Fabiayyi aala irobbikuma tukadzziban…(Maka nikmat-Nya yang manakah yang kamu dustakan)

Rasa syukur itu, jauh lebih instan hilangnya dibandingkan rasa sakit, terutama sakit hati,

tidak lebih menyita waktu daripada rasa cinta, hari ini,kita kembali berjalan di bumi ciptaan-Nya..

merasakan matahari yang panasnya pas, panas, tapi tidak sampai mematikan..

hei…matamu masih bisa membaca note ini, kalau begitu, siapa yang menciptakan sel- konus dan sel2 batang di bola mata mu hingga ia bisa menampilkan keindahan dan warna-warni dunia kepadamu.

hei..rasakan itu, jantung mu berdetak…

lalu siapa yang mengatur katup itu?
adakah manusia?

adakah teknologi?

wah…lihat dirimu tersenyum…

sungguh menyenangkan, lalu darimana rasa senang itu?

adakah nia dinata atau mira lesmana yang mengatur adegannya?

ketika menjalani hari2, detik2 dan setiap momen hidup di dunia ini, di alam, sesungguhnya otak kita berjumpa dengan ayat Allah..
kampus universitas andalas yang berbukit-bukit,

adakah manusia yang membentuknya seperti anak2 yang membuat istana di pasir?

pantai air manis dengan pasirnya yang terhampar..

siapa yang menciptakannya, siapa yang menghamparkannya?

siapa yang mengatur airnya hingga tidak sampai meluap itu?

maka di sanalah mereka mengantarkan kita kepada jawaban “ALLAHU AKBAR”..

So, syukurilah itu, bukan hanya sekedar berteriak-teriak kegirangan,

tertawa senang, bersenda gurau dan having fun..

karena semua itu sia2..

akan hilang segera setelah menjauh dari lokasi.
tapi yang luar biasa adalah jika kita berhasil membawa “oleh-oleh” yang akan mengantarkan kita menjadi manusia yang lebih baik,

manusia yang senantiasa bersyukur, yang selalu mengeksiskan cahaya Rabb kita di dalam hati, bukan cuma ketika masalah duniawi melanda,

tapi juga ketika nikmat-Nya kembali kita kecap…

karena Dia selalu ada..

dan bersama-Nya tak perlu uang sewa..
berkonsultasi dengan-Nya, tidak seperti mengatur jadwal dengan dokter,

tapi everytime, kapanpun kita bisa “keep in touch”, karena Dia menunggu hamba-Nya meminta kepada-Nya…

Allah Maha Pencemburu, yang akan cemburu jika kita lebih mementingkan hal lain daripada mengadu kepada-Nya.

begitu banyak nikmat-Nya,

mungkin itulah latar belakang ditemukannya bilangan tak hingga.
ketika ahli matematika itu mencoba menghitung kebaikan yang didapatkannya di dunia ini.

nikmat-Nya yang manakah yang ‘kan kau dustakan, bila kau bernafas dengan udara-Nya,
nikmat-Nya yang manakah yang ‘kan kau dustakan, bila engkau hidup dengan Rezeki-Nya..

Fabiayyi ala irobbikuma tukadzziban…(ar Rahman:13)


wrote: May 2nd, 2009

Note of site: Facebook; dian.peewee@yahoo.com

Tinggalkan balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s