sampel.

Contoh: untuk pengujian calon obat antihipertensi, awalnya hewan dijadikan hipertensi. Lalu berikan sampel, amati perubahan tekanan darah setelah pemberian sampel.

Preventif–mencegah–>hewan diberi sampel  terlebih dahulu, kemudian induksi hewan menjadi kondisi abnormal, amati keparahan yang timbul setelah pemberian obat.

Contoh: untuk pengujian calon obat antihipertensi, awalnya hewan diberi sampel, kemudian induksi agar hewan menjadi hipertensi, amati bagaimana peningkatan tekanan darah hewan.

Tentunya digunakan kontrol dalam percobaan.

>> Cairan yang sering digunakan dalam pengujian aktifitas:

–          Normal saline: larutan 0,9% dalam air; isotonis; tidak toksik untuk injeksi.

–          Aquadestilata; tidak boleh untuk intravena

–          Dimethylsulfoxide ; baik untuk ekstrak yang tidak larut air; iritable, toxicable.

–          Polyethylene glycol-200: toksik untuk i.p.

–          Propylene glycol: toksik juga

–          Ethanol: toksik, iritan (injeksi)

–          Larutan sterol: untuk ekstrak yang tidak dapat digunakan dengan saline, toksisitas rendah.

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s